NAPAK TILAS SELEPAS MAGRIB KE GUA HIRA

Oleh : Ibrahim Fattah

Sekitar jam 18.00, sore, sehari sebelum pulang ke tanah air, kami berempat (saya sendiri, Pak saiful Mahsan, Pak Arifin Wahid dan Pak Mallawa), berdiri di depan hotel.

Tepat di pinggir jalan, mobil taksi-pun singgah. Setelah bernegosiasi biaya, akhirnya kami berempat masuk ke dalam mobil.

Perjalanan hanya sekitar 15 menit, mobil sudah tiba di kaki gunung/jabal nur.

Azan Magrib terdengar menggema di masjid setelah kami tiba di kaki gunung/Jabal Nur. Kita sholat magrib dulu baru lanjut jalan, kata Pak Saiful Mahsan.

Kami berempat turun dari mobil langsung menuju Mesjid. Ada dua Masjid di kaki gunung/Jabal Nur.

Satu yang kami tempati sholat Magrib, di bagian bawah kaki gunung dan satu lagi di puncak kaki gunung/Jabal Nur.

Setelah sholat Magrib, perjalanan dimulai. Sejak mulai melangkahkan kaki di kaki gunung, pendakian sudah menanjak.

Akses ke Gua Hira, pengunjung melewati anak tangga. Trik yang saya gunakan bersama tiga jamaah lainnya, setiap 30-an anak tangga, kita istirahat sejenak.

Saya tidak menghitung berapa kali saya singgah beristirahat baru bisa berhasil tiba di puncak.

Di sekitar pertengahan perjalanan, ada penjual minuman khas lokal. Bahannya dari jeruk berukuran kecil ditambah air minum, rasanya sangat enak dan harum.

Dibutuhkan nyali besar untuk mencapai puncak, anak tangganya tidak sempat saya hitung, yang jelas, banyak sekali.

Di pertengahan tersebut, saya menengok ke atas puncak gunung/Jabal Nur. Wah masih sangat jauh puncak gunung dari tempat saya, sambil menikmati minuman berbahan jeruk itu.

Nafas saya ngos-ngosan jika sudah melewati 30-an anak tangga. Kerja jantung harus dikondisikan antara semangat tiba di puncak dengan kemampuan fisik.

Saya perhatikan jumlah pengunjung sangat banyak, baik yang sedang naik maupun yang sudah pulang.

Ternyata semakin malam semakin ramai pengunjung. Maklum udara Makkah sangat panas di siang hari.

Langkah demi langkah, akhirnya kami berempat tiba di puncak gunung/Jabal Nur.

Sepanjang perjalanan melewati anak tangga, kita harus selalu berhati-hati mengatur langkah, tidak perlu terpengaruh dengan pengunjung lain yang langkahnya lebih panjang.

Menariknya, banyak juga emma-emma yang berani mendaki meski lebih sering beristirahat.

Setelah tiba di puncak gunung/Jabal Nur, ternyata gua hira itu kita masih perlu menelusuri lagi anak tangga, jalan menurun sekitar 20-an meter.

Ada dua pintu gua hira. Pintu pertama hanya sebagai akses menuju gua hira. Setelah itu barulah pengunjung betul-betul bisa melihat lokasi gua hira.

Di depan gua hira, banyak pengunjung menunggu antre untuk masuk di dalamnya.

Kapasitasnya hanya bisa memuat 2 orang. Satu orang bisa sholat berdiri dan satu orang lagi hanya bisa sholat duduk.

Saya kebagian tempat di sebelah kanan, hanya bisa sholat sunat 2 rakaat dengan cara duduk. Ternyata Gua Hira itu sangat sempit, normalnya memang hanya untuk satu orang saja.

Bisa dibayangkan bagaimana cara bergeraknya Rasul ketika berada di Gua Hira, pada saat menerima ayat pertama, Iqra.

Di depan tempat duduk setelah saya sholat sunnat dua rakaat, saya perhatikan ada lubang yang bisa melihat ke luar.

Disitulah Rasul menatap Kota Makkah. Waktu sholat sunnat sangat dibatasi. Ada 1 orang yang berperan sebagai penjaga waktu.

Begitu saya sudah salam usai sholat sunat, saya langsung diminta keluar oleh penjaga waktu.

Spontan saja saya manfaatkan sujud syukur sambil mengecup batu tempat sujud saya.

Sholat Isya di luar Gua Hira, saya berinisiatif menjadi Muazin. Tempat sholat di atas batu-batu besar.

Antara imam dan makmum tidak seperti di Masjid yang posisinya beraturan. Tetapi saya rasakan sholat yang sangat bermakna malam itu.

Setelah sholat Isya, saya manfaatkan momen itu untuk berkontemplasi. Saya baru bisa duduk tafakur, berzikir, itupun waktunya terbatas karena pengunjung lain juga mau sholat Isya.

Kunjungan ke Gua Hira, terkesan nekad karena hanya sehari sebelum pulang ke tanah air.

Alhamdulillah jamaah haji kloter 4, semua pulang dalam keadaan sehat dan bertemu kembali dengan keluarganya.
Semoga kelak, pembaca menyusul dipanggil pula Allah datang ke tanah suci-Nya. (*)

__Terbit pada
10 Juli 2023
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *