Tetap Tenang dan Waspada, Gempa 5,8 SR Guncang Sulbar

GEMPA bumi tektonik dengan magnitudo 5,8 skala richter mengguncang Mamuju, Sulbar, Rabu, 8 Juni 2022. Episentrum gempa berada di 43 kilometer (km) barat daya Mamuju dengan kedalaman 10 km.

Sesuai situs Badan Meteorogi, Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG), merilis gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Namun, getaran dirasakan hingga Sidrap, Pinrang, dan Enrekang, Kota Makassar, Palopo, Majene, Pangkep, Masamba, Samarinda, dan Palu.

Lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa Mamuju termasuk merupakan gempa dangkal, disebabkan adanya aktivitas sesar aktif di lepas Pantai Mamuju.

Gempa dengan magnitudo 5,8 skala richter di Mamuju, Sulbar memiliki mekanisme sumber sesar geser (strike slip), sehingga tidak dipicu sumber gempa Sesar Naik Mamuju (Mamuju Thrust).

Saya mengutip kembali Catatan Kecil Dosen KBK Fisika Bumi Universitas Negeri Makassar, Dr Ir Muhammad Arsyad MT agar kita semua lebih memahami dan mengenali mitagasi bencana.

Selain itu, kita bisa meningkatkan kesiapsiagaan agar risiko bencana alam bisa dikurangi. Tetap tenang dan waspada. Jangan panik.

Bumi kita ini terdiri dari batuan yang kaku dan mempunyai daya tahan yang kuat. Akibatnya, gesekan dan kekakuan batuan, tidak bisa meluncur atau mengalir melewati satu sama lain dengan mudah dan kadang-kadang semua gerakan berhenti.

Ketika ini terjadi, stres menumpuk di bebatuan dan saat mencapai tingkat yang melebihi ambang ketegangan, energi potensial akumulasi disipasikan oleh pelepasan ketegangan, yang difokuskan ke sebuah bidang sepanjang di mana gerakan relatif tersebut ditampung.

Sehingga muncullah sesar di mana tegangan terjadi secara akumulatif atau instan, tergantung pada reologi dari batuan; kerak bawah dan mantel yang ductile mengakumulasi deformasi.

Secara bertahap melalui gaya geser, sedangkan kerak atas yang brittle bereaksi dengan fraktur – lepasan tegangan seketika – menyebabkan gerakan sepanjang sesar. Sebuah sesar dalam batuan ductile juga dapat lepas seketika ketika laju regangan terlalu besar.

Energi yang dilepaskan oleh lepasan tegangan-seketika menyebabkan gempa bumi, adalah fenomena umum di sepanjang batas transformasi.

Indonesia berada di ring of fire Pasifik, sehingga gempa akan terus terjadi sehingga edukasi pada warga harusnya menjadi perhatian utama.

Bagaimana kita bersahabat dengan bencana, bangunan dan fasilitas umum dirancang hendaknya memerhatikan sejarah gempa di daerah itu.

Sesar naik Mamuju ini adalah penyebab gempa pertama yang memicu tsunami pada 23 Februari 1969. Gempa bermagnitudo 6,9 dan berpusat di kedalaman 13 km. Gempa ini memicu tsunami setinggi 4 meter yang menewaskan 64 orang dan merusak lebih dari 1.200 bangunan.

Gempa 14 Januari 2021 dengan kekuatan 5,2 skala richter dan 16 Januari 2022 dengan kekuatan lebih besar dengan magnitudo 6,2 skala richter, merusak ratusan bangunan.

Rentetan gempa ini dipicu sesar naik Mamuju memiliki magnitudo yang diperkirakan mencapai 7,0 SR dengan laju geser sesar 2 milimeter per tahun yang berada dalam satu bentangan dengan sesar Palu-Koro.

Mestinya bangunan harus dibuat dengan ketahanan melebihi kekuatan gempa yang pernah terjadi. Pengembangan kota tidak berada dalam zonasi gempa adalah contoh bersahabat dengan bencana.

Apa yang Dilakukan, Sebelum, Saat, Sesudah Gempa
Saya mengutip tips aman menghadapi bencana di portal liputan6.com. Bagi Anda yang tinggal di daerah yang rawan bencana alam, seperti gempa, sebaiknya memastikan struktur dan letak rumah Anda aman agar terhindar dari bahaya.

Jika Anda berada di sebuah gedung, maka kenali lingkungan tempat Anda bekerja, seperti letak pintu, lift, lokasi tempat berlindung paling aman, serta tangga darurat.

Mengetahui penggunaan kotak pertolangan pertama pada kecelakaan (P3K)  dan alat pemadam kebakaran ringan yang tersedian, menyimpan nomor telepon penting yang dapat dihubungi pada saat terjadi gempa Bumi.

Menyiapkan alat, seperti  senter/lampu baterai, radio, makanan suplemen dan air. Jika Anda berada dalam bangunan saat gempa, maka lindungi badan dan kepala Anda dari reruntuhan bangunan dengan bersembunyi di bawah meja, cari tempat yang paling aman dari reruntuhan dan guncangan, lari ke luar apabila masih dapat dilakukan.

Saat berada di area terbuka, sebaiknya hindari dari bangunan yang ada di sekitar Anda seperti gedung, tiang listrik, pohon. Perhatikan tempat Anda berpijak, hindari apabila terjadi rekahan tanah.

Jika Anda sedang mengendarai mobil: keluar, turun dan menjauh dari mobil hindari jika terjadi pergeseran atau kebakaran.

Jika Anda tinggal atau berada di pantai: jauhi pantai untuk menghindari bahaya tsunami. Jika Anda tinggal di daerah pegunungan: apabila terjadi gempabumi hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.

Setelah terjadi gempa, segera keluar dari bangunan tersebut dengan tertib; jangan menggunakan tangga berjalan atau lift, gunakan tangga biasa;periksa apa ada yang terluka, lakukan P3K; telepon atau mintalah pertolongan apabila terjadi luka parah pada Anda atau sekitar Anda.

Periksa lingkungan sekitar Anda: apabila terjadi kebakaran, apabila terjadi kebocoran gas, apabila terjadi hubungan arus pendek listrik. Periksa aliran dan pipa air, periksa apabila ada hal-hal yang membahayakan.

Jangan memasuki bangunan yang sudah terkena gempa,karena kemungkinan masih terdapat reruntuhan. Jangan berjalan di daerah sekitar gempa, kemungkinan terjadi bahaya susulan masih ada.

Dengarkan informasi mengenai gempabumi dari radio (apabila terjadi gempa susulan). Jangan mudah terpancing oleh isu atau berita yang tidak jelas sumbernya.

“Jangan panik dan jangan lupa selalu berdoa kepada Tuhan demi keamanan dan keselamatan kita semuanya.” Semoga bermanfaat. (*)

__Terbit pada
8 Juni 2022
__Kategori
News, Sains

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.