Muhammad Arsyad

Pengantar Ilmu dalam Islam

Oleh :  Dr. Ir. Drs. H. Muhammad Arsyad, A.Md, M.T, IPM

Bismillahirrahmanirrahim, mulai 1 Ramadan 1443 Hijriah dan selama 30 hari ke depan. Insyaallah, saya pribadi mereview isi buku Mukjizat Al-Qur’an yang tak Terbantahkan.

Review ini sesuai pilihan dan bidang keilmuan saya sebagai hamba yang diberikan secuil ilmu di bidang kebumian.

Penulis Yusuf Al-Hajj Ahmad
Penerjemah Zulhamid Putri Aria Miranda, Editor Firman Pramudya 384 hal 23 cm.

Buku
Mukjizat Al-Qur’an yang tak Terbantahkan.

Islam mengajarkan umatnya menuntut ilmu dan memberi manfaat kepada sekelilingnya. Ayat pertama turun Iqra, Bacalah, bacalah dengan nama Tuhanmu.

Perburuan dalam ilmu pengetahuan hendaknya berawal dari kajian ayat Alqur”an sebagaimana kisah dua pelajar muslim yang sedang mempelajari astronomi, ketika membaca karya Ilmuwan Yunani Battimous dan ditanya oleh pelajar lainnya sedang melakukan apa?

Kedua pelajar tadi mengatakan bahwa kami membaca buku ini untuk memahami ayat
اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِ بِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
“Maka tidaklah mereka memerhatikan unta, bagaimana diciptakan?”
وَاِ لَى السَّمَآءِ كَيْفَ رُفِعَتْ
“Dan langit, bagaimana ditinggikan?”
وَاِ لَى الْجِبَا لِ كَيْفَ نُصِبَتْ
“Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?”
وَاِ لَى الْاَ رْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
“Dan bumi bagaimana dihamparkan?”
(QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 17-20)

Alqur’an juga telah membuka pintu agar manusia dapat mengenal Allah. Olehnya itu Islam memandang bahwa memiliki ilmu pengetahuan yang komprehensif adalah salah satu perintah penting dalam Alqur’an.

Penekanannya adalah manusia dapat mengenal Allah melalui pemahamannya pada ilmu pengetahuan sebagai metode untuk menemukan kebenaran. Manusia menyerahkan diri seutuhnya hanya kepada Allah melalui ilmu pengetahuan.

Padahal mewujudkan wujud Allah adalah hal yang tidak mungkin. Seperti firmanNya
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَا تُدْرِكُهُ الْاَ بْصَا رُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَ بْصَا رَ ۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 103)

Malahan hal ini beberapa kali ditegaskan dalam ayat lain, seperi QS Assurah:11 dan Al-Anam:163. Artinya manusia dapat merasakan keberadaanNya melalui ciptaanNya sebagai bahan berpikir.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ لْقٰى فِى الْاَ رْضِ رَوَا سِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَ نْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
“Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai- sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 15)

Menancapkan gunung di Bumi agar tidak guncang memberikan pemaknaan, bahwa bumi diciptakan tidak dalam satu kali jadi.

Hal ini sesuai dengan kajian Ilmu Kebumian, bahwa Bumi ini diciptakan dengan atribut yang dimilikinya untuk menjaga alam semesta dan barang siapa yang merubah tatanan ini akan kembali juga kepada kelangsungan hidup manusia.

Begitu juga, ayat lain yang menegaskan bahwa dengan melakukan perenungan terhadap penciptaan alam semesta, diantaranya penciptaan lautan dan menundukkannya sehingga daripadanya ditemukan daging segar (ikan), perhiasan (mutiara) dan hanya dapat diperoleh dengan melakukan pelayaran dan seterusnya … QS Al Fatir:12.

Ayat lain, bagaimana Alqur’an menjelaskan pertemuan dua arus lautan dan saling tidak melampaui, satunya tawar dan satunya asin sehingga menghasilkan mutiara yang dijadikan barang dagangan bagi manusia (QS Ar Rahman: 19-21).

Dan dari awan antariksa yang sebagian memberikan, pengharapan (hujan) dan sebagian memberikan ketakutan dan harapan (kilat) (QS Ar Rum:20).

Kilat sebagai tanda ketakutan, kiranya tidak perlu saya bahas namun sebagai harapan, dalam kajian ilmu kebumian bahwa kilat itu membawa energi sangat besar dan memberikan energi pada batuan yang disambarnya, sehingga terimbas menjadi batuan yang mengandung magnet dan sangat berguna dalam dunia industri.

Manusia diminta terus belajar untuk memaknai penciptaan alam semesta yang prosesnya terdapat eqivalensi dengan penciptaan manusia sendiri mulai dari saripati dari tanah, kemudian berproses dan bertransformasi menjadi air mani, kemudian darah, daging dan dari segumpal daging menjadi tulang belulang dan kemudiab dibungkus dengan daging (QS AL-Mukminun:12-14)

Manusia hanya dapat mengenal Allah melalui ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Ilmu Pengetahuan sampai saat ini sudah mampu membuktikan mukjizat Alqur’an sekitar 80%.

Insyaallah melalui perkembangan ilmu dan teknologi dengan proses perenungan yang dilakukan ilmuwan Muslim mulai dari sahabat Nabi Muhamnad Saw, kemudian dilanjutkan oleh Ya’qub Al-Kindi dan Abu Bakar Ar-Razi di dunia kedokteran, Abdul Salam di dunia Fisika dan dilanjutkan oleh murid-muridnya.

Termasuk mahasiswa kita di Fisika Bumi sampai saatnya nanti bahwa Al-Qur’an terbukti isinya keseluruhan. Allahubissawab.

(Penulis adalah Pengajar Mk. Kebumian dan Peneliti Karst)

Referensi :Yusuf Al-Hajj Ahmad, Mukjizat Al-Qur’an yang tak Terbantahkan,

__Terbit pada
5 April 2022
__Kategori
Ramadhan
1

One comment on “Pengantar Ilmu dalam Islam”

  1. Semua rahasia alam semesta ini telah terkuak dalam Al Qur’an bagaimana kita mempelajari dan memaknainya untuk mendekatkan kita pada sang Maha kuasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *