IBRAHIM

Perkuat Kelompok Konstituen dan Kolaborasi Multi Pihak

Oleh : Ibrahim Fattah, Direktur YLP2EM

Kelompok Kostituen, Pemda, DPRD, Media, dan perguruan tinggi, merupakan 5 mitra kerja dalam Program Inklusi BaKTI. Kelompok Konstituen (KK) yang paling utama didampingi, mendapatkan akses layanan Pemda yang inklusif.
Program Inklusi ini kelanjutan dari Program MAMPU, tentu ada banyak pembelajaran yang baik dan ada yang kurang baik untuk tidak disebut gagal.

Paradigma tentang kegagalan, saat ini sudah mengalami perubahan, kegagalan bukan sesuatu yang harus dibuang begitu saja. Tetapi harus dijadikan sebagai pembelajaran. Monitoring Evaluation and Learning atau MEL sudah diperkanalkan BaKTI sejak program MAMPU.

Metode MEL ini bisa menghindarkan orang di internal lembaga dari sikap saling menyalahkan.

Revisi dokumen YLP2EM yang menjadi fokus diskusi yaitu program strategis 5 tahunan, SOP Keuangan, SOP PBJ, dan SOP Personalia. Program Strategis 5 tahunan, konsep fundraising dirubah dari unit bisnis di sektor ril menjadi ke unit bisnis pertukaran pengetahuan.

Unit bisnis di sektor ril tetap ada tetapi bukan lagi sebagai “anak kandung” tetapi hanya sebagai “saudara kandung”, kelembagaan dan manajemennya terpisah. Posisi YLP2EM dengan perusahaan yang akan dibentuk itu, statusnya setara. Personel YLP2EM yang memberikan penyertaan modal, statusnya sebagai komisaris.

Setelah presentasi kelompok internal selesai dan merespon tanggapan sekaligus mendengar aspirasi kelompok eksternal, Pak Muslimin dan Ibu Jum menyumbangkan lagu. Ya jedah sesaat sebelum giliran kelompok eksternal memaparkan hasil diskusi kelompoknya.

Desain acara ini memang disetting dengan pendekatan “sersan” serius tapi santai. Presentasi kelompok internal lebih bernuansa refleksi dan strategi keluar dari masalah internal. Momen yang baik untuk merekatkan kembali mimpi-mimpi lama ketika YLP2EM digagas pendiriannya pada tahun 1996.

Pada saat kelompok eksternal presentasi, aspirasinya begitu banyak kepada YLP2EM, tentu ada yang dapat dengan cepat direspon atau ditindaklanjuti secara internal oleh YLP2EM, tetapi ada juga yang membutuhkan proses advokasi kepada Pemda atau kepada DPRD terutama jika itu berkaitan dengan akses layanan dan dukungan kebijakan atau regulasi daerah.

Peran YLP2EM dalam melakukan pemberdayaan masyarakat dan advokasi kebijakan, hanya sebagai fasilitator. Paradigma pemerintah saat ini juga sudah berubah dibandingkan di era orde baru.

Pemerintah di era ini, menyadari bahwa pembangunan itu tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintaah saja, perlu ada peran pelaku lain.

Konsep pembangunan saat ini sudah mulai menerapkan pendekatan kolaborasi, masing-masing pihak berperan sesuai dengan kapasitasnya, tetapi semua bertujuan untuk mengeluarkan masyarakat dari kemiskinan.

Peran LSM sejatinya adalah berkontribusi mengisi kekosongan atau mengatasi kesenjangan atau gep antara pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dengan masyarakat sebagai penerima manfaat.

Kesenjangan inilah yang diatasi melalui program pemberdayaan dan advokasi kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin, rentan dan kelompok yang masih terpinggirkan.

Program Inklusi, berupaya mengisi kesenjangan itu sehingga pola relasi antara Pemda atau DPRD dengan warga bisa lebih dekat dalam hal akses untuk mendapatkan informasi dan layanan.

Refleksi KK mengemuka, belum ada KK yang memiliki Rencana Kerja yang disusun secara mandiri. KK masih membutuhkan YLP2EM untuk mendampinginya, tetapi ke depan perlu ada upaya untuk mendorong kemandirian KK agar untuk jangka panjang tidak ada ketergantungan permanen kepada YLP2EM.

KK menawarkan ide ada kegiatan usaha warga sehingga warga miskin, perempuan kepala rumah tangga, penyandang disabilitas dan kelompok marginal lainnya, ada tambahan pendapatan.

Rencana kerja KK yang akan difasilitasi YLP2EM melalui program Inklusi-BaKTI, dievalusi setiap 3 bulan agar diketahui oleh anggota KK dan warga, apa kemajuan dan tantangannya. Potret KK saat ini pasca pandemic copid-19, cukup beraagam. Ada KK yang sudah berkembang, ada sudah mulai maju, tetapi ada juga yang stagnan.

Ada 2 pendekatan yang dilakukan dalam Program Inklusi-BaKTI untuk menyikapi potret atau kondisi KK, yaitu revitalisasi dan membentuk KK yang baru. KK yang masih eksis, pendekatannya adaalah revitalisasi.

Pembaharuan kepengurusan dan rencana kerjanya. Sedangkan kelurahan yang pada program MAMPU belum dilibatkan tetapi di kelurahan itu ada sejumlah permasalahan sosial-ekonomi yang perlu diintervensi, maka akan dibentuk KK yang baru. KK ada di 15 kelurahan, anggotanya sebagian besar perempuan dengan latar belakang yang beragam.

30 menit sebelum acara dtutup, saya diminta fasilitator untuk memberikan tanggapan sampai pada acara penutupan. Saya memberi pengantar singkat dan apresiasi terhadap partisipasi peserta.

Saya melanjutkan dengan ice breacker bermain sekoci dan angina bertiup. Berhubung tempat diskusi di tempat terbuka dan peserta duduk di balai-balai, saya meminta tolong agar balai-balai itu dipindahkan dan meminta peserta berdiri membentuk lingkaran penuh.

Permainan angin bertiup itu jika dilakukan di dalam kelas, maka kursi peserta yang dijadikan sebagai media untuk diperebutkan. Orang yang yang terhukum, berdiri di tengah, intruksinya kepada peserta lainnya yaitu menyampaikan kalimat bertanya “angin bertiup.

Peserta lainnya harus spontan menjawabnya dengan kalimat “bertiup kemana?. Si terhukum itu sudah harus mengincar tempat agar pada saat dia menjawab, maka dia sudah tahu kemana dia berada.

Si terhukum menjawab “bertiup ke yang pakai…, misalnya yang pakai celana jeans, maka semua peserta yang memakai celana jeans, harus segera berpindah tempat dan sudah pasti ada 1 orang yang tidak kebagian tempat dan itulah yang menjadi terhukum berikutnya.

Ice breacker angin bertiup di acara Strategic Planning YLP2EM dilakukan tidak ada kursi, maka alas kakipun dijadikan sebagai media yang diperebutkan untuk menjadi tempat berdiri pada saat nama barang yang melekat pada tubuh kita disebut.

Suasana kembali semangat setelah bermain 2 kali ice breacker, tawa peserta membahana, mengocok perut melihat peserta terbirit birit mengamankan diri mencari sekoci dan tempat berdiri dari angin bertiup.

Strategic Planning ditutup resmi oleh ketua yayasan LP2EM, Bapak Drs. Najib Laadi. Beliau lebih banyak menyimak proses diskusi itu dan ikut terkekeh kekeh melihat peserta pada saat ice breacker permainan sekoci dan angin bertiup berlangsung.

Pada sesi penutupan, beliau diberikan kursi pelastik warna putih, satu-satunya kursi yang ada di forum Strategic Planning. Beliau berpesan dalam sambutan penutupan acara bahwa nasib itu tidak bisa berubah jika buka kita yang merubahnya. Tuhan hanya meridhoi usaha kita setelah manusia sudah berusaha dengan sekuat tenaga. Strategic Planning ini, merupakan suatu usaha kita untuk memajukan lembaga ke depan. Acara ditutup dengan foto bersama. (*)

 

__Terbit pada
31 Juli 2022
__Kategori
ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *