BANJIR BESAR PADA ZAMAN NABI NUH

Oleh :  Dr. Ir. Drs. H. Muhammad Arsyad, A.Md, M.T, IPM

Peristiwa ini menggemparkan penduduk bumi dan merubah tatanan kehidupan. Bukan hanya karena keingkaran manusia atas risalah kenabian, tetapi juga proses pembuatan perahu yang “menjungkirbalikkan” logika linear manusia zaman itu.

Banjir dengan ketinggian sekitar 25 ft (1 ft=30 cm) setara dengan 7,52 meter. Peristiwa ini masih menimbulkan dua pertanyaan mendasar yang saling melengkapi.

Muhammad Arsyad
 Dr. Ir. Drs. H. Muhammad Arsyad, A.Md, M.T, IPM

Pertama, apakah banjir besar itu menenggelamkan seluruh dunia (banjir global), atau hanya lokal (di wilayah Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya).

Kedua, apakah hewan yang naik ke kapal (bahtera) Nuh itu diikuti seluruh hewan yang ada di dunia, ataukah sebagian saja, yakni hewan-hewan yang ada di wilayah dakwah Nabi Nuh AS.

Memang tidak mudah menjawab kedua pertanyaan ini. Jawabannya membutuhkan data empiris dalam berbagai bidang ilmu, seperti geologi, arkeologi, sejarah, astronomi, geografi, termasuk keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab agama.

Dalam Alquran, kisah Nabi Nuh AS dibahas dalam beberapa surah, di antaranya surah Al-Ankabut [29]: 14-15, Nuh [71]: 1-28, Al-Mu’minun [23]: 23-41, Huud [11]: 25-46, Asy-Syuara [26]: 105-122, Al-A’raf [7]: 59-69, dan Yunus [10] : 71-74.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
حَتّٰۤى اِذَا جَآءَ اَمْرُنَا وَفَا رَ التَّنُّوْرُ ۙ قُلْنَا احْمِلْ فِيْهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَاَ هْلَكَ اِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ اٰمَنَ ۗ وَمَاۤ اٰمَنَ مَعَهٗۤ اِلَّا قَلِيْلٌ
“Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman, Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman. Ternyata orang-orang beriman yang bersama dengan Nuh hanya sedikit.”
(QS. Hud 11: 40)

Orang-orang beriman bersama Nabi Nuh hanya sedikit, mengindikasikan bahwa kejadian banjir ini melokal pada daerah tertentu saja dengan keadaan geologi pada saat itu.

Banjir ini terjadi karena meluapnya dua sungai besar Eufrat dan Tigris persisnya pada 4.000 tahun SM, atau sezaman dengan masa hidup Nuh.

Sungai Tigris adalah sebuah sungai di Mesopotamia yang mengalir dari pegunungan Anatolia di Turki hingga melalui Irak dan bermuara di Teluk Persia, sepanjang sekitar 1.900 kilometer.

Kapal atau bahtera Nabi Nuh itu dipercaya telah ditemukan, tepatnya di atas Gunung Ararat di perbatasan antara Turki dan Iran pada ketinggian sekitar 2.515 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada 11 Agustus 1979.

Berbagai kajian menunjukkan, Nabi Nuh AS hidup sekitar 4.000 SM atau sekitar 6.000 tahun yang lalu. Dan, Nabi Adam AS diperkirakan hidup sekitar 6.000 tahun SM atau sekitar 8.000 tahun lalu.

Menurut sebagian riwayat, termasuk dalam Bible, usia Nabi Nuh saat peristiwa banjir besar itu terjadi sekitar 600 tahun dengan usia Nabi Nuh sampai mencapai 950 tahun.

Berdasarkan data ini, peristiwa banjir besar itu diperkirakan sekitar 5.400 tahun yang lalu atau sekitar tahun 3.400 SM.

Penelitian arkeologi di sekitar Timur Tengah menunjukkan, bukti sedimen dan endapan lumpur tua, yang membuktikan memang pernah terjadi air bah luar biasa, yaitu meluapnya dua sungai besar Eufrat dan Tigris persisnya pada 4.000 tahun SM, atau sezaman dengan masa hidup Nuh.

Begitu juga, dengan hasil penelitian yang diungkapkan Kepala Departemen Ilmuwan Arkeologi dari Universitas Attaturk, Turki, yang memperkirakan usia kapal yang ditemukan di atas Gunung Ararat itu sekitar 100 ribu tahun yang lalu.

Jika mencernati pada masa kehidupan awal manusia zaman Nabi Adam yang ditulis dalam berbagai buku sejarah, ia hidup sekitar 6.000 sebelum Masehi, lalu mungkinkah usia kapal itu melebihi usia hidup Nabi Adam AS?

Mungkin, bukan usia kapalnya yang mencapai 100 ribu tahun, melainkan usia dari kayu untuk membuat kapal tersebut.

Dalam Alquran disebutkan, ”Nuh berkata: Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas Bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir’.” (QS Nuh [71]:26-27).

”Dan, bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan, Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil:

“Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir’.” (QS Hud [11]:42).

Penjelasan tentang dibinasakannya seluruh orang kafir dari muka Bumi dan besarnya banjir yang gelombangnya laksana gunung itu, dinyatakan oleh sekelompok orang yang berpendapat, banjir itu adalah banjir global karena menenggelamkan seluruh dunia.

Selain itu, kelompok yang mendukung pendapat ini juga menunjukkan data berupa penemuan fosil-fosil gajah purba.

Menurut kelompok ini, fosil gajah purba (mammut) itu ikut musnah ketika banjir besar terjadi.

Fosil mammut itu di antaranya ditemukan di Siberia pada 2 Juli 2007 lalu, juga pada 24 Juni 1977, dan fosil gajah purba (mammut besar) membeku di kutub utara.

Menurut hasil penelitian, fosil-fosil gajah purba itu diperkirakan berusia sekitar 10 ribu tahun.

Menurut hemat saya, kejadian banjir Nabi Nuh hanya kejadian melokal, karena daerah itu berupa cekungan raksasa yang luasnya mencapai 9-100 juta hektare atau sekitar 70% dari luas Pulau Jawa.

Sehingga, banjir saat itu besarnya bisa disamakan seperti lautan karena puncak gunung setinggi 5.000 meter, tidak akan tampak pada jarak 250 kilometer.

Dari citraan satelit, lingkup banjir pada saat perahu Nabi Nuh mendarat dapat dilacak dengan membuat garis ketinggian, dan menelusuri level yang sama dengan level lokasi perahu ditemukan.

Akibatnya, luas area banjir sekitar 4 juta hektare, sedangkan panjang lingkup banjir sekitar 560 kilometer.

Alasan lain bahwa kejadiannya melokal saja karena bukankah suatu kaum tidak akan dibinasakan sebelum Allah mengutus seorang rasul kepada mereka, untuk menerangkan ayat-ayat Allah kepada mereka (QS Al-Qashash: 59).

Jika kejadiannya hanya melokal, maka seluruh jenis hewan, mulai dari hewan mamalia, burung, serangga, dan hewan lainnya baik jantan maupun betina, yang liar maupun yang jinak. Maksudnya jenis hewan yang ada di lingkungan Nabi Nuh saja, dan tidak keseluruhan yang ada di bumi ini. Wa Allahu A’lam. (*)

Penulis adalah Pengajar Mk. Ilmu2 Kebumian dan Peneliti Karst, Mengabdi di UNM

Referensi : Ilustrasi bahtera Nabi Nuh (sorbansantri.com)

Yusuf Al-Hajj Ahmad, Mukjizat Al-Qur’an yang tak Terbantahkan, Yusuf Al-Hajj Ahmad

__Terbit pada
6 April 2022
__Kategori
Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.