Toleransi dalam Keharmonisan (Nyepi dan Ramadhan)

Oleh Dr. Ahdar, M.Pd

Sebentar lagi kita akan menyambut Ramadhan dengan kegembiraan , suka cita, dan Bahagia. Tentu juga kita Lelah banyak persiapan lahir dan batin menyambut bulan karim, bulan pengampunan, bulan penuh berkah dan bulan yang lebih baik dari seribu bulan.

Pada tahun ini ada yang menarik di awal Ramadhan, insya Allah Ramadhan jatuh pada tanggal 11 Maret 2024, bertepatan dengan Hari Nyepi hari besar Agama Hindu yang di tandai dengan menjaga keheningan selama 24 jam, juga ada istilah amati geni yakni mematikan penerangan atau lampu.

Berdiam diri dan tidak bekerja serta tidak di bolehkan bepergian. Di sisi lain umat Islam akan khusyu, dan bahagia menyambut puasa dan tarawih. Dua ibadah dari dua agama yang berbeda ritual jatuh pada waktu yang bersamaan.

Perbedaan dari dua agama ini akan menjadi sebuah pondasi dan power kuat dalam toleransi beragama untuk tetap menjaga keharmonisan untuk saling menhargai dan menhormati satu sama lain.

Dua kata kunci yakni toleransi dan keharmonisan yang harus di jaga oleh dua agama yang berbeda ini sehingga semua nyaman dalam beribadah.

Ada yang menarik dan takjub kita dengan perayaan Nyepi, (khusus di kota Bali) kota yang mayoritas Umat Hindu yakni keheningan dan ketenangan terlihat.

Umat hindu seluruhnya akan menghentikan segala aktivitasnya dan duduk dalam keheningan dan ketenangan dalam rumah mereka masing masing.

Hirup pikup kendaraan juga tidak nampak karena mereka harus meluangkan waktu untuk merenung selama 24 jam untuk memperbaiki diri mereka ke depan.

Bahkan bandara pun harus ditutup demi menghormati hari nyepi, kendaraan semua bebas dari kemacetan.

Bagi umat Islam Ramadhan adalah bulan yang di tunggu tunggu, bahkan setelah memasuki bulan Syaban dan Rajab umat Islam telah mempersiapkan segalanya untuk menyambut bulan suci ini.

Selama 30 hari akan di gunakan untuk ibadah, yakni shalat, puasa, tadarus, sedekah, tarawih, infak dan zakat semua ibadah ini harus di laksanakan dengan khusu dami meraih predikat umat yang bertakwa.

Refleksi diri dan introspeksi diri dari segala perbuatan dan perkataan telah menjadi symbol persamaan yang jelas dari perayaan nyepi dan Ramadhan.

Keduanya menuntut umatnya untuk bisa merenungkan diri atas segala dosa dan noda yang telah di lakukan demi untuk menggapai sebuah derajat yang tinggi di sisi Tuhan.

Dan tentu tujuannya juga sama mengajarkan umat nya dalam kesederhanaan dan kerendahan hati. Nah kalau begitu perbedaan ada pada sisi apa?

Perbedaannya hanya nampak pada ritual mereka masing masing dalam beribadah.
Meskipun memiliki perbedaan yang jelas, Nyepi dan Ramadhan sebenarnya memiliki beberapa persamaan.

Keduanya merupakan waktu untuk introspeksi dan refleksi diri, serta merupakan waktu untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan.

Selain itu, keduanya juga mengajarkan nilai-nilai seperti kesederhanaan, kerendahan hati, dan kebersamaan.

Perbedaan Nyepi dan Ramadhan seakan-akan menjadi sebuah kekuatan yang mempersatukan umat beragama di Indonesia.

Melalui toleransi dan keharmonisan, umat beragama dapat saling menghargai dan menghormati perbedaan satu sama lain.

Di artikel selanjutnya, kita akan membahas tentang pentingnya toleransi dalam perbedaan dan bagaimana kita dapat membangun keharmonisan dalam perbedaan.

Kita semua tahu bahwa Indonesia adalah negara yang beragam, baik dari segi budaya, agama, bahasa, dan lain-lain.

Dalam keberagaman tersebut, toleransi menjadi salah satu hal yang sangat penting untuk dijaga.

Toleransi adalah sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan, serta mampu bertoleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya toleransi dalam perbedaan terlihat jelas dalam perayaan Nyepi dan Ramadhan yang bersamaan.

Meskipun umat beragama memiliki ritual yang berbeda, mereka tetap saling menghormati dan menghargai perbedaan satu sama lain.

Tanpa toleransi, perayaan Nyepi dan Ramadhan mungkin tidak akan berjalan dengan harmonis dan damai seperti yang terjadi di Indonesia.

Toleransi juga merupakan kunci dalam membangun keharmonisan dalam perbedaan. Ketika kita mampu bertoleransi, kita dapat menghindari konflik dan perselisihan yang terjadi akibat perbedaan.

Sebaliknya, toleransi dapat membawa harmoni dan kebahagiaan dalam keberagaman yang ada.
Maka dari itu, penting bagi kita semua untuk terus menjaga dan meningkatkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Kita dapat memulainya dengan menghargai perbedaan dan memahami bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan.

Kita juga dapat saling membantu dan bekerja sama dalam membangun kesetaraan dan keadilan bagi semua orang, tanpa memandang agama, suku, dan ras. (*)

Penulis adalah Kapro Tadris IPS IAIN Parepare

__Terbit pada
6 Maret 2024
__Kategori
ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *