TELINGA DAN PENDENGARAN

 

Dr Ir Muhammad Arsyad MT
Oleh : Dr. Ir. Drs. H. Muhammad Arsyad, A.Md, M.T, IPM

Alquran memberikan petunjuk kepada manusia dengan memberikan pelajaran yang sesuai dengan perkembangan alam pikiran manusia. Perlahan namun pasti, setiap pembelajaran kadang diterima sahabat Nabi hanya dengan sami’na waata’na, tidak banyak nanya.

Namun, sejarah umat manusia juga menceritakan bahwa tidak sedikit manusia yang beriman kepada Allah swt setelah mereka mampu ditunjukkan hidayah melalui ilmu yang ditekuninya.

Mencari ilmu melalui dua proses pancaindra yang dominan, yakni penglihatan dan pendengaran. Ilmuwan Barat selalu mencari tahu kebenaran isi Alquran, sehingga mereka beriman setelah yakin bahwa ayat – ayat yang ditunjukkan mengandung kebenaran.

Salah satu pembelajaran itu adalah bagaimana telinga ini mampu melakukan pendengaran secara sederhana, walaupun ternyata melalui proses yang tidak sederhana.

Allah azza Wa Jallah menjelaskannya ayat-ayatnya agar manusia terus belajar. Allah swt berfirman

قُلْ هُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
“Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur,” (QS Al’Mulk:23)

Pendengaran adalah pancaindra yang pertama kali difungsikan sebelum pancaindra lainnya. Akibatnya, sang bayi dapat merasakan kehadiran orang-orang di sekelilingnya sehingga dia dapat mendengar suara-suara dan tak merasa kesepian.

Kemampuan mendengar bayi sudah terbentuk sejak ia masih berada di dalam perut ibu, yaitu sekitar usia 23-27 minggu di dalam kandungan. Oleh karena itu, tak heran jika ibu hamil banyak disarankan untuk berbicara atau bernyanyi pada bayinya dalam kandungan.

Karena bayi sudah bisa mulai mendengar sejak masih berada di dalam kandungan, maka ibu sudah bisa mulai memperkenalkan suara kepadanya sejak masih mengandung.

Cara ini bisa menjadi salah satu langkah agar bayi mulai mengenal suara ibunya, sekaligus juga menjadi cara untuk mempererat hubungan antara ibu dan bayi. Sebelum dibahas proses pendengaran itu, berikut ini diuraikan bagian telinga yang memegang peranan penting.

Pertama, telinga luar
Telinga luar terdiri atas daun telinga dan saluran telinga. Dalam proses mendengar, telinga bagian luar bertugas mengirimkan suara ke membran timpani (gendang telinga).

Daun telinga, yang disebut juga dengan pinna, terbuat dari tulang rawan yang dilapisi kulit. Pinna mengumpulkan suara dan menyalurkannya ke saluran telinga.

Sementara itu, saluran telinga memiliki panjang sekitar 4 cm dan terdiri atas bagian luar dan dalam. Bagian luarnya dilapisi dengan kulit berbulu yang mengandung kelenjar untuk membentuk kotoran telinga. Rambut tumbuh di bagian luar saluran telinga dan berfungsi sebagai pelindung dan disinfektan.

Kedua, telinga tengah
Telinga tengah adalah ruang berisi udara yang terhubung ke bagian belakang hidung melalui tabung tipis dan panjang yang disebut tabung Eustachius. Ruang telinga tengah menampung tiga tulang yang bertugas menyalurkan suara dari membran timpani ke bagian dalam telinga. Tulang tersebut bernama malleus, incus, dan stapes.

Dinding luar telinga tengah adalah membran timpani, sedangkan dinding bagian dalam adalah koklea (rumah siput). Batas atas telinga tengah membentuk tulang di bawah lobus tengah otak. Dasar telinga tengah menutupi pangkal dari vena besar yang mengalirkan darah dari kepala.

Ketiga, telinga dalam,
Telinga dalam adalah ruang yang terdiri atas labirin bertulang dan labirin membran, satu di dalam satu yang lain.

Labirin bertulang memiliki rongga yang diisi dengan kanal berbentuk lingkaran yang bertugas untuk fungsi keseimbangan. Bagian-bagian telinga di atas saling berkaitan satu sama lain. Bagian-bagian tersebut berpadu dalam melakukan proses mendengar, sehingga Anda dapat memahami bunyi atau suara.

Proses mendengar pada manusia dimulai dengan gelombang suara yang masuk ke dalam lubang telinga, akan menggetarkan gendang telinga. Telinga manusia mempunyai 30.000 sel yang mengirimkan semua jenis suara dalam getaran berbeda- beda dengan sensisitivitas yang tinggi.

Intensitas bunyi adalah energi gelombang bunyi yang menembus permukaan bidang tiap satu satuan luas tiap detiknya. Pada dasarnya gelombang bunyi adalah rambatan energi yang berasal dari sumber bunyi yang merambat ke segala arah, sehingga muka gelombangnya berbentuk bola.

Untuk itu, dipergunakan istilah dalam intensitas bunyi dengan menggunakan ambang pendengaran dan ambang perasaan. Intensitas ambang pendengaran (Io) yaitu intensitas bunyi terkecil yang masih mampu didengar oleh telinga, sedangkan intensitas ambang perasaan yaitu intensitas bunyi yang terbesar yang masih dapat didengar telinga tanpa menimbulkan rasa sakit.

Besarnya ambang pendengaran berkisar pada 10-12 watt/m2 dan besarnya ambang perasaan berkisar pada 1 watt/m2. Kenyataan menunjukkan bahwa pendengaran telinga manusia terhadap gelombang bunyi bersifat logaritmis.

Sehingga para ilmuwan menyatakan mengukur intensitas bunyi tidak dalam watt/m2 melainkan dalam satuan dB (desi bell) yang menyatakan Taraf Intensitas bunyi (TI).

Taraf intensitas didefinisikan sebagai sepuluh kali logaritma perbandingan intensitas dengan intensitas ambang pendengaran. Untuk mengukur taraf intensitas bunyi, Fisikawan sudah mampu melakukannya dengan alat yang semakin akurat sampai ke desibell (dB).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَآءِ فِيْهِ ظُلُمٰتٌ وَّرَعْدٌ وَّبَرْقٌ ۚ يَجْعَلُوْنَ اَصَا بِعَهُمْ فِيْۤ اٰذَا نِهِمْ مِّنَ الصَّوَا عِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۗ وَا للّٰهُ مُحِيْطٌ بِۢا لْكٰفِرِيْنَ
“Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 19).

Mengapa mereka menyumbat telinganya dengan jari-jarinya. Manusia hanya peka pada getaran yang dapat ditangkap oleh daun telinga berada antara 20 sd 20.000 Hertz.

Sedangkan petir atau kilat mempunyai intensitas sekitar 160 dB. Ingatlah bahwa proses datangnya kiamat dimulai dengan tiupan sangkakala yang membinasakan manusia, karena suaranya. Berapa besar intensitas bunyi sangkakala tersebut? Allahu a’lam bisshawab. (*)

Penulis adalah Pengajar Mk. Ilmu-ilmu Kebumian di UNM Makassar dan Peneliti Karst.

Referensi
Yusuf Al-Hajj Ahmad, Mukjizat Al-Qur’an yang tak Terbantahkan

__Terbit pada
14 April 2022
__Kategori
Ramadhan, Sains

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.