Menulis Itu Kunci Raih Guru Besar

Sejak kecil saya bercita-cita menjadi guru. Setelah masuk di kampus tercinta ini (IAIN Parepare), cita-cita terbesar saya berubah. Ingin menjadi Guru Besar.

Saya persiapkan diri dengan serius. Membaca dan menulis, melakukan publikasi untuk mencapai gelar akademik tertinggi di perguruan tinggi. Alhamdulillah, doa-doa saya dan keluarga diijabah oleh Allah.

Saya mengusul Daftar Pengusul Penetapan Angka Kredit (DUPAK) Guru Besar dari golong IV.A. Saat itu, KUM atau angka kredit dosen saya 400 menuju IV. D. Menuju Guru Besar, saya harus mengumpulkan KUM sebanyak 850.

Suka duka pasti banyak kalau mau diurai satu per satu. Saat saya menduduki jabatan sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan (APK).

Saya bahagia dan bersyukur kepada Allah diberikan kemudahan menyelesaikan amanah dengan baik. Saya harus bisa bagi waktu antara tanggung jawab jabatan dengan waktu untuk menulis.

Tetapi, di situ seninya sebab saya mengahiri masa jabatan saya dan juga bisa meraih gelar akademik tertinggi saya beberapa bulan setelah saya menyelesaikan amanah.

Keluarga (suami dan anak-anak) terutama anak anak semua memberikan dukungan. Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik agar kelak menjadi teladan.

Saya ingin mencontohkan bahwa kesuksesan itu tidak instan, harus melalui perjuangan dan kerja keras, dan doa. Itulah satu hal yang selalu saya tanamkan dalam diri saya.

Saat pengusulan kenaikan pangkat itu ada hak yang mengikut untuk keluarga kita, makanya harus diupayakan. Kerja keras dan doa dari orang-orang terdekat kami.

Menulis itu salah satu persyaratan menjadi guru besar. Jangan putus asa ketika tulisan dikembalikan atau di tolak. Menulis lagi.

Pencapain ini, menjadi pemantik dan penyemangat bagi dosen-dosen yang memenuhi syarat untuk mengajukan DUPAK menjadi Guru Besar.

Pencapaian ini, mengantar Dr Sitti Jamilah menjadi Profesor termuda di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare. Selain itu, ia juga profesor pertama wanita di IAIN Parepare.

Perempuan kelahiran 1976 ini memulai pendidikan perguruan tinggi strata satu pada jurusan Perbandingan Agama (1999).

Melanjutkan strata dua di Universitas Muslim Indonesia pada program studi Dirasah Islamiyah (2004), dan strata tiganya di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (2014).

Merintis karir menjadi dosen di IAIN Parepare. Menjabat sejumlah jabatan mulai dari Ketua Prodi Muamalah (2010- 2014), Sekretaris P3M (2014- 2018), dan Wakil Rektor I bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan IAIN Parepare (2019- 2022).

Saya berharap, semakin banyak jumlah guru besar, semakin baik kualitas PT dan semakin bertambah kepercayaan publik. Semua perguruan tinggi berlomba-lomba mendorong para dosen untuk mencapai jabatan guru besar.

Statistik Pendidikan Tinggi 2021 mencatat hanya 7.192 (2, 25 persen) dosen yang bergelar profesor dari sebanyak 320. 052 dosen di Indonesia. Jumlah tersebut sangat jauh di bawah jumlah ideal profesor di Indonesia sebanyak 10 persen. (*)

Sumber : iainpare.ac.id

__Terbit pada
9 Agustus 2022
__Kategori
Culture, Lifestyle

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.