WORKSHP SCOPING LANJUTAN, KONSOLIDASI UNTUK MENCAPAI TARGET

Oleh : Ibrahim Fattah.

Hari ketiga, tanggal 7 September 2022, sudah hari terakhir. Agendanya koordinasi dengan lembaga mitra untuk memprediksi target capaian sampai bulan Desember 2022.

Koordinasi ini menyatukan kekuatan untuk mencapai target proposal BaKTI pada tahun pertama (2022).

Mentari pagi di hari ketiga, tampak lebih cerah, memberi energi meski sebagian peserta hanya bisa menikmatinya di lantai 6 Hotel Amelia, ketika sedang sarapan pagi dan makan siang.

Tepat jam 9 pagi peserta Workshop sudah masuk di ruangan workshop, Pak Topan (Monev and Learning Inklusi BaKTI) sudah lebih awal tiba, bersiap-siap memfasilitasi konsolidasi lembaga mitra.

Saya usul kepada Pak Topan, agar kegiatan diawali Senam Maumere. Ibu Damaris meresponnya, sambil membuka laptopnya mencari file video Senam Maumere.

Ayo berdiri maju ke depan, ajak Pak Topan kepada peserta. Senam Maumere pun dimulai mengawali sesi pagi. Meski gerakan peserta tak beraturan sesuai tayangan video.

Pak Topan memulai fasilitasinya dengan penyamaan persepsi tentang partisipan disertai contoh. Si A staf OPD, dia difabel, diutus kantornya menghadiri acara penandatanganan MoU, dicatat sebagai 1 OPD.

Kemudian pada kegiatan berikutnya, si A hadir lagi mengikuti Workshop Desain Program, mewakili OPD-nya, maka sudah tercatat 2 OPD sebagai partisipan kegiatan Inklusi meski dihadiri orang yang sama.

Si A sebagai orang yang diutus oleh OPD menghadiri 2 kegiatan Inklusi, tidak masuk kategori doble acunting. Si A tetap berhak mendapatkan dua kali biaya transportasi lokal dari lembaga.

Pada Proposal BaKTI telah menetapkan 8 indikator capaian sampai bulan Desember 2022.

1) Penandatanganan MoU lembaga mitra dengan Pemda dan DPRD, 2) Jumlah KK yang dibentuk/direvitalisasi, 3) Jumlah penanganan kasus, 4) Peningkatan kapasitas aparat Pemda dan anggota DPRD, 5) Jumlah forum media, 6) Jumlah minoritas yang mendapat layanan, 7) Jumlah berita media, 8) BaKTI menandatangani MoU dengan Perguruan Tinggi (Unhas).

Ibu Lusi menegaskan kepada lembaga mitra, semua kegiatan yang sudah dianggarkan agar segera dilaksanakan. Kalau tidak dilaksanakan, dikhawatirkan dianggap bukan kebutuhan lembaga.

Bagaimana dengan kegiatan yang sudah dilaksanakan tetapi ada sisa anggarannya?. “Jangan buat kegiatan baru atau jangan ada kegiatan yang tidak ada kode budgetnya,” kata Ibu Lusi.

Ajukan usulan kegiatan tindaklanjut dari kegiatan yang telah difasilitasi. Misalnya ada sisa anggaran pembentukan/revitalisasi KK, bisa ditindaklanjuti dengan pendataan disabilitas, DTKS, dll.

Sedangkan kegiatan MoU dan Desain Program Pemda dan DPRD yang masih ada sisa anggarannya, bisa ditindaklanjuti dengan Technical Assintance/Mentoring kepada OPD teknis atau kepada anggota DPRD.

Anggaran sekretariat KK yang tidak habis. Bisa dibuatkan sosialisasi KK tingkat kecamatan sambil ada sesi penyerahan SK Kades/Lurah dan penyerahan dukungan Program Inklusi-BaKTI terhadap sekretariat KK.

Pihak yang diundang yaitu Camat, OPD terkait, anggota DPRD dari daerah pemilihan tersebut. Jadi selain ajang sosialisasi KK, KK juga bisa menyerahkan data disablitas, DTKS, dll. Ini suatu momen yang baik.

Setelah tiba di daerah masing-masing, segera ajukan daftar kegiatan triwulan Oktober-Desember 2022, batas waktunya sampai pertengahan September, sambil Tim BaKTI membenahi proposal tahun 2023.

Jika ada sisa anggaran operasional, lembaga dapat mengusulkannya menjadi anggaran kegiatan program. Sebaliknya anggaran kegiatan tidak boleh dijadikan sebagai anggaran operasional.

Pak Octa (Finance BaKTI) mengingatkan lembaga mitra agar setiap bulan membuat progress serapan anggaran vs actual sehingga dapat diketahui kondisi anggaran (tracking), maksimalkan serapannya.

Perlu dibangun kesepahaman antara staf program dan staf keuangan/admin lembaga tentang dinamika kegiatan dan penggunaan anggarannya. Kadang-kadang tidak sesuai antara rencana dan realisasinya.

Di dalam ToR dan RAB kegiatan direncanakan 30 peserta tetapi pada hari “H” hanya 25 orang yang datang. Solusinya, staf program memberi penjelasan tertulis agar staf keuangan paham kondisinya.

Jika kesepahaman ini tidak terbangun, berpotensi terjadi konflik internal tim program. Masing-masing punya argumentasi yang kuat sehingga perlu ada penjelasan tertulis kepada Finance Inklusi-BaKTI.

Saya menganalogikan, staf program itu ibarat pesawat jet, terbang zigzag sesuai kondisi yang dihadapi. Sedangkan staf keuangan ibarat pesawat boeing, serba terencana dan harus jelas kemana tujuannya.

Agenda berikutnya yang dibahas yaitu pendataan dan metodenya. Pak Topan memaparkan agar setiap lembaga segera melakukan pendataan sesuai format yang telah dikirimkan. Pedomani format itu.

Pendataan itu melibatkan KK, mereka lebih tahu kondisi wilayahnya. Anggarannya dicantumkan dalam ToR dan RAB. Kode anggaran pendataan ini gunakan kegiatan pembentukan/revitalisasi KK.

Saya mengusulkan ada pendataan secara partisipatif, melibatkan masyarakat dengan metode Partisipatory Rural Apraisal (PRA). Metode ini bisa direplikasi di desa/kelurahan lain oleh Pemda.

Usul ini belum tepat dilaksanakan saat ini karena program sudah membutuhkan data itu untuk segera dikomunikasikan kepada OPD pemberi layanan sosial inklusi. Demikian penjelasan Ibu Lusi.

Ibu Lusi meminta informasi dari lebaga mitra, berapa Perda dan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota, yang direncanakan oleh daerah pada tahun 2023?. Terdapat 2-4 Perda dan Perbup/Perwali tiap daerah.

Pada sesi terakhir, Ibu Lusi mengundang Direktur BaKTI, Pak Yusran tampil ke depan memberi kata sambutan sekaligus menutup Workshop Scoping Lanjutan Disain Program Inklusi-BaKTI.

Pak Yusran mengapresiasi partisipasi peserta dari lembaga mitra, antusias mengikuti workshop 3 hari. Kita bekerja harus hati ikut senang. Kalimat ini memberi inspirasi, peserta senang mendengarnya.

Jika ada orang yang bertanya tentang hasil pekerjaan kita, maka kita bisa menjelaskan kepada orang itu dengan senang pula. Saya bergumam dalam hati membenarkan kata sambutan Pak Yusran tersebut.

Pak Yusran tak lupa menegaskan, teman-teman lembaga mitra cukup foku7s capai output. Nanti BaKTI yang akan capai outcome. Tidak ada outcome jika tidak ada ouput dari teman-teman lembaga mitra.

Acara ditutup dengan foto bersama. Perpisahan dengan berjabak tangan satu sama lain dan saling mendoakan semoga semua peserta Workshop Scoping Lanjutan, selamat tiba di daerah masing-masing. (*)

__Terbit pada
8 September 2022
__Kategori
ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.