DUA HAL MENARIK DARI KKN UM PAREPARE DI KECAMATAN CURIO

Oleh : Ibrahim Fattah, Dekan Fakultas Hukum UM Parepare.

Jika tak ada aral melintang, maka peserta KKN Universitas Muhammadiyah Parpare akan berakhir. Pihak kampus secara resmi menarik seluruh peserta KKN Sabtu, tanggal 3 September 2022.

Mendahului penarikan itu, peserta KKN di Kecamatan Curio mengadakan Seminar Hasil dan Penarikan Secara Simbolis. Kecamatan Curio adalah berbatasan Enrekang dan Kabupaten Tana Toraja.

Seminar hasil diawali seremonial pembukaan. Dihadiri Camat Curio dan tiga dosesn UM Parepare, Pak Amri (LPPM), Pak Sudirman (DPL KKN) dan saya sebagai Pembimbing Kecamatan Curio.

Pesan dan kesan peserta KKN, diwakili oleh Ismail Arafah, Prodi BPI. Selama kita ikut KKN, kita belajar hidup mandiri dan bagaimana berinteraksi dengan masyarakat sehingga kita mengetahui dinamikanya.

Saya mengapresiasi Kades Pebalorang dengan pantun. Beliau menyuguhkan duren dalam jumlah banyak pada saat saya dan Pak Sudirman tiba di rumahnya, Posko KKN.

Tiba malam – malam di Posko Desa Pebalorang
Dijamu Pak Kades dengan duren yang sungguh nikmat
Peserta KKN UMPAR belajar bermasyarakat hidup mandiri
Semoga Pak Kades dan peserta KKN sukses dan berkah

Belum selesai menikmati duren. Shaddam, Korcam Curio, memberi informasi kepada saya bahwa Pak Dusun Liba, Desa Parombean mengundang makan malam. Saya sudah makan malam, kata saya.

Shaddam terus meyakinkan agar saya dan Pak Sudirman merespon undangan Pak Kadus. Disepakatilah bahwa hanya datang makan malam kemudian menginapnya di Posko Desa Curio. Ini pantun saya.

Bareng bareng semalam ke Posko Desa Parombean
Angin malamnya sungguh sejuk dan berkesan
Meski jalanny ada sebagian yang berlubang dan jelek
Tapi suguhan ayam kampung pak kadus yang tak bisa terlupakan

Saya mengantar sambutan bahwa kita patut bersyukur kepada Allah yang telah memberikan sinar mentari pagi yang begitu sejuk, sinarnya sungguh lembut, semoga mendung pagi ini membawa berkah.

Mentari pagi ini semoga sebuah isyarat alam bahwa penarikan KKN hari ini bukan akhir segalanya. Besok mentari pagi muncul lagi, setelah KKN tahun ini, insya Allah tahun depan ada lagi KKN disini.

Saya berpesan bahwa setelah kalian ditarik dari Kecamatan Curio, jangan lupakan kecamatan ini karena disini kalian mendapat pembelajaran menyelesaikan masalah sebelum terjun ke masyarakat.

Sambutan Camat Curio, Bapak Muhammad Sainal, sarat dengan pesan da’wah. Beliau mengutip banyak ayat Al-Qur’an untuk memotivasi peserta KKN agar menjadi sarjana yang berkarakter muslim.

Pak Camat berharap agar peserta KKN selalu melekat dihatinya kata CURIO. Kata CURIO ini akronim dari lima huruf yang dirumuskan sendiri oleh Pak Camat dan beliau paparkan saat sambutan, yaitu :

Cerdas, sekolah terus untuk menjadi generasi pelanjut
Unggul, ada kelebihan yang dibanggakan
karaKter, berakhlak mulia dan disiplin dalam beraktivitas
Inovatif, gagasan perubahan untuk lebih baik
Ikhlas, syarat utama diterimanya amal ibadah.

Sesi Penilaian Seminar Hasil Program KKN. Setiap Koordinator Desa tampil mempresentasikan program kerjanya yang telah terealisasi selama kegiatan KKN yang tersebar di 11 desa se Kecamatan Curio.

Presentasi program kerja KKN oleh 11 Kordes, 1 diantaranya perempuan. jumlah peserta 86 mahasiswa. Perempuan 45 orang, laki-laki 41 orang. Tim penilai Pak Amri (LPPM), dan saya (Pembimbing Kec. Curio).

Kriteria penilaiannya yaitu teknik presentasi, penguasaan materi, kemampuan megemukakan pendapat, sistimatika penyajian, metode pelaksanaan program kerja, kesesuaian kebutuhan lokasi. pengembangan wawasan masyarakat, dan manfaat bagi masyarakat.

Setiap kriteria ada jumlah bobotnya dalam persentase, kemudian diberikan skor yang ditulis berdasarkan penilaian Tim Penilai. Untuk mendapatkan total nilainya yaitu skor dikali bobot.

Penilaian saya, teknik presentasi semua Kordes sudah baik dan meyakinkan, meski masih ada yang tampil tergesa-gesa dan intonasi suara yang tidak beraturan. Umumnya tidak kikuk saat tampil.

Berani tampil presentasi di forum merupakan modal utama yang sangat bermanfaat ketika mereka sudah menyelesaikan studi. Keterampilan ini sudah sesuai konsep MBKM.

Saya ikut menikmati jika ada presenter yang keseleo lidah atau salah sebut kata, peserta lainnya spontan meledek disertai tawa canda. Itulah spontanitas mahasiswa yang sedang mencari jati diri.

Ada hal menarik pada momen HUT RI, peserta KKN UM Parepare di Kecamatan Curio berkolaborasi dengan peserta KKN Unhas untuk mengorganiisr masyarakat dalam kegiatan perlombaan Agustusan.

Kolabarasi dua kampus ini, peserta KKN UM Parepare bisa beraktualisasi di tengah masyarakat bahwa PTS dan PTN, tidak ada perbedaannya, keduanya setara, punya kesempatan yang sama.

Program lain yang menarik bagi saya adalah Training Center Leadhersip bagi pelajar. Kegiatan ini bagus jika pada KKN berikutnya dijadikan sebagai kegiatan wajib atau dilembagakan sebagai ciri khas KKN UMPAR.

Ilmu kepemimpinan bagi pelajar di desa sangat penting terlebih jika disertai dengan pengetahuan akhlak, ibadah dan aqidah. KKN UM Parepare sangat perlu membangun karakter anak di lokasi KKN.

Usul saya ke LPPM agar peserta KKN UMPAR tahun depan sebelum ke lokasi diawali ToT. Peserta KKN dilatih menerapkaan modul Training Center Taruna Melati I Ikatan Pelajar Muhammadiyah (TC TM I IPM).

Sebelum TC TM I IPM ditutup, dibentuk Panitia Pelaksana sebagai luaran yang akan mengorganisir calon peserta pada tahun berikutnya. Panitia ini sebagai mitra peserta KKN di desa masing-masing pada tahun berikutnya.

Waktu pengkaderannya bisa dimulai setiap jam 3 sore selama 5 hari. Kita berharap KKN UMPAR berkontribusi mencetak kader IPM yang kelak akan menjadi kader Persyarikatan, kader umat dan kader bangsa. (*)

__Terbit pada
31 Agustus 2022
__Kategori
ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.