IBRAHIM

Saya Malu Pak, Anak Saya Tak Sarjana

Oleh : Ibrahim Fattah, Dekan Fakultas Hukum UMPAR.

Pagi menjelang siang hari, Kamis, 04 Agustus 2022, suhu atmosfer di kampus Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR), cukup terik. Saya menerima tamu seorang Ibu dan anaknya.

Kedua tamu itu, saya sambut dan persilakan duduk di kursi tamu di ruang kerja saya. Saya duduk di kursi kerja.

Di ruang tengah kantor Fakultas Hukum UMPAR, beberapa mahasiswa sedang duduk menunggu mau konsultasi judul proposal penelitian.

Ibu itu ramah, ia menghela napas panjang, lalu mengenalkan diri sebagai orangtua dari anak muda yang duduk di sampingnya.

“Hem… Begini Pak Dekan, anak saya ini namanya Amin (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Fakultas Hukum UMPAR, angkatan 2018,” katanya membuka pembicaraan.

“Saya datang ke sini Pak menemaninya agar saya bisa mendapat penjelasan tentang kelanjutan studi anak saya ini.”

Ibu itu mengeluh, nilai mata kuliah anaknya banyak kosong dan ada nilai D. Ia menceritakan, selama pandemi copid-19 tahun 2020 –2021, anaknya tak serius mengikuti kuliah via daring.

“Setiap saya tanya tentang kuliahnya, dia selalu bilang, kuliah online. Belakangan baru saya tahu kalau selama perkuliahan online, anak saya ini tidak aktif kuliah, bahkan tidak ikut ujian final,” katanya.

Saya menyimak dengan baik dan melihat gestur ibu itu. “Hem… Ibu ini serius mau melihat anaknya sukses dalam pendidikan,” kataku dalam hati.

Mahasiswa itu duduk di samping ibunya, hanya terdiam, tunduk dan sesekali melihat ke depan dan senyum malu-malu, mungkin pertanda kalau dia membenarkan curahan hati ibunya.

Setelah saya merasa cukup paham maksud kedatangan ibu itu, lalu saya bertanya kepada anaknya, si Amin.

“Apakah Amin masih ada kemauan untuk kuliah dan menyelesaikan studi sampai meraih gelar sarjana?”

“Iye Pak, saya mau selesai Pak,” jawab Amin, tertunduk.

“Berapa orang Amin bersaudara?”

“Anak saya cuma Amin ini saja Pak, dia anak satu-satu,” jawab Ibu si Amin. Saya menghela nafas.

“Apakah sudah KKN?’
“Sudah Pak,” jawab Amin.

“Saya heran Pak, kenapa ini Amin sudah KKN tapi belum dia urus proposalnya, sedangkan sepupunya yang kuliah di Makassar, dia satu angkatan, sekarang sudah mau ujian skripsi.”

“Saya penasaran Pak. Saya paksa Amin. Perlihatkan kepada saya semua nilai mata kuliahmu,” katanya.

Rupanya ibu itu tahu juga cara efektif untuk menaklukkkan prilaku nakal anaknya, Ibu itu butuh bukti dokumen dari kampus.

Saya pun mulai hitung dan menulis nomor urut mata kuliah yang nilainya kosong dan yang bernilai D di luar ujian skripsi. Nomor urutnya sampai pada nomor 26. Artinya ada 26 mata kuliah yang harus di program ulang oleh Amin.

“Nah, ini butuh kesungguhan, ikuti nasihat orangtua,” kata saya kepada Amin.

Ibu itu langsung menatap anaknya dan menegaskan agar bersungguh-sungguh menyelesaikan mata kuliahnya yang tidak ada nilainya.

“Saya juga heran ini Pak, setiap semester, anak saya selalu minta pembayaran SPP. Tetapi ternyata dia tidak ikut kuliah Pak,” keluhnya dengan mata berkaca-kaca. Amin hanya tertunduk, ia merasa bersalah, tidak bicara.

Saya memotivasi Ibu itu dan Amin bahwa tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, sepanjang orang itu bersungguh-sungguh mau keluar dari masalahnya.

Saya merefleksi satu fakta yang pernah terjadi pada seorang mahasiswa Fakultas Hukum UMPAR, tahun lalu (2021) yang juga pernah menghadapi masalah keterlambatan menyelesaikan studi.

Kasusnya memang tidak sama, kata saya kepada Ibu itu, tetapi setidaknya bisa menjadi pembelajaran buat Amin.

Mahasiswa itu namanya Abdul Azis, berasal dari Tanru Tedong, Sidrap. Azis angkatan pertama, tahun 2015. Azis terancam di drop out (DO) dari sistem, tetapi Azis bersungguh-sungguh, dalam setiap pekan, minimal dua kali saya bertemu di kantor Fakultas Hukum UMPAR. Sekarang Azis sudah diwisuda, bulan Juni tahun ini.

Motivasi dalam hidup sangat utama. Motivasi itu ibarat bara api, jika masih ada bara, maka masih bisa ditiup sampai bara itu menyala.

Tidak sedikit kasus mahasiswa seperti Amin dan Azis, sejak kuliah online diterapkan. Inilah tantangan sistem online, ada pembelajaran, tetapi pendidikan karakter tidak efektif seperti jika kuliah ofline di kelas atau tatap muka.

Setelah pulang dari KKN bagi mahasiswa semester akhir adalah fase yang paling berpotensi studi jalan di tempat, tidak mengajukan judul skripsi, tidak menyusun proposal hingga gagal ujian skripsi.

Penyebabnya adalah rendahnya motivasi dalam diri mahasiswa tersebut atau tidak ada orang lain yang aktif memberi motivasi agar fokus dulu menyelesaikan studinya, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Amin masih beruntung, ada Ibunya yang sangat peduli kepada masa depannya.

“Saya malu pak, semua sepupunya Amin pada kuliah dan sudah banyak yang sarjana.”

“Ini anak saya satu-satunya yang saya harapkan. Ada kakak saya Jaksa di Mamuju, sudah hampir pensiun, saya harap kalau Amin sudah selesai, sudah bisa cari pengalaman sama pamannya,”

Amin dan Ibunya pamit kepada saya. Semoga Amin bisa menyelesaikan studinya dan meraih gelar Sarjana Hukum. (*)

__Terbit pada
6 Agustus 2022
__Kategori
Culture, ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.