Ladang Cabai

Ibu Penopang Keluarga

Pewaktu menunjukkan pukul 13.30 Wita, Matahari cukup terik. Siang itu, Selasa, 19 Juli 2022, saya menuju sebuah desa penghasil cabai. Mengendarai kendaraan roda dua, melewati jalan aspal, tapi tak mulus.

Setelah 1 jam berkendara, saya tiba di Desa Sappa, Kecamatan Belawa, Sulawesi Selatan. Desa itu terkenal dengan budidaya cabai, sebagian besar warganya juga bercocok tanam sayuran dan bumbu dapur lainnya.

Saya bertemu Ibu Mastura, petani cabai sukses di desa itu. Di rumahnya selalu ramai, banyak warga berkumpul. Menjelang sore saya disambut beberapa warga bercengkrama di bawah kolong rumah yang sejuk, menunggu kedatangan Ibu Mastura.

Tak lama Ibu Mastrura datang dari berkebun dengan membawa botol air minum dan ember, mengenakan pakaian penutup wajah dan topi yang biasa ia kenakan di saat berkebun, melindungi kulitnya dari sengatan Matahari.

Peluhnya nampak mengucur deras membasahi pakaian, ia menghela napas, membuka penutup wajahnya. Ia tersenyum dan menyapaku yang telah menunggu di bawah kolong rumahnnya.

“Apa kabar Nak, sudah lama menunggu,” sapa Ibu Mastura dalam bahasa Bugis, tersenyum.
“Baik Bu, maaf Bu mengganggu,” jawabku, menghampirinya mencium tangannya.

Ibu Mastura duduk di kursi, ia bercerita, aktivitasnya sehari-hari sebagai petani cabai. Ia rutin ke kebun, minimal dua kali dalam sepekan.

“Saya mengontrol tanaman cabai, membersihkan rumput liar, memetik cabai yang sudah mulai memerah (siap panen),” ceritanya.

“Saya sudah biasa menggarap kebun untuk ditanami cabai. Hasil panen dijual ke pasar atau ke pengepul,” ujar Ibu Mastura.

Ia menekuni pekerjaan itu, sejak berpisah dengan suaminya. Ibu Masturah bersama anaknya tidak putus asa. Ia tidak pernah mengeluh dengan keadaannya, ia bisa menghidupi kedua anaknya.

Hembusan angin di kolong rumah kayu panggung miliknya, makin kencang, membuat suhu makin sejuk. Ibu Masturah menceritakan, ia tinggal bersama anak perempuannya dan anak lelakinya yang kini sudah berkeluarga serta saudara laki-lakinya.

Lalu Ibu Mastura mengajak saya naik ke rumahnya, saya beranjak dari peristirahatan naik ke rumah. Dari dalam rumah terdengar seorang ibu menjawab salam dan persilakan masuk.

Duduk di ruang tamu, saya bersama Ibu Mastura melantai di bagian sudut rumahnya, ia menyuguhkan segelas teh hangat, melanjutkan wawancara.

“Permisi ibu, mohon maaf mengganggu waktu ibu kedatangan saya di sini ingin mewawancara. Sekiranya ibu berkenan,” kataku, minta izin.

“Iya nak silakan,” jawab Ibu Mastura dengan nada pelan dan selalu tersenyum, sambil memegang cangkir berisi teh hangat dan kemudian menyuguhkan kepada saya.

“Silahkan diminum Nak” lanjutnya dengan ramah, bibirnya selalu mengambang.
“Iya ibu, terimakasih” jawabku yang sedang mempersiapkan beberapa daftar pertanyaan.

Ibu Masturah menatapku, tampak mata Ibu Mastura berkaca, meski tetap senyum saat saya bertanya soal aktivatisnya sebagai petani cabai.

Seolah dia mengingat sesuatu, wajahnya berubah, pipinya yang mulai mengkerut, menunduk wajahnya, seakan tidak sanggup menjawab pertanyaanku.

“Perempuan seperti saya harus bisa menjalani dua peran sebagai Ibu dan Ayah, sekaligus membiayai keluarga. Ibu menjadi tulang punggung keluarga sudah lama semenjak memilih berpisah dengan suami Ibu,” katanya terisak, sambil mengusap air matanya.

“Saya berusaha mencukupi kebutuhan keluarga ibu dengan berkebun. Alhamdulillah, Allah selalu membuka jalan terbaik,” katanya, bibirnya gemetar masih ada yang ingin ia sampaikan tapi tertahan.

Ibu kembali tersenyum jelas tergambar banyak yang tidak sanggup ia ceritakan. Ibu Mastura melanjutkan ceritanya, memilih bertani karena tanah di desanya subur da cocok untuk bertani.

“Saya memilih bertani karena melihat daerah sekitaran sini banyak yang bertani dan bercocok tanam, menaman cabai. Saya mengawalinya dengan menggarap salah satu kebun kerabat saya,” katanya.

“Sampai akhirnya memutuskan menggarap dan menanam cabai di kebun sendiri, saya juga menanam cabai di sekitaran halaman rumah yang bisa ditanam cabai,” jelas Ibu Masturah.

Hari semakin sore tidak terasa, teh hangat yang sebelumnya kuseruput hampir habis. Ibu Masturah masih hangat menyambutku yang sudah sedari tadi menghabiskan waktunya menjawab pertanyaanku.

Sejak menggeluti pekerjaan menanam cabai, ia tak kesulitan memenuhi kebutuhan sehari anak-anak dan keluarganya.

“Saya tak pernah berputus asa, Ibu memilih bercocok tanam, Alhamdulillah sedikit banyaknya kebutuhan ibu selalu terpenuhi. Salah satu hasil dari bertani cabai ibu sudah mampu membangun rumah di tanah bagian belakang rumah peninggalan orang tua ibu.”

“Hidup terus berjalan Nak, mengeluh dan putus asa tidak akan merubah keadaan tanpa usaha,” pesan Ibu Masturah.

Ia menasihatiku agar selalu menjadi pribadi yang lebih baik.
Ia menceritakan, mulai menanam cabai sejak tahun lalu. Ia bersyukur hasil panen selalu melimpah, meski ada gangguan, seperti hama dan cuaca.

“Saat cuaca kurang bagus, hasil panen juga berkurang. Kalau kemarau tanaman tidak dibiarkan kekeringan, saya rajin menyiram agar berbuah dan tumbuh subur,” ceritanya.

Saat musim hujan terkadang hasilnya kurang maksimal. Banyak tanaman cabai yang terkena hama jika tidak rutin diberi pupuk dan disemprot anti hama.

Ia pun berbagi tips agar tanaman cabai subur dan tidak terkena hama. “Wah banyak sekali nak. Salah satunya rajin memupuknya, memberikan perangsang, dan paling penting menyemprotkan anti hama pada tanaman cabai.”

Mengenai hasil dari bercocok tanam cabai, Ibu Masturah, mengaku, bersyukur bisa membangun rumahnya dari hasil berkebunan.

“Tergantung luas tanaman cabai. Kalo lahan luas, bisa mencapai ratusan juta rupiah,” jawabnya.

Jam dinding menunjukkan pukul 17.45, saya pamit pulang ke Kota Parepare.
“Jangan sungkan untuk berkunjung kemari lagi Nak,” pesannya, berjalan menuju arah pintu bersamaku.

Bagi Ibu Masturah, menjadi sukses di masa sekarang bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan niat dan usaha dalam menjalankannya.

Tetapi jangan berkecil hati banyak peluang yang bisa dimanfaatkan, seperti yang dialami Ibu Masturah. Petani cabai dari Desa Sappa, memenuhi kebutuhan keluarganya dengan bercocok tanam cabai. (*)

Laporan : Dewi Sartika
Mahasiswa Jurnalistik Islam, Fakultas Usuhuluddin, Adab, dan Dakwah, IAIN Parepare

__Terbit pada
23 Juli 2022
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.