Rumi Tersenyum, Terima Kasih Pak

Oleh : Ibrahim Fattah.

Udara pagi hari ini mendung sepanjang perjalan dari rumah saya ke Kelurahan Mallusetasi, Kecamatan Ujung, Kota Parepare, Selasa, 16 Agustus 2022.

Mendung pagi hari ini ikut menyertai warga yang datang dengan berangsur-ansur di Kantor Kelurahan Mallusetasi.

Saya langsung menuju aula kelurahan di lantai 2, menaiki anak tangga yang sangat tinggi, 20 centimeter. Saya perhatikan yang datang menyusul, hampir semua bernafas panjang setelah tiba di lantai 2.

Di lantai 2, saya duduk menunggu peserta ditemani Pak Mahyus, staf Kelurahan Mallusetasi.

Setiap ada peserta yang muncul di mulut tangga, saya suka perhatikan mulutnya dengan nafas yang ngos-ngosan.

“Gimana pak apakah acara sudah bisa dimulai,” tanya Pak Mahyus kepada Pak Samad Koordinator Program YLP2EM.

“Iya sudah bisa,” jawab Pak Samad.

Penampilan Pak Lurah Mallusetasi saat membuka acara tampil dengan pakaian jas lengkap. Ternyata setelah memberi kata sambutan dan narasumber, menghadiri acara di DPRD.

Usaha Kecil Mikro dan Menengah atau UMKM, menjadi isi paparan Pak Lurah, saat tampil sebagai nara sumber. Maklum Kelurahan Mallusetasi, banyak warganya yang menjadi pelaku usaha.

Iklim berusaha saat ini, kata Pak Lurah sudah dibuka lebar oleh pemerintah. Pelaku UMKM perlu didukung karena mereka kalah bersaing dengan pelaku usaha besar yang memiliki banyak kelebihan.

Memasuki acara inti, fasilitator memaparkan tujuan dan output kegiatan penguatan KK.

“Hari ini kita akan perbaharui pengurus KK Mandiri dan menyusun rencana kerja KK Mandiri,” kata Fasilitator.

Pengurus yang terpilih akan disahkan oleh Lurah melalui Surat Keputusan atau SK dan diketahui oleh Camat Ujung.

“Ini yang namanya legalisasi, agar Pengurus KK Mandiri, diakui atau sah,” kata Fasilitator lagi.

Peserta menyepakati secara aklamasi pemilihan pengurus KK Mandiri dengan metode tertutup. Disepakati Ibu Eni Purnamasari (Ketua), Ibu Jumiaty (Sekretaris), dan Ibu Naam (Bendahara)

Kemudian, peserta dibagi empat kelompok sesuai divisi. Fasilitator Abd Malik mendampingi kelompok Pengembangan Ekonomi. Pak Samad mendampingi kelompok Advokasi. Ibu Sappe mendampingi kelompok LBK dan Andi Enny mendampingi Kelompok Humas.

Penguatan dan pembentukan kelompok konstituen kali ini dihadiri dua peserta tuna wicara.

Saya menyempatkan diri berkomunikasi dengan mereka melalui tulisan. Laki-laki itu bernama Fardy dan yang perempuan bernama Runi. Dua difabel ini adalah pasangan suami istri.

Mereka tidak punya anak, tidak punya saudara kandung. Ferdy bekerja di bengkel motor. Sedangkan istrinya, Runi, ibu rumah tangga.

Ia mengaku, baru kali ini diundang menghadiri acara di kelurahan.

Saya berdiri di tengah peserta, saya sampaikan pesan Bung Hatta, yang diposting oleh Najwab Sihab di medsos.

Pesan Bung Hatta itu sungguh sangat menggugah. Jika Anda membantu seorang laki-laki, maka anda hanya membantu satu orang saja tetapi jika Anda membantu seorang perempuan, maka Anda membantu satu generasi.

Selesai pesan Bung Hatta itu saya ucapkan, Runi yang paling duluan bertepuk tangan disusul peserta lainnya.

Saya tanya ibu Naam, bendahara KK Mandiri yang berada di kursi depan, apakah Runi dengar apa saya bilang?, iya dia dengar pak.

Tapi bukankan dia penyandang tunarungu itu sulit mendengar?.

Mungkin Runi memperhatikan kata-kata yang saya ucapkan karena dia duduk pas di depan saya sedang memberi sambutan penutupan acara.

Tidak sampai disitu saja, Runi kelihatan sangat gembira diundang hadir di acara ini.

Setelah saya tutup acara KK. Saya kembali duduk di depan meja untuk mengetik tulisan ini.

Runi menghampiri saya. Runi menulis di kartu metaplan dengan kata terima kasih, sambil memberi senyuman, lalu berlau meninggalkan aula pertemuan bersama suaminya, Ferdy.

Program inklusi ini mendorong pengambil kebijakan di semua tingkatan membuka akses kepada semua warga tanpa diskriminatif.

Semua warga harus mendapatkan manfaat dari hasil pembangunan.

Prinsip SDGs, tak ada seorangpun yang tertinggal dari pembangunan, merupakan spirit yang dibangun dari program Inklusi.

Semoga ke depan penyandang disabilitas dilibatkan dalam pengambilan keputusan.(*)

__Terbit pada
16 Agustus 2022
__Kategori
Culture, ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.