IBRAHIM

Cerita Kesetiaan Buaya dan Scuping Program Inklusi di Negeri Eltari

IBRAHIMOleh : Ibrahim Fattah, Direktur YLP2EM.

Saya dan Pak Samad mewakili Lembaga Pengakajian, Pengembangan, Ekonomi, dan Masyarakat (YLP2EM) menghadiri acara Scoping desain program Inklusi BaKTI di Kupang selama 3 hari, tanggal 19-23 Juli 2022.

Pesawat mendarat di Bandara Eltari Kupang, 19 Juli, sekira pukul 15.00, udara begitu bersahabat. Sore itu, saya dan rombongan sedang menunggu jemputan Acel, staf admin UDN, sambil menikmati udara segar menjelang senja.

Kupang sore itu terasa sejuk, meski terasa capek setelah melewati perjalanan yang cukup lama dari Kota Parepare ke bandara Sultan Hasanuddin Makassar, kemudian lanjut penerbangan ke Kupang via Surabaya.

Rasa lelah itu sirna setelah tiba di kantor UDN, lembaga mitra BaKTI di Kupang, kantornya tidak jauh dari bandara. Ibu Damaris yang akrab dipanggil Madam, Direktur UDN menyambut kami dengan ramah di kantor barunya.

Di ruang tengah sudah berjejer gelas berisi jus pepaya dan pisang goreng yang rasanya sangat manis. Dahaga dan lapar langsung teratasi, bisik saya dalam hati.

Bermaksud makan siang di bandara Surabaya apa daya waktu transit begitu singkat. Bergegas chek in, lalu menuju ruang tunggu di pintu 14 tujuan Kupang. Setelah menempuh penerbangan lebih satu jam, kami tiba di Kupang.

Pewaktu menunjukkan pukul 17.00, saya dan rombongan dari lembaga mitra BaKTI dan tim BaKTI pamit menuju hotel. Bobby staf UDN yang lain, menggantikan Acel menyetir mobil mengantar kami menuju Hotel Sotis, tempat kami menginap.

Saat tiba di Hotel Sotis, keindahan pantai memanjakan mata, hamparan pasir putih menarik untuk dijajal sore itu. Halaman belakang hotel bersambung dengan pantai.

“Saya akan berendam di pantai menyegarkan tubuh,” bergumam, sambil berjalan ke belakang hotel, menikmati pantai.

Dari kejauhan, terlihat ramai orang di pantai, mencari kepiting. Pantai berpasir dipadu cahaya lampu membuat suasana alam makin indah dan sejuk.

Seorang anak muda yang sedang duduk di di pembatas hotel dengan pesisir. Saya bertanya kepada anak muda itu, apakah di pantai itu berpasir, banyak karang atau berlumpur?

Besok pagi saya mau berendam sebelum mengikuti pertemuan. Jawaban anak muda itu membuat nyali saya ciut, anak muda itu bercerita “biasa tiba-tiba muncul buaya di pantai sini.”

Informasi ini tentu tidak lazim karena buaya itu umumnya hanya ada di sungai. Penasaran dengan informasi yang tak lazim itu, saya informasikan ke grup watshap program Inklusi-BaKTI.

Respon yang muncul tidak ada yang memberi jawaban serius, semua jawaban nadanya bercanda. Saya makin penasaran dengan respon yang tak memberi Informasi yang saya bisa jadikan sebagai rujukan untuk mengambil sikap besok pagi tanggal 20 Juli.

Apakah saya tetap berendam di pantai sesuai rencana atau cukup jogging saja di bibir pantai.

Jawaban Pak Yusran, direktur BaKTI, pada saat saya bersamaan sarapan pagi sambil ngobrol tentang rencana saya berendam di pantai belakang hotel, tetapi di sisi lain ada informasi kalau di pantai belakang hotel Sotis itu biasa tiba-tiba muncul buaya.

Pak Yusran, memberi jawaban yang melegakan saya, “itu tidak mungkin ada buaya di pantai.”

Nyali saya kembali kuat untuk melanjutkan rencana berendam setelah pertemuan sore pada hari pertama, tanggal 20 juli.

Menjelang acara sesi siang dimulai setelah peserta makan siang, sambil menunggu peserta lainnya, Pak Yusran dan beberapa peserta lainnya ngobrol lepas dengan cerita jenaka.

Pak Yusran bercerita bahwa buaya itu adalah binatang yang paling setia kepada betinanya. Buaya jantan hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya.

Jika pasangannya lebih dulu mati, maka buaya jantan tidak akan mencari betina lain. Padahal cerita bersiliwerang selama ini jika ada lelaki yang suka gonta ganti pasangan, maka lelaki itu diberi nama dengan istilah “buaya darat”.

Cerita buaya darat ternyata 180 derajat berbeda dengan buaya sungguhan karena jika si buaya jantan tidak bertemu dengan pasangan betinanya setelah berpisah dalam waktu lama, maka si jantan tidak akan berpindah ke betina lain sampai bertemu kembali dengan pasangan baru.

Jika pasangan betinanya itu meninggal, maka seumur hidup si jantan itu tidak akan mengganti atau tidak akan berpindah ke lain hati kepada betina lainnya.

Ada yang menimpali cerita Pak Yusran, kalau begitu ceritanya, mengapa justru ada istilah buaya darat yang bermakna bahwa buaya itu suka gonta ganti pasangan?

Buaya itu setia kalau di air, tetapi kalau di darat sudah lain cerita. Mirip candaan dengan istilah “istiqomah”, ikatan suami takut kalau di rumah.

Cerita lepas bersama Pak Yusran dan peserta lainnya tentang kesetiaan buaya jantan kepada pasangannya pada saat menjelang dimulainya sesi siang di hari pertama, tanggal 20 Juli, merupakan cerita yang baru saya dengar.

Menjelang senja, acarapun ditutup oleh fasilitator Mbak Ida sambil mengingatkan bahwa besok pagi acara dimulai pukul 08.30.

Saya dan Pak samad beranjak meninggalkan ruangan menuju kamar di lantai 4, di dalam lift saya mengajak Pak Samad menemani saya berenang di pantai sambil berharap semoga dia setuju dengan ajakan saya.

Pak Samad merespon baik ajakan saya itu, dalam hati saya sangat semangat dan mulai melupakan cerita anak muda yang saya ajak ngobrol di belakang Hotel Sotis di malam pertama bahwa di pantai kupang di belakang hotel biasa tiba-tiba muncul buaya.

Tekad saya semakin kuat berendam di pantai, namun di luar dugaan, Madam yang sedang duduk di loby belakang menuju pintu keluar kearah pantai, saya melintas di depannya dengan celana pendek dan baju kaos oblong, dia mencegat saya.

“Jangan berendam di pantai, buaya itu betul-betul biasa muncul, jangan ambil resiko yang berbahaya.”

Saya tetap saja ke pantai, ternyata ramai, banyak anak-anak usia SMP yang main bola, ada juga beberapa diantaranya yang berenang di pantai.

Salah seorang diantara mereka saya tanya “apa betul di pantai ini biasa muncul buaya?”

“Itu cuma mitos,” jawab anak muda itu.

Saya ajak anak itu temani saya berendam, anak itu bahkan mengajak saya berenang sampai ke batas leher orang dewasa, saya memberi isyarat bahwa saya cukup di sini saja pada posisi setinggi perut. Inilah pengalaman pertama saya bertemu momen pantai tetapi selalu diliputi kekhawatiran buaya.

Seusai makan malam, saya mencari informasi di google atas cerita Pak Yusran tentang kesetiaan buaya itu, saya baru dengar cerita itu di forum diskusi kegiatan Scoping program Inklusi BaKTI di Kupang ini.

Sambil menulis perjalanan ke Kupang dan pengalaman di hari pertama tanggal 19 Juli, saya mencari informasi kesetiaan buaya di google, Apakah buaya setia atau tidak?

Jawaban google membenarkan informasi Pak Yusran bahwa buaya itu justru adalah hewan yang paling setia. Buaya jantan hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya.

Bahkan jika pasangannya lebih dulu mati, buaya jantan tidak akan mencari betina lain. Mungkin banyak diantara kita yang tanpa pengetahuan yang cukup tentang kesetiaan buaya kepada pasangannya sudah cukup lama “memfitnah” buaya dengan tuduhan yang tidak benar. (*) Bersambung.

__Terbit pada
21 Juli 2022
__Kategori
Culture, ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.