REUNI IPM MENGENANG KH AMHAD DAHLAN

Oleh : Ibrahim Fattah.

Suasana pantai Lowita memanjakan mata melihat pantai dengan pasirnya yang berserakan.

Melihat laut lepas dari lokasi reuni IPM yang begitu luas, memberi makna akan kekayaan Allah yang tak ada taranya.

Meski semua air laut digunakan untuk menulis kekayaan-Nya dan ditambah 7 lautan lagi, itupun tidak cukup. Kata Allah dalam QS 31 : 27.

Saya lanjutkan Quis lagi. Siapa yang tahu sejarah KH. Ahmad Dahlan saat mengajarkan Al-Qur’an kepada muridnya dan ada surah yang paling lama dibaca sehingga muridnya banyak yang lari?.

Diluar dugaan saya, kak Bakhtiar Maradi mengacungkan tangan. Beliau menyampaikan bahwa murid yang belajar membaca Al-Qur’an kepada KHA Dahlan, awalnya banyak tapi akhirnya tinggal 9 orang.

Penyebabnya karena bacaan Surah Al-Maun sudah dihafal tetapi tidak pindah ke surah berikutnya. Salah seorang murid bertanya, Kyai kenapa Surah ini terus yang dibaca, kenapa tidak pindah ke Surah berikutnya?.

Kyai Dahlan dengan tenang bertanya, apakah kalian sudah mengamalkan perintah Surah Al-Maun ini?. Belum Kyai, kata murid-murid tersebut. Sekarang amalkan segera, cari orang miskin, bantu mereka.

Teologi Al-Maun kemudian menjadi gerakan sosial di awal pendirian Muhammadiyah di Kauman, Jogyakarta. Didirikanlah panti asuhan, Pusat Kesehatan Umat (PKU), sekolah, masjid, dll.

Adinda Mahyuddin diberi kesempatan memberi testimoni. Saya bisa terpilih sebagai ketua IRM Sulsel dan ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel, itu karena kontribusi teman-teman kader di Parepare.

Forum alumni ini jangan mengambil alih peran IPM. Sebuah warning yang baik untuk tidak menjadikan Forum Alumni IPM sebagai ajang aktualisasi yang justru menutup ruang anak IPM masa kini.

Quis terakhir, Siapa yang pernah mengalami suka duka menyiapkan sholat idul ied di UMPAR tahun 80- an?. Siapa yang hapal nama ketum dan sekum PP Muhammadiyah?.

Sekitar 1 jam sebelum ishoma, MC mengundang Waker untuk mengisi acara komedian. Waker tampil kocak, berperan sebagai peserta TC TM I IPM di era tahun 80-an.

Tampilannya mengocok perut, yang menarik ada 4 lagu TC TM I IPM di masa lalu yang dinyanyikan ramai-ramai diiringi musik. Mengingatkan masa-masa ketika alumni sedang mengikuti pengkaderan di IPM.

Menu makan siang dengan menu rumahan, pas betul dilida. Suasananya seperti sedang berwisata, ada 3 meja bundar yang terbuat dari semen berdiameter sekitar 2 meter, orang bisa duduk melingkar.

Para alumni lain saya lihat larut dengan suasana itu, mata saya juga ikut berkaca-kaca. Fahri bercerita bahwa saya ini tidak dibesarkan oleh kedua orangtua saya, saya tinggal dengan nenek saya.

Saya bisa begini karena atas binaan kakak-kakak instruktur IPM. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih, terima kasih, terima kasih. Fahri Adam sesekali tunduk, air matanya meleleh tak terbendung.

Fahri Adam melanjutkan, sebenarnya saya tidak ada rencana kesini karena bersamaan acara saya di Bali. Tapi tiba-tiba ibu saya sakit di Makassar. Saya terbang ke Makassar, rasanya tidak lengkap kalau tidak kesini.

Sekarang aktif di lembaga peduli dunia, memfasilitasi bantuan kemanusiaan di berbagai negara, berjejaring dengan organisasi dunia, PBB. Fahri Adam sudah menjadi warga dunia, aktif keliling dunia.

Testimoni kedua yang saya undang, yaitu adinda Iskandar Nusu. Sebelumnya memberi kode kepada saya bahwa tidak usah, tetapi saya tetap mengundangnya. Beliau Kepala Dinas Perhubungan Parepare.

Mungkin adinda Iskandar Nusu tidak mau mengulang suasana haru sebelumnya pada saat adinda Fahri Adam tampil sehingga memilih lebih singkat tapi padat dan memberi motivasi kepada IPM yunior.

Besoknya saya ditemui kak Ali, jangan lari kalau dipanggil kultum, naik saja ucapkan salam pembuka dan akhiri dengan kalimat sekian nun walqalami wamaa yasturuun, kasi salam penutup. Kak Ali meyakinkan saya.

Setelah itu jika saya ditunjuk memberi kultum, sayai mulai berani. Namun yang saya sesali hingga kini, saya tidak berani menjadi penceramah di bulan ramadhan atau menjadi khotib jumat.

Kak Hj. Zaenab Syamsuddin, pernah menjadi anggota DPRD Parepare. Saya suka berdiskusi dengan beliau. Paham issu-issu global, beliau responsif dan berani pasang badan untuk kepentingan masyarakat.

Nama lain yang juga saya sudah list yaitu adinda Ishak Nusu. Pernah menjadi ketua IRM Sulsel. Kader IPM Parepare, bekerja di RS Hasri Ainun Habibie (*).

__Terbit pada
16 Agustus 2022
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.