Suhu 47 Derajat, JCH Ziarah ke Magam Rasulullah

Ibrahim Fattah Melaporkan dari Madinah

Hari Kamis, 1 Juni 2023, jemaah calon haji (JCH) kloter 4 Parepare dan Bulukumba, mendapat kesempatan berziarah ke maqam Rasulullah di Raodah, Masjid Nabawi.

Disamping Maqam Rasulullah, ada maqam sahabat dan sekaligus mertua beliau, yaitu Abu Bakar As Sidiq dan Umar Bin Khattab. Kedua sahabat ini semasa hidupnya, setia menemaninya dalam memperjuangkan Islam.

Rombongan perempuan berziarah jam 8 pagi. rombongan JCH laki-laki, berziarah jam 5 sore. Untuk masuk di maqam Rasulullah di Raodah , bukan perkara mudah karena semua JCH dari berbagai Negara, memiliki harapan yang sama, mau berziarah di maqam Rasulullah.

Namun masalahnya, antrean sangat panjang dengan suhu panas yang sangat menyengat, 47 derajat.

Sehari sebelumnya Pak Syaiful Mahsan, ketua kloter 4, sudah menyampaikan informasi kepada semua ketua rombongan bahwa jadwal berziarah ke maqam Rasulullah merupakan program Kementerian Agama RI.

Kunjungan tersebut disertai dengan surat izin dari pengelola maqam Rasulullah, disebut tasreh. Program ziarah ini merupakan program resmi Kementerian Agama.

Saya tidak punya informasi seperti apa proses yang dilalui rombongan perempuan, sejak berangkat dari hotel sampai masuk di area maqam Rasulullah.

Kalau rombongan laki-laki yang tidak bisa berjalan kaki karena faktor usia, pemerintah menyiapkan kursi roda. Titik kumpul sebelum berangkat ke Raodah, sudah ditetapkan, yaitu di sekitar pintu 8 Masjid Nabawi.

Perencanaan yang sudah matang ternyata di lapangan bisa berubah. Saya dan beberapa JCH tiba di pintu 8 sekitar pukul 3 waktu Madina, jamaah sholat ashar sudah berjubel di semua shaf.

Saya perhatikan sebagian JCH Parepare yang tiba lebih duluan, duduk terpencar. Mudah menandainya, ada shal warna pinknya. Sedangkan JCH Bulukumba memakai shal warna hijau.

JCH yang lain yang juga tidak dapat tempat di semua shaf, berinisiatif maju berjalan kea rah Raoda, tetapi juga shaf sudah pada penuh.

Dalam hati saya merasa bersalah atas keterlambatan saya tiba di Masjid Nabawi lebih awal. Sementara azan sholat ashar sudah berkumandang. Padahal hari-hari sebelumnya saya selalu tiba di Masjid Nabawi sebelum jam 3.

Dalam kondisi kritis tersebut, saya dan beberapa JCH Parepare yang terlambat, terpaksa harus terpencar mencari tempat meski shaf sudah penuh.

Langkah yang paling realistis saya ambil yaitu meminta iba jamaah yang sudah duduk lebih duluan agar berkenan memberi tempat meski hanya berhimpitan. Ada yang merespon baik, tetapi ada juga yang menutup jalan.

Respon jemaah yang baik dan yang menolak atas permintaan tempat duduk, berlaku hukum kausalitas, hukum sebab akibat.

Jika selama ini kita mudah memberi tempat bagi jamaah yang butuh tempat duduk, maka hasilnya kita juga mudah mendapat tempat.

Sebaliknya jika kita menyulitkan jamaah yang butuh tempat, maka suatu waktu akan mendapat kesulitan pula.

Semoga JCH kloter 4 selalu dalam keadaaan sehat selama menjalankan rangkaian ibadah haji. Labbaikallah Humma Labbaik… .Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah. (*)

__Terbit pada
1 Juni 2023
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *