ibrahim-fattah

SELAMAT TINGGAL KOTA KUPANG, TEMPAT MENDESAIN PROGRAM INKLUSI BaKTI

Oleh : Ibrahim Fattah, Direktur YLP2EM.

Waktu menunjukkan pukul 16.30 waktu Kupang, seluruh rangkaian Workshop Scoping Desain Program Inklusi-BaKTI sudah selesai. Tim fasilitator diwakili oleh mas Nanda menyampaikan terima kasih atas partisipasi peserta.

Tidak ada acara khusus pada puncak acara seperti pada acara formal lainnya, yang biasanya ada acara penutupan lengkap dengan protokol dan susunan acaranya. Begitulah pada umumnya kegiatan LSM, kadang-kadang mengabaikan prosedur formal karena substansinya yang lebih diutamakan.

Pada saat Workshop ditutup, matahari masih cukup terang, mata saya masih bisa dengan leluasa melihat desiran ombak dari balik jendela di ruangan Worshop di lantai 2.

Terbetik sepintas niat saya untuk mengulangi kembali menikmati berendam di pantai di belakang hotel Sotis, tetapi yang saya pikirkan bagaimana dengan baju dan celana saya jika basah, pasti tidak kering sampai besok pagi.

Saya mengurungkan niat itu dan lebih memilih ajakan Madam untuk jalan-jalan bersama beberapa teman yang sudah menunggu di loby hotel.

Menjelang senja, mobil Madam meluncur meninggalkan hotel Sotis menuju kantor Gubernur NTT yang terkenal dengan ikon Sasandonya yang menjulang tinggi, menarik dijadikan latar belakang foto. Sasando adalah alat musik lokal NTT berbahan bambu.

Saat tiba di depan Kantor Gubernur NTT, pak Suherman, direktur Lombok Risec Center (LRC) sudah datang duluan bersama temannya yang katanya fotografer. Pak Suherman meminta tolong kepada temannya itu untuk memotret kami yang sedang berdiri di tangga menuju pintu utama kantor Gubernur NTT.

Dalam perjalanan dari hotel ke Kantor Gubernur NTT, Madam menceritakan keunggulan Dewan Kerajinan Nasional Daerah atau Dekranasda Propinsi NTT.

Sepanjang perjalanan, Madam mempromosikan Dekranasda NTT sambil menyetir mobilnya. Dalam pikiran saya, Kantor Dekranasda pada umumnya hanya berisi hasil kerajinan daerah dan tidak tertata.

Madam terus meyakinkan di dalam mobilnya sambil menyetir, sayang kalau teman-teman sudah di Kupang lalu tidak berkunjung kesana, maksudnya kantor Dekranasda NTT. Sebagai tamu, apa salahnya jika mengikuti ajakan tuan rumah.

Begitu memasuki halaman parkIr Kantor Dekranasda NTT, pikiran saya ternyata salah besar. Sambil Madam memarkir mobilnya, dibalik kaca mobil, saya mengamati kantor itu. Kesan awal yang ada dipikiran saya, yaitu seperti kalau saya sedang memasuki kafe berkelas.

Di tempat parkir sebelah kiri ada tulisan “parkir khusus”, tempat ini hanya tersedia untuk 2 mobil, saya berjalan menuju pintu masuk, saya melihat ada gambar kursi roda di tempar parkir khusus itu, saya langsung paham bahwa parkir khusus itu hanya dikhususkan bagi pengunjung yang menggunakan kursi roda. Itu artinya orang normal tidak boleh memarkir mobilnya di tempat tersebut.

Saya masuk melalui pintu tama kemudian berdiri sejenak di ruang tengah, interiornya sangat menarik. Disi kanan, ada café, mirip café di mall, tata letak meja yang disenangi anak milenial.

Di sisi kiri, ada tiga ruangan yang saling terhubung yaitu ruangan yang menyediakan makanan dan minuman kemasan, ada juga ruangan untuk obat herbal berbahan lokal, dan ada juga ruangan anyaman yang menyatu dengan meja kasir. Tempat dan model kemasan makanan, minuman dan obat herbal itu penampilannya tak kalah baiknya dengan kemasan produk pabrik.

Saat saya memasuki ruangan makanan dan minuman, saya memutuskan membeli teh daun kelor, dikemas dalam kotak segi empat warna hijau, kemasannya sangat menarik.

Pada saat saya membayar di meja kasir, teh daun kelor itu dimasukkan ke dalam tas mungil terbuat dari kain berwarna putih tulang, ditulis dalam warna merah, huruf kapital “BETA NTT”.

Saya kemudian bergegas keluar dari ruangan meja kasir, Madam mengajak ke bagian belakang melihat ruangan pemrosesan biji kopi NTT hingga menjadi kopi bubuk.

Untuk menuju ruangan ini, ada ruangan berukuran sekitar 4 X 5 meter, di atas pintu ruangan itu tertulis ruangan Ketua Dekranasda NTT. Ini ruangan ibu ketua, sekali sepekan kesini berkantor, kata Madam yang seolah berperan seperti pemandu wisata.

Saya dan ibu Suzan, ibu Husnah dan Ibu Lusi, sudah merasa cukup dapat informasi di ruangan kopi, kami diantar naik ke lantai 2 melewati cafe.

Anak tangga menuju lantai 2 tingginya kira-kira 10 cm dan dikiri kanan ada pembatas yang terbuat dari besi, saya berbisik ke Madam, ini sudah tangga inklusif.

Tiba di lantai 2, ternyata disinilah pusat penjualan kain tenun khas NTT, setiap kabupaten diberikan ruangan yang berfungsi sebagai outlet kain tenun. Saya keliling di lantai 2, saya hitung jumlah ruangan atau outlet itu, ada sekitar 20-an yang masing-masing ruangan tertulis nama kabupaten asal tenun tersebut.

Di ruang tengah lantai 2, ada 3 ibu-ibu yang sedang menenun, saya menghampirinya dan bertanya, berapa hari mama kerja ini sampai menjadi kain?, dijawabnya kalau ukuran kecil, bisa selesai 3-4 hari, kalau ukuran besar, bisa selesai 7-8 hari.

Tradisi menenun di beberapa daerah di NTT sudah berlangsung lama dan setiap daerah masing-masing memiliki khas tertentu. Bagi masyarakat NTT, kain tenun bukan hanya berfungsi sebagai bahan pakaian tetapi juga ada fungsi lainnya seperti fungsi sosial, agama, estetika dan tentu saja fungsi ekonomi.

Fungsi terakhir ini jika diorganisir dengan baik, tentu akan menggerakkan perekomian daerah yang pada akhirnya akan berdampak pada kesejahteraan pengrajin tenun yang umumnya dilakukan oleh perempuan.

Melihat tiga ibu-ibu yang duduk memintal kain tenun itu, saya teringat dengan kain sutra Sengkang, Sidrap, dan Toraja.

Di Sulawesi Selatan, setahu saya hanya tiga daerah ini yang memiliki kerajinan tenun. Hasil kerajinan tenun di tiga daerah di Sulsel itu setahu saya belum ada tempat penjualan khusus di Makassar sebagai ibukota Sulawesi Selatan seperti yang diinisiasi oleh Dekranasda NTT.

Informasi yang menarik dari Madam bahwa semua kain tenun, makanan, minuman, obat herbal dan anyaman yang dijual di Dekransda, sudah dibeli oleh ketuanya. Rakyat sudah tidak putar otak cari pembeli, tetapi ketua Dekranasda yang berurusan mencari pembeli.

Kain tenun NTT sebagian besar daerahnya memiliki tradisi tenun. Tradisi ini tumbuh secara turun temurun sejak lama. Bahkan kain tenun itu memiliki makna tertentu yang merepresentasikan nilai-nilai budaya dan nilai sosial di daerah itu yang sudah dimulai puluhan bahkan ada daerah yang sudah ratusan tahun, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Bagi daerah yang baru mau memulai menjadikan daaerahnya sebagai daerah yang memproduksi tenun, sepertinya sulit terwujud karena tenun itu adalah tradisi lokal yang tumbuh dan berkembang secara alamiah di komunitas tanpa ada intervensi secara terstruktur dari pemerintah.

Bagi daerah yang baru mau memulai, langkah yang lebih realistis adalah daerah itu cukup mem branding daerahnya sebagai pusat penjualan kain tenun dari daaerah penghasil tenun. Daerah penghasil tenun dengan daerah lainnya berkolaborasi sebagai rantai nilai dari hulu ke hilir.

Saya sudah merasa cukup keliling ruangan di lantai 2, saya turun kembali ke lantai 1. Di ruang café sudah ada ibu Lusi, ibu Suzan, dan tentu saja Madam.

Saya duduk satu meja dengan mereka yang sedang menikmati minuman dan cemilan lokal, namaya bidara, berwarna hitam, rasanya manis asam dan ada rasa asinnya.

Perpaduan tiga rasa ini menambah nikmat buah bidara itu yang dikemas dalam plastik segi empat. Saya memesan minuman teh daun kelor untuk melengkapi nikmatnya buah bidara.

Di meja kasir sekaligus tempat memesan makanan atau minuman, ada tulisan tertera di depan meja kasir “Teman yang bertugas hari ini tuli”.

Setiap pengunjung yang ingin memesan makanan atau minuman harus menulis pesananannya. Ketika saya menulis pesanan teh daun kelor, penjaga kasir yang tuli itu dengan cepat menulis untuk saya baca, maksudnya dia mengkorfirmasi pesanan saya “panas atau dingin”, saya tulis panas, diapun mengangguk tanda mengerti pesanan saya.

Beberapa menit kemudian, pesanan teh daun kelor itu diantar di meja saya. Saya melirik gelas yang berada di depan saya, warnanya hijau dan disiapkan gula pasir dalam kemasan dibungkus kertas. Rasanya memang rasa daun kelor.

Selama saya berada di kantor Dekranasda, saya mendapatkan lima praktek layanan inklusif, yaitu pertama tempat parkir khusus bagi pengguna kursi roda, kedua anak tangga yang hanya setinggi sekitar 10 cm, ketiga penjaga kasir sekaligus tempat memesan makanan atau minuman di café adalah orang tuli, keempat ternyata karyawan yang tuli bukan penghambat bagi meeka untuk bekerja di cafe, dan kelima Kantor Dekranasda membuka akses bagi penenun untuk dihubungkan dengan pasar.

Secarik kertas yang bertuliskan bahwa yang bertugas hari ini tuli, kelihatan sederhana tetapi sangat bermakna. Tujuannya agar pengunjung memahami atau bisa menyesuaikan diri dengan situasi tersebut.

Di hari terakhir di hotel Sotis, masih agak pagi, ibu Leny kembali mengingatkan melalui pesan watshap di grup Inklusi BakTI agar semua peserta yang berangkat tujuan penerbangan Makassar agar chek out dan berkumpul di loby hotel jam 10.45 Wita, lengkap dengan grup satu mobilnya ke bandara ElTari.

Saya melihat jam di handphone, saya bergumam dalam hati, masih banyak wktu ini jika saya jogging di pantai sebelum sarapan pagi. Saya dan pak Samad menelusuri bibir pantai tanpa alas kaki dari ujung ke ujung yang kira-kira berjarak 300 meter, saya berdua berjalan dua kali bolak balik di ujung pantai, mungkin saya dan pak Samad menempuh jarak sekitar 600 meter.

Sarapan pagi di hari sabtu, 23 Juli itu merupakan sarapan pagi bareng-bareng sebelum perpisahan dengan peserta dari 7 lembaga menuju daerah masing-masing.

Banyak pembelajaran dari Workshop Scoping dan Desain Program Inklusi-BaKTI, sekaligus ada “suplemen” yang dibawa pulang ke daerah untuk menyiapkan kegiatan berikutnya yang molor karena 2 bulan pertama kegiatan difokuskan pada penandatanganan MoU dengan ketua DPRD dan Kepala Daerah masing-masing dan dilanjutkan dengan kegiatan desain Program Inklusi bersama Pemda dan desain program Inklusi bersama DPRD.

Kegiatan pertama yang sudah direncanakan YLP2EM setelah tiba di Parepare, yaitu Strategic Planning untuk menyusun rencana lembaga untuk 5 tahun ke depan sambil membenahi sejumlah dokumen SOP yang mau disesuaikan dengan perkembangan saat ini.

Selama masa pandemi sepanjang tahun 2020 sampai tahun 2021, pembelajaran berarti yang perlu diinternalisasi kepada semua staf lembaga adalah bagaimana lembaga mampu survive, harus mampu bertahan hidup di tengah keterbatasan sumberdaya.

Workshop Scoping dan desain program Inklusi-BaKTI selama 3 hari di Kupang semoga menjadi inspirasi bagi semua lembaga mitra untuk berbenah dan mampu memberi kontribusi terhadap capaian IOPO BaKTI. (*).

__Terbit pada
25 Juli 2022
__Kategori
Culture, ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.