Rambut Saya Gondrong, Saya Semester 14 Pak

Selama sepekan, ada dua mahasiswa yang datang menghadap kepada saya. Hanya berselang dua hari setelah cerita Amin dan ibunya berjudul, “Saya Malu Pak, Anak Saya Tak Sarna”, Kamis, 4 Agustus.

IBRAHIM
Oleh : Ibrahim Fattah, Dekan Fakultas Hukum UMPAR

Oleh : Ibrahim Fattah, Dekan Fakultas Hukum UMPAR

Akhir pekan lalu, Sabtu, 6 Agustus, pewaktu baru menunjukkan pukul 09.45 wita, seorang mahasiswa datang menghadap. Mahasiswa ini tanpa ditemani orangtuanya.

Duduk di kursi tamu, dia memperkenalkan diri. “Saya Ridho Pak (bukan nama sebenarnya),” ucapnya.

Ridho menyodorkan hasil penelitiannya sebagai syarat mengikut ujian hasil. Saya minta waktu Pak untuk konsultasi tentang skripsi saya ini.

Ridho berperawakan sedang, kurus, kulit sawo matang. Saya minta Ridho agar dia buka topinya, Ridho kelihatan bingung dan gugup, menatap saya.

“Buka dulu topinya, ini kan di dalam ruangan, jadi tidak usah pakai topi,” kata saya lagi.

Saya baca sampul hasil penelitiannya, saya kaget, Ridho ini angkatan pertama Fakultas Hukum UMPAR, tahun 2015. Sudah masuk “lampu kuning”. Semester 14.

“Rambut saya gondrong Pak,” jawabnya, sambil buka topi hitam gaya anak muda masa kini.

“Kamu seangkatan dengan siapa?”

“Saya seangkatan dengan Kak Tono dan Kak Asrul Pak,” jawabnya tertunduk.

Dua nama yang disebutkan, Ridho itu alumni terbaik 1 dan 2 UMPAR, tahun 2020.

Sekarang kedua alumni itu, Hartono Hamzah, SH, staf Fakultas Hukum UMPAR. Sedangkan Asrul Hidayat, SH, staf WR 1 UMPAR. Keduanya melanjutkan studi S2 hukum di UMI Makassar.

Sepintas saya baca rumusan masalahnya, saya mulai bertanya agak nakal. “Kamu sendiri yang kerja ini penelitianmu?”

“Saya dibantu sama adek-adek di Fakultas Hukum Pak,” jawabnya.

“Siapa yang ketik hasil penelitianmu,” tanyaku lagi.

“Saya Pak.”
“Sendiri?” saya memburunya.
“Dibantu sama adek-adek juga Pak,” jawabnya lagi.

Ridho datang membawa hasil penelitiannya, siap mengikuti ujiah hasil. Ridho berburu dedline batas akhir kuliah 14 semester.

Setelah mendengar pengakuan Ridho, saya mengabaikan rambut gondrongnya. Saya menatap Ridho, dia membalas dengan senyum.

“Saya agak familiar dengan mahasiswa ini,” kataku dalam hati.

“Hem… Berapa uang di dompetmu,” tanyaku.

“Ini ada Pak, Rp 20 ribu,” jawabnya membuka dompetnya.

“Oke, sekarang silakan keluar dulu, pergi cari tukang cukur. Saya tunggu kembali di sini sebelum masuk waktu duhur,” kataku.

“Serius Pak?” jawab Ridho.
“Iya seriuslah,” jawabku tegas.

Mungkin saja Ridho tidak sampai dipikirannya jika rambutnya tidak menjadi penghalang ketika bertemu dengan saya.

Mungkin Ridho tidak menyangka jika rambutnya menjadi prasyarat sebelum bicara persiapan ujian hasil penelitian.

“Baik pak saya segera ke tempat cukur,” pamit, meninggalkan ruangan.

Saya melanjutkan mengetik di meja kerja, jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.00. Tetapi, Ridho belum muncul.

Saya ke toilet sambil lihat situasi di ruang tengah, di kantor Fakultas Hukum UMPAR. Ridho sudah ke tukang cukur. Saya mencoba menganalisis dan yakin dengan perintah saya kepadanya.

Posisi tawar Ridho kepada saya sangat lemah karena dia harus memburu jadwal wisuda UMPAR, Oktober 2022.

Biasanya mahasiswa yang gondrong itu berkecamuk dua pilihan di dalam hatinya ketika diminta memotong rambutnya, antara mempertahankan rambut gondrongnya dan mau ikut ujian.

Sistem perkuliahan saat ini berbeda di era 80 sampai awal 2000-an. Dulu masa kuliah tidak dibatasi atau mahasiswa abadi. Mau terus disebut mahasiswa. Padahal sudah lama ikut KKN, tetapi tidak mengajukan judul proposal penelitian.

Problem mahasiswa itu tidak sedikit, termasuk mahasiswa yang terlambat selesai, bukan hanya faktor keterbatasan pendapataan orangtua. Tetapi faktor motivasi.

Seperti Ridho ini, ketika saya tanyakan pekerjaan orangtua, Ridho mengatakan petani tambak. Berarti uang bukan penghambat, mungkin motivasinya rendah.

“Di Perguruan tinggi harus ada wadah konseling. Banyak mahasiswa yang mengalami masalah perkuliahannya yang perlu dimotivasi agar bisa selesai,” kata Dr Marwati di grup Forum Puspa.

“Sudah banyak kampus yang ada wadah konselingnya,” tulis Dr. Asniar Khumas (dosen Psikologi UNM).

“Di UMPAR itu, sudah pernah ada unit konseling bagi mahasiswa. Tetapi sekarang tidak ada lagi,” kata Dr. Marwati lagi.

Wadah konseling perlu dibentuk di kampus. Di mana ada mahasiswa bermasalah penyelesaian studinya. Konseling hadir sebagai media untuk menyelesaikan masalah, agar anak bisa keluar dari masalahnya.

“Di UNM itu ada juga unit pengembangan karier. Unit ini relevan dengan kurikulum MBKM agar mahasiswa sudah mengenal dunia kerja sebelum selesai. Banyak inspirasi dari obrolan tentang potret dunia pendidikan kita di negeri ini,” tulis Dr Asniar.

Tanpa terasa, pewaktu menunjukkan pukul 11.30, di depan pintu ruangan saya ada yang beri salam. Saya menoleh dan menjawab salam itu, ternyata Ridho. Saya persilakan masuk.

Permintaan ketiga saya kepada Ridho untuk hal yang sama, sekarang buka topimu. Kali ini, Ridho sudah tak bingung merespon permintaan saya, disertai senyum, Ridho membuka topinya.

“Tadi kegagahanmu terhalang sama topimu,” kata dibalas dengan senyum. Kini rambutnya sudah pendek dan siap mengikuti ujian hasil. (*)

__Terbit pada
8 Agustus 2022
__Kategori
Culture, Lifestyle

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.