Fenomena Gerhana Matahari Hibrid dan Kisah Gerhana di Masa Lalu

Gerhana itu, fenomena alam biasa. Terjadi saat bulan menghalangi cahaya matahari sampai ke bumi. Cahaya matahari tidak utuh sampai di bumi. Hanya sebagian sampai bumi.

Gerhana matahari terjadi ketika matahari, bulan dan bumi tepat satu garis. Gerhana matahari terjadi karena bulan dan bumi bergerak pada orbit masing-masing.

Pada saat tertentu berada pada garis lurus. Peristiwa alam ini mengantar kita selalu berpikir tentang beredarnya benda-benda langit.

Semua tunduk pada kuasa Allah sebagai sunatullah. Inilah salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.

****
Gerhana matahari hibrida terjadi hari ini, 20 April 2023. Fenomena membuat langit menjadi gelap di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di bagian timur.

Gerhana matahari hibrida terjadi karena matahari mengalami dua fase sekaligus, yaitu fase cincin dan fase total.

Di Indonesia, Gerhana Matahari Hibrid disaksikan di Papua, Papua Barat, dan Maluku. Daerah lainnya mengalami gerhana matahari sebagian.

Mengapa Gerhana Matahari Hibrid Terjadi?

Gerhana Matahari Hibrid terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi tepat berada di garis yang sama, lalu membuat tempat tertentu terjadi peristiwa piringan bulan yang teramati dari bumi lebih kecil dari piringan matahari.

Kemudian, di tempat tertentu, terjadi peristiwa piringan bulan yang teramati dari bumi sama dengan piringan matahari.

Fenomena ini mengakibatkan suatu tempat tertentu yang saat terjadi puncak gerhana, matahari akan tampak seperti cincin, yakni bagian tengahnya terlihat gelap dan bagian pinggirnya terlihat terang.

Di tempat tertentu, Matahari seolah menutupi bulan. Gerhana Matahari Hibrid terdiri dari dua tipe gerhana, yaitu Gerhana Matahari Cincin (GMC) dan Gerhana Matahari Total (GMT).

Ada tiga macam bayangan bulan yang terbentuk saat GMH, yaitu antumbra, penumbra, dan umbra. Wilayah yang terlewati antumbra, gerhana yang teramati berupa Gerhana Matahari Cincin.

“Wilayah yang terkena penumbra, teramati berupa Gerhana Matahari Sebagian. Lalu daerah tertentu lainnya yang terlewati umbra, gerhana teramati berupa Gerhana Matahari Total,” tulis BMKG dalam sebuah laporan.

****
Telah kami riwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari Muslim, dari Aisyah ra. Bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,” Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.’

Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang.

Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah SWT, bertakbirlah dan bersedekahlah.

“Maha suci Allah. Segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan, melainkan Allah. Allah Yang Maha Besar.”

Gerhana 1983
Gerhana ini mengingatkan saya, gerhana matahari total tahun 1983. Tak banyak yang bisa diingat dari gerhana 40 tahun silam itu.

Di kampung saya, gerhana matahari saat itu, disambut dengan rasa was-was, ketakutan, dan sedikit mencekam.

Tidak ada penjual kacamata, tidak ada turis datang menyaksikan peristiwa langkah itu.

Warga baru paham peristiwa tahun 1983 itu, di saat jutaan pasang mata tertuju pada peristiwa gerhana matahari total, Rabu 9 Maret 2016. Yah gerhana matahari total terjadi.

Saat itu, warga hanya bisa menyaksikan siaran televisi yang masih berwarna hitam dan putih melalui siaran TVRI dan RRI.

Sehari sebelum gerhana, Ibu telah menyiapkan konsumsi gerhana berupa buras dan bajabu (makanan khas bugis yang terbuat dari kelapa), serta penganan lainnya.

Saat gerhana terjadi kami berkumpul bersama di rumah. Di saat sinar mentari perlahan mulai gelap, semua beranjak menuju peraduan.

Tak ada kata yang terucap selama suasana gelap, yang ada hanya ketakutan dan kecemasan.

Kami takut, jika matahari tak bisa menerangi bumi lagi dan datanglah bencana kematian. Suara ayam berkokok terdengar di ranting pohon. Suasana gelap. Perasaan baru sedikit lega kembali di saat lesung ditalu.

Gerhana berlalu, pergi bersama burasa, bajabu, dan sejumlah penganan lainnya.

Saat ini, gerhana sangat berbeda dengan 40 tahun silam, disambut suka cita, tak ada rasa takut.

Sebagian warga menggunakan kacamata dan helm memandang sang surya, menyaksikan bentuk gerhana.

Mitos dan ketakutan sudah berlalu. Anak-anak di berbagai tempat tak lagi bersembunyi, tak lagi merasa cemas.

“Bentuknya seperti bulan sabit,” kata Isya menggunakan kacamata khusus. (*)

Ini penampakan gerhana matahari Hibrid https://youtube.com/shorts/ZuyiZ5UHhRM?feature=share

__Terbit pada
20 April 2023
__Kategori
Ramadhan, Sains

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *