Juara Itu hanya Bonus

Saya bersyukur. Proses yang dilalui berbuah manis. Setiap kompetisi saya diikuti berusaha memberikan yang terbaik.

Sudah tertanam dalam benak.
Tidak boleh cepat puas. Setiap prestasi yang capai, dijadikan pembelajaran baik.

Saya gemar mengikuti isu yang sedang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat, seperti masalah hukum, ekonomi, lingkungan, dan lainnya.

Saya harus membiasakan diri membaca agar ketika dihadapkan dengan mosi yang dadakan pada kompetisi debat, saya tidak buyar dan keteteran, terutaka saat case building.

Selain itu, saya lebih giat berlatih berdebat. Materi atau bahan ditelaah mendalam agar lebih menarik.

Saya juga mempelajari dasar-dasar berdebat. Saya pernah melakukan blunder saat berdebat.

Materinya menarik, tetapi jarang dilatih, pasti gugup saat berdebat. Tim harus menguasai materinya. Jika belum menguasai materi dan waktu kompetisi yang mepet, maka berpengaruh terhadap hasil.

“Kami biasa mengkaji mosi sampai dini hari dan besoknya harus tanding.”

Tentunya juga dengan bergabung dan mencari komunitas khusus debat untuk berbagi ilmu supaya keterampilannya bisa terus diasah.

Salah satu komunitas yang saya ikuti yaitu STADIUM (Student Debate Forum) agar kita paham etika dalam berdebat.

Di komunitas itu, beberapa tips yang sangat jarang diketahui dalam menaklukan forum debat yaitu dengan selalu memberikan kalimat-kalimat pemanis yang akan membuat dewan juri kagum dan lawan debat tidak berkutik.

Banyak sekali pihak yang berjasa mendukung saya selama ini seperti komunitas STADIUM, Coach, Tim Riset dan tentunya teman satu tim.

“Kami berterima kasih kepada pihak rektorat atas dukungannya. Kami pernah diajak study tour dan mendapatkan uang pembinaan.”

“Alhamdulillah kami disupport yang sangat luar biasa ketika kami mengikuti kompetisi debat.”

Pimpinan Fakultas FAKSHI jugq memberikan biaya pendaftaran dan memfasilitasi ruangan. Saat kami ingin mengikuti kompetisi tidak hanya itu juga ajakan makan bersama.

Kami mengharapkan pihak kampus bisa berupa keringanan biaya UKT (Uang Kuliah Tunggal), mengurangi beban orang tua membayar SPP setiap akhir semester.

Teruslah memberikan apa yang terbaik dalam diri kita, jika ingin mencapai tujuan harus siap menerima pahit manis prosesnya.

“Juara hanyalah bonus,” kata
Usmaida, mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah dan Hukum Islam IAIN Parepare. (*)

Laporan : Mahdinar-Andi Aliefka-Dewi Sartika

__Terbit pada
10 Agustus 2022
__Kategori
Culture, Lifestyle

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.