Inovasi Pembelajaran: LKS MALEBBI

Oleh : Sri Bulan Musmiah, S.Pd (Guru UPTD SMP Negeri 3 Parepare)

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020 tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan dan ekonomi, tetapi juga pendidikan. Pencegahan penyebaran virus menyebabkan pembelajaran tatap muka dihentikan dan dilakukan pembelajaran secara online.

Meskipun saat ini kondisi semakin baik sehingga dapat dilakukan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT), namun pembatasan aktivitas dan waktu belajar di sekolah selama PTMT menjadi hambatan untuk memaksimalkan pembelajaran, termasuk pelaksanaan kegiatan praktikum pada mata pelajaran IPA.

Hasil wawancara penulis dengan beberapa rekan guru IPA menunjukkan kegiatan praktikum sulit dilakukan dan tidak efektif dan efisien selama masa pandemi, begitupun dengan hasil wawancara dengan beberapa siswa yang menyatakan tidak pernah melakukan kegiatan praktikum selama masa pandemi.

Kondisi seperti ini tentu saja tidak boleh berlanjut karena kegiatan praktikum merupakan kegiatan yang sangat efektif untuk mencapai seluruh ranah pengetahuan secara bersamaan.

Kegiatan praktikum melatih agar teori dapat diterapkan pada permasalah nyata (kognitif), melatih perencanaan kegiatan secara mandiri (afektif), dan melatih penggunaan instrumen tertentu (psikmotorik).

Apabila kegiatan praktikum tidak dilaksanakan maka kemampuan praktikal siswa menjadi tidak terlatih dan pemahamannya hanya terbatas pada teori.

Oleh karena itu, penulis mengusulkan inovasi pembelajaran berupa LKS MALEBBI (mandiri, ilmiah, cerdas, bertanggung jawab, dan kreatif) agar kegiatan praktikum IPA tetap dapat berlangsung selama masa pandemi.

Apa itu LKS MALEBBI?
LKS MALEBBI merupakan kumpulan lembar kerja siswa (LKS) berbasis inkuiri yang dapat digunakan oleh siswa sebagai pedoman praktikum IPA di rumah.

Kegiatan praktikum dilakukan secara inkuiri sehingga kegiatan praktikum tidak hanya membangun keterampilan siswa tetapi juga mampu membantu siswa memperkuat penguasaan konten, mendorong rasa ingin tahu siswa, membantu siswa memahami mengapa suatu kegiatan dilakukan, serta membantu siswa melihat manfaat dari kegiatan yang dilakukan.

Kegiatan praktikum juga disusun sedemikian rupa sehingga menggunakan alat dan bahan yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar rumah siswa sehingga siswa dapat melakukan praktikum secara mandiri di rumah. Dengan keberadaan LKS MALEBBI ini diharapkan praktikum IPA tetap berjalan selama masa pandemi, bahkan LKS MALEBBI ini tetap relevan digunakan setelah masa pandemi berakhir.

Dengan LKS MALEBBI ini siswa belajar secara aktif dan membangun pengetahuannya sendiri melalui praktikum yang mereka rancang sendiri sehingga dapat membentuk siswa yang mandiri, memiliki sikap dan keterampilan ilmiah, cerdas, bertanggungjawab, dan kreatif (MALEBBI).

Mekanisme Inovasi
Pengembangan LKS MALEBBI terdiri 4 tahapan, yaitu sebagai berikut:
1. Pembuatan LKS MALEBBI Pada tahap ini dilakukan studi literatur terkait praktikum berbasis inkuiri dan menentukan jenis praktikum yang akan dilaksanakan, kemudian dilakukan penyusunan LKS MALEBBI.

2. Reviu LKS MALEBBI oleh rekan guru IPA. Pada tahap ini beberapa rekan guru IPA mereviu LKS MALEBBI. Reviu dilakukan menggunakan angket reviu. Selanjutnya dilakukan perbaikan LKS MALEBBI berdasarkan hasil reviu yang diberikan oleh guru IPA.

3. Uji Coba LKS MALEBBI. Pada tahap ini dilakukan uji coba terbatas LKS MALEBBI pada beberapa siswa. Setelah melakukan praktikum, siswa diberikan angket untuk mengetahui tanggapannya terhadap LKS MALEBBI. Selanjutnya dilakukan perbaikan berdasarkan temuan ketika uji coba serta saran dari siswa.

4. Sosialisasi dan implementasi LKS MALEBBI. Pada tahap akhir dilakukan sosialisasi LKS MALEBBI kepada rekan guru IPA di sekolah agar dapat menggunakan LKS MALEBBI sebagai pedoman praktikum IPA.

Kendala utama yang mungkin ditemui dalam perlaksanaan pengembangan LKS MALEBBI adalah kesediaan siswa untuk melakukan kegiatan uji coba LKS MALEBBI, serta partisipasi dari rekan guru IPA dalam reviu dan implementasi LKS MALEBBI.

Oleh karena itu, sangat diperlukan dukungan dari Kepala Sekolah untuk perizinan dan kelancaran kegiatan pengembangan LKS MALEBBI. Dukungan Kepala Sekolah juga diperlukan untuk kegiatan monitoring dan evaluasi di setiap tahapan kegiatan pengembangan LKS MALEBBI.

Di samping Kepala Sekolah, juga diperlukan dukungan dari rekan guru IPA untuk melakukan reviu. Reviu diperlukan untuk perbaikan LKS MALEBBI. Rekan guru IPA juga dapat membantu melakukan monitoring dan evaluasi di setiap tahapan pengembangan LKS MALEBBI.

Selain bantuan Kepala Sekolah dan rekan guru IPA, bantuan dari orang tua juga sangat diperlukan untuk mendampingi siswa melakukan praktikum IPA di rumah masing-masing.

Dengan kerjasama dari berbagai pihak, nantinya akan dihasilkan LKS MALEBBI yang berkualitas sehingga dapat digunakan oleh siswa sebagai pedoman praktikum IPA di rumah selama masa pandemi dan menghasilkan siswa MALEBBI (mandiri, memiliki sikap dan keterampilan ilmiah, cerdas, bertanggungjawab, dan kreatif). (*)

__Terbit pada
2 Juni 2022
__Kategori
ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.