Yusran

Jangan Panggil Aku Editor

Menjadi seorang editor tidaklah mudah, sejak kecil saya sudah tertarik dunia komputer. Dulu di rumah kami memiliki satu unit komputer. Komputer biasa dimanfaatkan kakakku untuk keperluan sekolah di SMK Negeri 1 Pinrang.

Saat pulang sekolah, komputer itu saya sering gunakan bermain game. Sejak kecil suka menggambar. Suatu ketika saya menemukan aplikasi bawaan Windows yaitu Paint.

Aplikasi ini saya pakai menggambar sesuai imajinasiku. Meski saat itu, anak-anak di usiaku, mengganrungi film Anime Naruto. Saya menggambarnya meskipun tidak sebagus gambarku di atas kertas.

Suatu malam, kami sedang berkumpul bersama keluarga, kakakku pun bercerita, di SMK 1 Pinrang ada jurusan Multimedia. Saya tertarik di jurusan itu. Saat itu masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saya mulai mengenal internet.

Setiap pulang sekolah, menyempatkan diri ke warnet dekat rumah, sekadar browsing tentang game gambar-gambar Naruto. Saat menginjak sekolah menengah pertama, kebiasaan ke warnet berlanjut.

Saya bermain game online, setiap hari, bermain game online, seperti POINT BLANK, LOST SAGA, MODOO MARBLEE, dan beberapa game di Facebook. Kadang dimarahi orang tua.

Bermain game itu bukan hanya menghabiskan uang, tetapi di warnet banyak teman, juga belajar. Sampai suatu ketika saya mendapat tutorial di Youtube tentang penggunaan aplikasi Photoshop, saya langsung mengklik video tersebut dan mempelajarinya.

Saya mendownload aplikasi tersebut dan mempelajarinya, tapi ternyata tidak semudah yang saya pikirkan, bingung cara memakai aplikasi, saya acak-acak sambil melihat tutorial di Youtube.

Perlahan saya mulai memahami Photoshop, mulai mengedit foto, meskipun hanya bisa memindahkan foto wajah lucu ke foto yang lain dan mengganti warna background. Tetapi itu,sudah cukuplah kelas pemula.

Saat lulus SMP, mendaftar di SMK Negeri 1 Pinrang dan tanpa berpikir panjang mengambil jurusan Multimedia, mengikuti tes, mengisi lembaran soal dengan teliti.

Meskipun tidak semuanya kukerjakan dengan benar. Tetapi berusaha untuk mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Tiba saatnya pengumuman, saya bergegas menuju ke papan pengumuman. Alhamdulillah, saya lulus dengan peringkat 23.

Saya sangat senang masuk di sekolah yang saya idam-idamkan. Saatnya pembagian kelas, saya di kelas Multimedia 2. Suatu ketika salah satu guru Produktif Multimedia memberikan motivasi, kami tegang.

“Kenapa memilih Multimedia. Padahal Multimedia ini banyak siswanya yang tinggal kelas,” katanya, membuat suasana hening.

Saya kaget. Tetapi tetap dengan pendirianku untuk tetap bersekolah di jurusan Multimedia. Saya tidak mudah bergaul, beruntung semua temanku pandai bergaulan. Saya cepat berteman dengan mereka.

Sampai suatu waktu, saya baru tahu kalau semua guru produktif Multimedia dikenal dengan sangar dalam kedisiplinan. Setiap masuk kelas, suasana hening, tanpa suara. Selain itu, kami juga diajar Pak Hasanuddin Syam S.Kom, MM. Ketua Jurusan Multimedia, selalu manasihati.

“Jika gagal dalam menjawab pertanyaannya, maka dada kami atau cowok akan dicubit dan kalau cewek akan dicubit di bagian lengan mereka.”

Saya mendapat total 7 cubitan di dada kira dan kanan. Tapi bukan aku saja yang dapat cubitan sebanyak itu beberapa temanku juga dapat.

Saat masuk semester 2, temanku gugur ada yang memilih untuk pindah jurusan dan ada berhenti sekolah. Setelah kelas 2, kami sudah mulai akrab sama guru Produktif kami ternyata mereka tidak sekejam di awal sekolah.

Mereka mulai bercanda memberikan lelucon. Kami sekelas tertawa meski kadang tak garing, Tetapi dari pada kena cubit, mending ketawa. Kami mulai belajar edit video, edit foto, sampai membuat animasi.

Kami semakin sedikit, mengikuti pembelajaran. Ciri khas guru produktif kami hanya disuruh untuk mengerjakan tugas yang mereka berikan tanpa memberikan langkah-langkah atau aplikasi yang harus kami gunakan.

Kami belajar memanfaatkan tutorial di Youtube. Itulah kenapa saya sering menyebut bahwa Youtube adalah guruku, Saya belajar teknik editing dari Youtube.

Kami disuruh mengerjakan tugas membuat iklan makanan daerah, layanan masyarakat, dan lain – lain. Sungguh aktivitas yang sangat melelahkan. Tetapi harus tetap kami lakukan karna itu sudah menjadi tanggung jawab kami semua.

Kami mengerjakannya bersama-sama dengan saling mengajari satu sama lain, atau saling berbagi ilmulah dari apa yang dipelajari di Youtube.

Alhamdulillah! Setelah pengumuman, nilaipun keluar, nilai editing videoku bisa mencapai angka 85, nilai editing fotoku 90, dan nilai animasiku 87. Hem.. Sungguh angka yang sangat memuaskan mengingat saya belum begitu paham tentang editing.

Liburpun tiba, saya mencari bahan diedit di rumah. Sekadar mempertajam skill edit foto, video, animasi. Editing video, belajar membuat sinematik, transisi, efek dan berbagai macam lainnya.

Sedangkan edit foto, belajar memanipulasi, membuat cover, membuat kalikatur, bahkan membuat WPAP. Animasi paling cuman membuat animasi bergerak.

Saat kelas 3 SMK, saya ingin agar karyaku dilihat orang, meskipun belum sempurna. Saya berinisiatif membuat Channel Youtubeku sendiri dengan mengisi konten, main game vlog dan lain lain.

Saat itu, subscriber hanya 4 orang. Tetapi tidak masalah, membuat channel Youtube ini hanya untuk membagikan atau sekadar menyimpan video hasil karyaku di internet.

Saat lulus SMK, saya berencana melanjutkan kuliah di Kota Makassar, tetapi orang tua hanya menyetujui saya kuliah di Kota Parepare. Saya agak kecewa.

Tetapi, apapun keputusan orang tua pasti yang terbaik buatku. Biaya hidup di kota seperti Makassar tidaklah gampang, saya diminta untuk kuliah STAIN Parepare (IAIN).

Saya pilih prodi Jurnalistik Islam untuk pilihan pertamaku dan Komunikasi Penyiaran Islam sebagai pilihan keduaku. Saya lulus di Jurnalistik Islam, lewat jalur mandiri dengan luksu di peringkat ke tiga.

Saya mengikuti prosedur sebelum masuk kuliah seperti Opak, penyambutan Maba, dan lainnya. Saya mulai bergaul dengan teman–teman yang ada di prodi JI.

Saya memilik sahabat Muh. Syukur, Andi.Raul Sanapati, dan Muhammad Arsyadi.
Kami sering kumpul sekadar bercerita, menyanyi sambil main gitar dan minum kopi dan merokok bersama.

Kami berempat itu unik adalah kami berasal dari kampung yang berbeda, Syukur berasal dari Bakaru, A. Raul dari Kota Parepare, Arsyadi dari Takalar. Tetapi perbedaan itu membuat kami sudah seperti saudara.

Kamipun sering bersama–sama mengerjakan tugas, meskipun tidak seperti teman yang lain. Kami berusaha kadang kami absen dalam mata kuliah hanya karna malas ataupun lagi asik menonton film.

Sampai saat ini, solidaritas masih kami jaga antar mahasiswa JI angkatan pertama, dengan keahlian kami masing-masing yang membuat tali persaudaraan kami semakin erat.

Saya bersyukur kuliah IAIN Parepare, dipertemukan dengan teman hebat yang memiliki banyak potensi di bidang mereka masing masing.

Kadang saya merasa bangga dengan mereka meskipun saya tidak memberi tahu mereka secara langsung. Tetapi mungkin melalui tulisanku ini aku bisa mengutarakan perasaanku kepada teman–temanku yang sekarang.

Saat semester 5, karyaku mulai dilirik dosen. Saat kuliah Analisis Teks Media tiba–tiba saya mendapatkan WhatsApp dari Ketua prodi Jurnalistik Islam yaitu Dr Muh Qadaruddin, saya kaget.

Pak Qada begitu kami menyapanya, meminta saya untuk menghadap ke ruangnya sehabis kuliah. Saat kuliah usai, saya langsung menghadap Pak Qada. Ia meminta saya menjadi pendamping Pak Taufik (desen) untuk membuat beberapa konten ataupun sekadar mengedit video,

Pak Qada mendapat info dari A.siti dan Ella. Saya berterima kasih kepada mereka yang sudah merekomendasikan saya ke Pak Qada dan Pak Taufik. Saya mengerjakan beberapa project yang diberikan Pak Taufik.

Meskipun pekerjaanku cukup lama karena editor tidak hanya sekadar mengedit video. Tetapi mempunyai mood agar hasilnya maksimal. Jika mood editor sedang tidak baik, maka hasilnya tidak akan maksimal. Editor itu juga sering dihantui deadline.

Di semeter itu banyak tugas membuat dan mengedit video. Temanku memanggilku sebagai editor of Jurnalistik Islam. Itu berlebihan. Tetapi saya senang, julukan diberikan kepada orang apabila orang itu benar–benar tahu tentang keahlian orang. (*)

Laporan : Muh Yusran  (Mahasiswa Jurnalistik Islam IAIN Parepare)

__Terbit pada
24 Juli 2022
__Kategori
Culture, Lifestyle

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.