Mohon Maaf lahir Batin

Bulan Ramadan itu tempat menabur benih-benih kebaikan. Ramadan, ladang amal ibadah. Ramadan, tempat berbagi dengan sesama.

Oleh : Hairil Ar

Ramadan, madrasah menguji iman bagi umat beriman. Saat Ramadan, semua kebaikan bernilai ibadah dan pahalanya berlipat ganda.

Di penghujung Ramadan ini, mari muhasabah diri agar kita mendapat predikat taqwa.

Ramadan dan lebaran datang serta pergi, setiap tahun. Semoga kita dipertemukan Ramadan berikutnya.

Saatnya bercermin pada diri sendiri, sebelum ibadah kita dihisap, kelak.

Jangan gadai amalan Ramadan dengan sifat ketidakjujuran dan kesewenangan. Berkata dan berbuat jujur memang sulit, terkadang orang di sekitar kita menjadi marah.

Kejujuran kadang tidak menjanjikan kemewahan, tetapi selalu memberi kedamaian qalbu (baca hati).

Saat ini, sikap jujur, bukan menjadi pedoman utama bagi sebagian umat, tetapi kejujuran selalu memberi kenikmatan, berupa ketenangan hidup.

Sikap jujur tak selalu berakhir indah, tetapi jujur selalu diujikan dan diamalkan.

Jujur terkadang terasa susah, tetapi bisa diamalkan. Sifat jujur janganlah lekang.

Berkata benar muka belakang, jujur itu ikhlas, agar hidupmu tidak kecewa (Gus Mus).

Puasa orang beriman diterima, jika mampu menundukkan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadan. Mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan.

Semoga di hari fitri ini, kita mendapatkan penghargaan luar biasa. Yakni rahmat, magfirah, dan ampunan.

Penghargaan itu diuji setelah Ramadan. Apakah kesalehan individu dan sosial kita meningkat?

Saatnya kita merajut tali silaturahmi, saling memaafkan dan memberi maaf. Selama Ramadan, kita sukses melawan nafsu duniawi, mengerjakan yang halal. Semoga setelah Ramadan, hal-hal yang dilarang atau haram tidak dikerjakan.

Idulfitri sebagai ajang merefleksi diri agar mendekatkan diri pada Sang Pencipta alam dan segala isinya agar kita mampu mengasah kepekaan sosial di tengah-tengah masyarakat.

*****
Setelah berpuasa, ujian menjaga lisan dan perbuatan baik kita kepada sesama baru dimulai.

Mari kita belajar pada lebah. Lebah selalu melihat dan mencium yang baik. Meski berada di tempat kotor dan busuk. Selalu mencari yang baik.

Berbeda dengan lalat, meski berada di tempat bersih, mata dan hidungnya selalu mengendus bau busuk.

Lalu bagaimana dengan mata, telinga, dan hidung kita? Semoga mata kita tetap menatap yang baik-baik.

Hidung kita mencium yang harum. Telinga kita mendengar yang baik. Ujian sesungguhnya baru dimulai. Jagalah kebersihan mata, hidung, mulut dan telinga kita.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Selamat Hari Raya Idulfitri, semoga segala amal ibadah kita diterima Allah SWT, aamiin. (*)

__Terbit pada
21 April 2023
__Kategori
ESAI, Lifestyle, Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *