Pak, Lima Dikali Nol itu Nol atau Lima?

Rabu, 24 Agustus 2022, Tuan Guru bangun lebih pagi, menikmati  secangkir ramuan jahe merah hangat. Maklum, Tuan Guru harus mengajar enam jam.

Pewaktu menunjukkan pukul 07.00, Tuan Guru bergegas menuju sekolah. Sohib bertugas pagi itu menyambut anak didik dengan ramah. Mereka menyapanya dengan senyum.

“Apa kabar Nak,” tanya sohib, sambil merapikan baju anak didiknya.

“Alhamdulillah, baik Bu,” jawab anak didik, sambil mengarahkan ke lapangan bersiap mengikuti apel pagi.

“Jangan gampang terprovokasi. Jangan ikut tawuran. Merugikan diri dan orang lain,” nasihat pagi itu.

Tuan Guru menunggu di kelas, hari ini mengajar Pesawat Sederhana. Pesawat sederhana itu, alat yang mempermudah pekerjaan manusia.

Tuan Guru perkenalkan beberapa istilah terlebih dahulu, memudahkan memahami pesawat sederhana. Pertama, titik tumpu, yaitu titik yang menjadi tumpuan beban dan tetap.

Kedua, titik beban, yaitu tempat melekatnya beban. Ketiga, titik kuasa, yaitu tempat diberikannya gaya kuasa.

Selain itu, Tuan Guru perkenalkan jenis pesawat sederhana. Pesawat Sederhana itu ada tiga, yakni pengungkit atau tuas, bidang miring, dan katrol.

Kemudian, Tuan Guru membagikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Tuan Guru menjelaskan tips pengisian LKPD.

“Pak, lima dikali nol itu nol atau lima,” tanya peserta didik, sambil mengerjakan lember kerja.

“Nol Nak,” jawab Tuan Guru tersenyum.

“Semua bilangan dikali nol itu hasilnya nol,” kata Tuan Guru meyakinkan anak didiknya.

Usai mengajar Tuan Guru dan sohib diskusi. Khawatir anak didiknya mengalami lost learning.

Tuan Guru dan sohib menilai lost learning terjadi selama dua tahun, proses pengajaran tidak berjalan normal akibat pandemi Covid-19 mendera.

Selama dua tahun, tak ada tatap muka dengan guru, pengawasan anak didik sepenuhnya dikendalikan orang tua.

Pembelajaran jarak jauh di seluruh dunia kurang efektif. Tuan Guru dan sohib sadar, konektivitas pembelajaran tatap muka maya belum bisa diandalkan.

Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, dikutip kemendikbud.go.id, learning loss itu hilangnya kesempatan anak didik belajar.

Kini, interaksi guru dengan peserta didik harus ditingkatkan, menambal kekurangan pengetahuan selama pandemi.

Tuan Guru dan sohib khawatir learning loss ini, berdampak pada kemampuan intelektual anak dan kecakapan dalam hidupnya di masa depan.

Jika tidak diatasi, maka berisiko terhadap earning atau pendapatan, kelak ia bekerja.

Kompetensi peserta didik juga dikhawatirkan jeblok dan tidak bisa bersaing di dunia kerja.

Learning loss itu tantangan sekolah, guru, dan orang tua agar bisa lebih kreatif, inovatif, adaptif, dan kolaboratif, sehingga learning loss bisa dihindari.

Tuan Guru dan sohib sering membaca nasihat Ki Hajar Dewantara, semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah.

Ia mengajak anak didiknya membiasakan aktivitas membaca agar selalu berpikir logis. (*)

Ilustrasi/gambar belajar (kompas.com)

__Terbit pada
24 Agustus 2022
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *