Pameran Pusaka

Merawat Budaya Parewa Bessi

Benda pusaka dari empat provinsi telah dipamerkan di Balai Ainun Habibie, Jalan Abdul Jalil, Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Beragam bentuk dan jenis kekayaan budaya bangsa itu tersaji dalam etalase.

Selama tiga hari benda-benda bersejarah dari Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan itu, seperti parang, badik, keris, dan tombak dijejer mengundang ribuan pengunjung.

Komunitas Gamacca membumikan kembali budaya Parewa Bessi. Komunitas pencinta dan pelestari benda pusaka itu pamerkan ratusan benda pusaka terbuat dari logam dari berbagai daerah di nusantara.

Sebanyak 45 komunitas dari empat provinsi ambilbagian, merawat, melestarikan, dan mengenalkan budaya leluhur itu. Membuat pengunjung rela-rela berlama-lama dalam ruangan ditata dengan warna kuning dan hitam.

“Pameran Parewa Bessi ini sebagai ajang bersilaturahmi dengan komunitas-komunitas yang ada di Nusantara,” cerita Ketua Panitia Parewa Bessi Zulkarnaen.

“Kami ingin mengenalkan bentuk dan ragam benda-benda pusaka serta makna kepada masyarakat, terutuma anak muda agar mencintai budaya Parewa Bessi. Parewa bessi itu identitas sebuah bangsa.”

Selain itu, pameran ini momentum yang baik peringati Dirgahayu RI-77 dan silaturahmi dengan sesama pencinta benda pusaka di Nusantara.

“Kita ingin mengenalkan kepada anak muda Parewa Bessi sebagai budaya leluhur dan identitas bangsa. Bukan mistik,” kata ASN Pemkot Parepare itu.

Kini, masyarakat bisa mengenali jenis dan pamor benda pusaka yang diamerkan. Mengindentifikasi pamor, ditangani ahli pamor.

“Tidak semua orang memahami sebuah pamor pada sebuah benda pusaka,” katanya.

Beberapa yang dipamerkan adalah pusaka milik turun temurun, seperti keris dan badik, merupakan peninggalan nenek moyang yang berusia ratusan tahun.

Ketua Gamacca, H Ansar, Sulawesi sangat kaya warisan budaya berupa keris, tombak dan badik, dan senjata dari logam lainnya. Benda-benda pusaka itu masih terawat dengan baik.

Pameran ini, kata dia, peringati hari ulang tahun (HUT) RI ke-77. Bersilaturahmi dengan komunitas pencinta dan pelestari budaya Parewa Bessi. Kami juga berharap, bisa membantu perekonomian masyarakat agar bangkit dari pandemi.

“Ribuan warga datang ke Kota Parepare. Selain peserta pameran juga banyak pengunjung datang khusus ke Kota Parepare, menyaksikan Pameren Parewa Bessi,” katanya.

Selain itu, senjata tajam keris sudah diakui sebagai warisan budaya benda dunia UNISCO tahun 2005, sehingga kita wajib untuk melestarikan.

Ritual Tompang
Selain itu, pengunjung menikmati ritual tompang (bersihkan bilah) di arena pameran. Pengunjung terlihat antusias menyaksikan tradisi leluhur itu.

Tompang
Suasana Tompang di arena pameran Parewa Bessi

Tompang diawali dengan sambutan dan doa oleh orang yang dituakan. Puluhan bilah badik dan keris dikeluarkan dari sarungnya untuk memulai proses pembersihan.

Badik dihunus dari sarungnya. Lalu dibilas dengan menggunakan perasan jeruk nipis yang dipotong secara khusus lalu dibersihkan dengan menggunakan tangan pemiliknya.

Selama prosesi Tompang atau bersihkan menggunakan jeruk nipis itu, suasana hening. Saat Tompang, tidak boleh bersuara agar pemilik bilah lebih fokus.

Setelah dibersihkan menggunakan jeruk nipis, badik dan keris itu lalu dibilas dengan air, dikeringkan menggunakan tisu. Setelah kering, bilah dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.

Setelah semua badik dimasukkan dalam sarungnya, Tompang ditutup dengan doa bersama. Dilanjutkan menikmati pangan khas sanggara (pisang goreng).

Ritual tompang ini, bersihkan bilah dari korosi. Prosesi tompang dilakukan para pendahulu kita dan mewariskan anak cucu.

Ritual Tompang ini budaya yang menandakan perjuangan, pengabdian serta rasa kasih sayang sesama. Tompang bersama ini diharapkan saling menghargai sesama manusia dalam hidup bermasyarakat.

Membangun rasa solidaritas, sopan santun serta etika dalam bermasyarakat. Membersihkan diri dan tidak memandang rendah sesama mahluk hidup ciptaan Tuhan.

Selain untuk melestarikan budaya dan adat istiadat, kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi bagi mereka.

Bagi warga Sulawesi Selatan, badik memang dimaknai bukan sekadar senjata, tapi simbol dari kewibawaan dan keberanian seorang lelaki.

Senjata ini bukan digunakan untuk melukai sesama tapi juga dimaknai sebagai pembawa kedamaian. Olehnya, menurut mereka, perlakuannya pun harus istimewa.

Ritual Tompang sebenarnya dimulai dari kerajaan Gowa Tallo, Bone dan Luwu. Bukan hanya badik, dalam ritual itu, semua benda pusaka milik kerajaan dibersihkan dengan ritual yang sangat panjang.

Saat ini, ritual Tompang masih terjaga oleh para pecinta budaya sebagai upaya pelestariannya.

“Diharapkan pameran Parewa Bessi dan Tompang bersama ini kita semua memperoleh kebajikan dan keberuntungan. Semoga di lain kesempatan kita bertemu kembali,” katanya. (*)

__Terbit pada
14 Agustus 2022
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *