Dewi Sartika

“Maafkan… Sering Menyusahkan”

Penampilannya sederhana, tetap selalu optimis. Suka mengalah untuk sebuah kebaikan. Perempuan yang akrab dipanggil Dewi itu, berbagi cerita menghadapi masa sulit sebelum duduk di bangku kuliah.

Sejak lulus dari bangku SMP, ia mengaku kecewa dan putus asa. Bercampur menjadi satu rasa. Saya harus mengalah, tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

Anak ke lima dari tujuh bersaudara itu, kendala ekonomi keluarga yang mengharuskan tidak melanjutkan pendidikan. Maklum kakak perempuan saya lulus di perguruan tinggi negeri.

Membutuhkan biaya yang tak sedikit. Saya putuskan ikut bersama paman ke ibu kota negara, DKI Jakarta, sembari mengisi waktu luang.  Saya sempat kecewa. Rasanya, itu tidak adil bagi saya.

“Bapak saya selalu berkata, ingin melihat anak-anaknya¬† mengenyam pendidikan, meskipun hanya pada tingkatan SMA. Minimal ijazah SMA,” dalam hati, mengulang cerita sang Bapak.

Maklum, orang tua saya tidak tamat sekolah dasar (SD). Selama satu tahun, tinggal di rumah paman, saya banyak pengalaman dan pembelajaran berharga.

Saya terkadang iri melihat sepupu bisa bersekolah dengan fasilitas memadai. Tetapi, perasaan itu, saya buang jauh-jauh. Saya yakin suatu saat bisa melanjutkan sekolah. Ini hanya persoalan waktu.

Mengisi waktu selama tinggal di Jakarta, saya membantu tante menjaga warung nasi dan usaha warnetnya. Warnetnya ramai dikunjungi anak sekolahan.

Akhirnya, tiba tahun ajaran baru, sekolah kembali menerima siswa baru, tidak terasa menganggur selama satu tahun berjalan dengan banyak pelajaran hidup. Saya bersyukur mendapatkan kembali kesempatan untuk bersekolah.

Tepatnya tahun 2017, saya kembali ke Sulawesi Selatan, atas izin Allah, orang tua meminta saya kembali melanjutkan pendidikan yang tertunda. Saya memilih bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri, Kabupaten Wajo.

Setelah lulus, lagi-lagi saya yang kembali diterpa dilema antara ingin melanjutkan pendidikan atau kembali menjadi pengangguran. Saya kembali bekerja di tokoh milik orang lain, sambil menunggu kampus buka penerimaan mahasiswa baru.

Saat itu, bulan suci Ramadhan, di mana orang lain memilih kembali berkumpul bersama keluarganya. Saya harus tinggal bersama rekan untuk bekerja.

Saya mengangkat barang dari gudang yang cukup berat untuk kembali disusun di rak pajangan dan dijajakan ke konsumen. “Saya tidak bisa terus seperti ini,” gumamku dalam hati.

“Saya ingin menjadi penulis atau wartawati, mau menjadi pembicara yang hebat. Kata orang ucapan adalah doa hehe.”

Setelah lulus dan menerima ijazah di MAN, saya mendapatkan informasi mengenai program studi Jurnalistik Islam di IAIN Parepare. Saya berdiskusi dengan orang tua dan keluarga. Mereka mendukung keinginan saya.

Saya pun mengikuti tes seleksi UMPTKIN. Sejak awal saya sudah bisa mengurus diri sendiri dengan numpang di teman saya untuk mengikuti ujian.

Hampir sebulan setelah mengikuti test, saya berdoa di sajadah, meminta kepada Allah agar di lapangkan setiap usaha dan menjadi takdir baik bagi saya. Semua saya pasrahkan kepada Allah.

Saya mendengar kabar dari teman-teman, saya dinyatakan lulus. Saya terharu, bahagia. Doa-doa saya diijabah Allah dengan kabar kelulusan Saya.

Saya langsung mengabarkan orang tua saya. “Mama, saya lulus di Program Studi Jurnalistik.”

Ibu saya memelukku dan seketika larut dalam suasana bahagia. Di balik kabar bahagia itu, orang tua saya harus bekerja keras. Ia sedang membiayai pendidikan anak-anaknya.

Kakak laki-laki saya juga yang lulus di jalur Program Studi Kimia di UIN Alauddin Makassar. Saya tidak bisa gambarkan perjuangan orang tua saya.
Mereka pantang menyerah, Ibu saya yang rela mencari pundi-pundi rupiah di kantin sekolah SMP. Bapak saya sebagai tukang bersih-bersih di SMP tempat saya bersekolah dulu.

Tatapi, siapa sangka pengorbanannya terbalas dengan dua anaknya yang saat ini sudah lulus pendidikan strata satu (S1) di perguruan tinggi negeri di Makassar.

“Hanya berjualan di kantin, tetapi bisa membiayai anaknya sekolah hingga sarjana.”

Saya setiap ingin berangkat kuliah selalu menyempatkan pamit ke Ibu di kantin SMP. Kemudian mencari Bapak yang sedari pagi sudah menjelajahi halaman sekolah untuk dibersihkan.

Pernah suatu hari saya menemuinya seperti biasanya di bawah pohon besar yang lebat ia membersihkan setiap daun yang berjatuhan.

“Maaf, saya banyak menyusahkan bapak. Saya hanya bisa. Tetap tidak pernah perlihatkan di depannya.”

Saya menghampirinya mencium tangannya, ia membersihkan tangannya di kain bajunya dan menyambut uluran tanganku. Berharap diiringi doa setiap langkah yang kutempuh sebelum ingin berangkat kuliah.

Meski di usianya yang seharusnya beristirahat, tetapi tuntutan mengharuskannya tetap bekerja. Selalu dengan ucapannya sebagai bentuk penyemangat untuk anaknya.

“Sekolah yang benar Nak biar kamu bisa jadi orang, seperti orang lain, tidak seperti bapak yang hanya jadi tukang bersih di sekolahan.”

Saya tidak pernah merasa malu dengan pekerjaan orang tua saya. Saya justru bangga punya mereka yang bisa membuktikan dengan segala keterbatasan pun tidak menjadi alasan untuk menyerah.

Sekarang tersisa saya dan si bungsu yang masih dibiayai. Saat kuliah offline atau tatap muka saya meminta izin tidak membantunya bekerja.

Kini saya kembali fokus kuliah dengan segala keterbatasan. Saat kuliah offline saya harus naik motor pulang pergi (PP) Kota Parepare-Belawa, Wajo.

“Saya tidak ingin membebani orang tua dengan biaya kost dan hidup di Kota Parepare.”

“Terkadang tiga hari berturut-turut pulang pergi Kota Parepare-Wajo. Menempuh perjalanan kurang lebih 1jam, 30 menit.”

Terkadang was-was, banyak daerah sepi dan tidak ada pemukiman warga. Biasa berangkat pagi, pulang petang. Setiap perjalanan, saya selalu berdoa dan menangis.

“Saya saya harus kuat di hadapan semua orang. Di sepanjang jalan itu selalu jadi saksi betapa lemahnya saya yang harus kembali dengan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa.”

Saya tidak ingin menuntut orang tua saya. Saya merasakan betapa sulitnya mencari uang. Orang tua saya sudah cukup banyak membiayai kami sekolah. Kakak saya baru lulus tahun ini, menempuh pendidikan lima tahun.

Saya selalu berusaha bagaimana meringankan beban orang tua saya dengan mengurus berkas pengurangan biaya kuliah. Alhamdulillah, berkas saya diterima sampai saya mendapatkan pengurangan 50 persen.

Terakhir di bulan puasa, saya kembali masuk bekerja di kedai kopi, seperti sebelumnya saya berangkat kerja jam 13.00 menuju daerah Tandru Tedong Sidrap, menempuh perjalanan 30 menit dari rumah di tengah terik Matahari.

Sudah terbiasa pulang kembali ke rumah malam hari. Saat pandemi masih mendera, saya kuliah sambil bekerja di bulan suci Ramadhan. Saat itu perkuliahan secara online.

Saya selalu yakni, sebaik-baiknya rencana manusia, tetaplah rencana dan ketetapan Allah yang terbaik. Semoga Allah, mempermudah setiap apa yang menjadi urusanku. Aamiin. (*)Laporan : Dewi Sartika (Mahasiswi Prodi Jurnalistik Islam, IAIN Parepare)

__Terbit pada
31 Juli 2022
__Kategori
Culture, Lifestyle

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.