Mereka Selalu Bertanya Kelebihan Saya, Bukan Kekurangan

Senin 15 Agustus 2022, pewaktu baru menunjukkan pukul 8.10 wita, cuaca cukup sejuk. Langit mendung, saya bergegas menuju kantor Kelurahan Wattang Soreang, Kecamatan Soreang, Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Sappe Angka

Laporan: Sappe Angka, Staf YLP2EM)

Ingin mengikuti pembentukan dan penguatan Kelompok Konstituen (KK) pada program Inklusi. Program Inklusi itu program kerjasama antara Australia dan Indonesia sebagai solusi kesejahteraan masyarakat.

Jarak rumah saya dengan kantor Kelurahan Wattang Soreang, sekitar satu kilometer (km). Ditempuh 5 menit dengan mengendrai sepeda motor.

Saat tiba di kantor kelurahan, sebagian peserta sudah ada menunggu. Bersiap mengikuti penguatan KK. Saat saya memarkir motor, terdengar suara samar, memanggilku. Suara itu, tidak asing di telingaku.

“Puang Appe…. Ettana denengka tisiruntu (apa kabar Puang Appe lama tidak pernah berjumpa),” teriaknya.

Saya menoleh ke arah suara dan menghampirinya. Ibu Kaminang, sudah menunggu di kantor kelurahan.

Ibu Kaminang turun dari kursinya, dia berdiri menggunakan lututnya, menyambutku. Maklum, saya sudah lama tidak bersua dengn Ibu Kaminang.

Ibu Kaminang itu difabel, memiliki akses terbatas. Kaki sebelah kiri sudah diamputasi. Ibu Kaminang, tak pernah mengeluh, dia menjalani aktivitas tanpa membebani orang lain.

Kesehariannya bekerja sebagai buruh cuci. Dia jabat erat tanganku dan saya memeluknya. Saya sering memakai jasanya pada saat saya masih tetangga.

Jarum jam dinding menunjukkka pukul 8.25 Wita, saya mengajak peserta KK naik ke lantai dua. Ibu Kaminang bergegas.

Bersemangat menaiki tangga, satu per satu tangga ia lewati, meski harus merangkak karena dia berjalan menggunakan lutut. Tetapi sedikitpun di raut wajahnya mengeluh. Ia tetap tersenyum.

Berbeda peserta yang lain, ada harus menarik nafas panjang setelah melewati tangga. Mengeluh di wajahnya jelas mengalir peluh.

Tangga itu cukup tinggi dan satu kali putaran. Setelah mengantar peserta sampai di atas, saya kembali turun ke lantai satu.

Di lantai bawah sudah ada Pak Parid dari Bappeda, duduk santai di depan tangga tadi. Saya menyapanya, berbincang pentingnya rencana pembangunan ramah disabilitas dan lansia.

Pewaktu menunjukkan pukul 8.35 Wita, acara pembentukan kelompok dimulai, saya bergegas naik ke lantai dua.

Andi Bahtiar Tombong (fasilitator) sudah berdiri di depan peserta. Ia menyampaikan agenda kegiatan.

Lalu meminta, Koordinator Program YLP2EM, Pak Samad menjelaskan, apa itu Program Inklusi.

Program inklusi, kata Pak Samad, mendorong pengambil kebijakan di semua tingkatan membuka akses kepada semua warga tanpa diskriminatif.

Semua warga harus mendapatkan manfaat dari hasil pembangunan.

Sesuai prinsip SDGs, tak ada seorangpun yang tertinggal dari pembangunan, merupakan spirit yang dibangun dari program Inklusi.

Kemudian Ibu Lurah Wattang Soreang, Hikmayani Sulaeman, membuka kegiatan pembentukan Kelompok Konstituen. Ibu Lurah, bersyukur Program Inklusi hadir di Kota Parepare.

Ia mengajak, anggota Kelompok Konsituen mendampingi kelurahan agar semua warga mendapatkan layanan dengan baik tanpa diskrimininasi.

Sekitar pukul 10.30 Wita, fasilitator memandu pembentukan pengurus kelompok dengan memberikan pilihan kepada peserta. Yakni aklamasi atau tertutup.

Peserta sepakat aklamasi dengan menyebut tiga nama sebagai pengurus Kelimpok Konstituen. Masing-masing Nurjannah sebagai Ketua.
Amrinai Sekertaris, dan Bidayani sebagai Bendahara.

Ketua KK terpilih, Nurjannah
memandu peserta pembagian divisi dengan cara meminta peserta menghitung satu sampai lima. Setelah terbentuk pengurus dan divisi.

Saya memandang Ibu Kaminang, wajahnya sumbringah, tersenyum. Perhatikan setiap materi yang disampaikan.

Seraya saya menghampirinya dan duduk di dekatnya.Dia langsung meraih tanganku dan bercerita sambil tersenyum. Matanya berkaca- kaca.

“Ada apa kok kelihatan sedih,” tanyaku sambil saya tersenyum ke dia.

“Selama hidupku barusan ada kegiatan saya ikuti, saya terlalu dihagai (lipakaraja) saya disuruh duduk paling depan,” katanya.

“Padahal banyak pegawai duduk di belakang saya terharu,” katanya lagi, sambil mengusap air matanya.

“Saat foto bersama, Ibu Lurah pun merangkul saya didekatnya.”

“Pada saat orang diskusi saya juga dilibatkan. Padahal saya ini buta huruf,” katanya terisak.

“Saya biasa ke kantor kelurahan, tetapi hanya datang sebagai menerima bantuan.”

“Saya merasa seperti sama dengan orang yang sempurna. Duduk bersama, kumpul bersama dan tertawa bersama.”

“Bahkan mereka bertanya apa kelebihan saya. Bukan tentang kekurangan.”

Mendengar cerita Ibu Kaminang, saya ikut hanyut, menitikkan air mata. Mereka butuh perhatian dan dukungan.

“Ini sebuah pelajaran buat saya tidak selamanya penyandang disabilitas dan si miskin butuh belas kasihan dan materi, tetapi mereka butuh dukungan,” kataku bergumam. (*)

__Terbit pada
19 Agustus 2022
__Kategori
ESAI
2

2 comments on “Mereka Selalu Bertanya Kelebihan Saya, Bukan Kekurangan”

  1. ​​​​Salah satu isu sosial yang masih menjadi permasalahan saat ini adalah penyandang disabilitas atau yang disebut juga dengan difabel (different ability). Sejauh ini, difabel ternyata masih mengalami diskriminasi dan tidak diperlakukan selayaknya orang normal. Cara pandang masyarakat terhadap Difabel pun cenderung menggunakan pendekatan bantuan karena atas dasar belas kasihan.
    Kita tidak pernah sadar bahwa mereka secara tidak langsung juga dianggap sebagai warga kelas dua. Mereka juga mengalami berbagai halangan lainnya seperti sedikitnya layanan rehabilitasi, akses transportasi, bangunan dan informasi publik.

    Sangat inspiratif semoga kedepan bisa menjadi bagian peningkatan kapasitas skill bagi teman-teman difabel di Kota Parepare sehingga banyak Ibu Kaminang yang bisa berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *