Doa Penjual Tempe

Hari ini, Rabu, 16 Januari 2022, saya membaca sebuah kisah inspiratif. Refleksi  diri, untuk memahami hakekat kehidupan yang dikirim di grup pertemanan Whatsapp.

Cerita saya edit beberapa bagian, sehingga tak sama persis dengan naskah aslinya. Tetapi, makna tak berubah.

Kisah ini terjadi di Karangayu, Kendal, Jawa Tengah, seorang ibu yang sehari-hari menjual tempe untuk menopang kehidupannya.

Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lakukan untuk penyambung hidup. Tetap, ia tak pernah mengeluh. Selalu bersyukur.

Ia jalani hidup dengan riang dan selalu optimis bahwa Allah mengabulkan doa-doanya.

“Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, mengapa aku harus menyesalinya,” katanya dalam hati, selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, dia berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe yang dia letakkan di atas meja panjang.

Tetapi, ia ragu, dadanya gemuruh. Tempe yang akan dijual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian masih berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Butuh waktu sehari lagi agar tempe itu siap dijual.

“Bagimana  hari ini bisa  mendapatkan uang untuk makan dan modal membeli kacang kedelai lagi,” membatin.

Di tengah kondisi tersebut, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah SWT tak akan ada yang mustahil.

Ditengadahkan kepala, lalu dia menangkat tangan. Ia berdoa.
“Ya Allah, Engkau tahu persoalanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku.”

Ia yakin, dalam hati, Allah SWT akan mengabulkan doanya, dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan suhu hangat yang menjalari daun itu.

Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya bergemuruh dengan pelan, dia buka daun pembungkus tempe.

Dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah, belum menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa, ia tersenyum, lalu berdiri menghela napas.

Dia yakin Allah SWT pasti sedang “memproses” doanya. Tempe itu pasti akan jadi.
Dia yakin Allah  akan menolong  hamba Nya yang setia beribadah.

Sambil meletakkan, semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi.

“Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku.”

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe.

“Pasti telah jadi sekarang,” batinnya, dengan berdebar, dia intip dari daun itu. Belum jadi. Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut.

“Keajaiban Tuhan akan datang. Pasti,” sambil berjalan menuju pasar.

Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin Allah mengabulkan doanya. Sedang terjadi proses peragian atas tempenya. Berkali-kali dia memanjatkan doa.

Berkali-kali dia yakinkan dirinya, Allah SWT pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang itu.

“Pasti sekarang telah jadi tempe,” batinnya.

Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dia terperanjak, tempe itu tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

“Kenapa doaku tidak dikabulkan, kenapa tempe ini tidak jadi. Apakah Tuhan tak mau menolongku, apa salahku,” membatin sambil mengusap air matanya menitiki keriput pipinya.

Batinnya berkecamuk, ia lemas, dia gelar tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan.

Tangannya bergetar, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Tiba-tiba merasa lapar, merasa sendirian.

“Tuhan telah meninggalkan aku,” batinnya, air matanya kian membasahi wajah, terbayang esok dia tak dapat berjualan.
Esok diapun tak akan dapat makan.

Dia menatap kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan teman-teman sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Di anggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku.

Kesedihannya mulai memuncak. Ia merefleksi diri, tak pernah mengalami kejadian seperti ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat.

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan di pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan, paruh baya, tengah tersenyum lebar, memandangnya.

“Maaf bu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi. Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya,” tanya seorang ibu.

Penjual tempe itu bengong, terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan.

“Ya, Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe,” doanya.

Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, ia ragu, dia letakkan lagi. “Jangan-jangan sekarang sudah jadi tempe,” katanya dalam hati.

“Bagaimana Bu. Apa ibu menjual tempe setengah jadi,” tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya lagi.
“Duh Gusti. bagaimana ini.
Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya,” ucapnya berkali-kali.

Tangannya gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe masih sama. Belum jadi.

“Alhamdulillah,” teriaknya tanpa sadar, sambil menyerahkan tempe itu kepada di pembeli.

Dia pun bertanya kepada si ibu itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe yang belum jadi.”

“Oohh.Bukan begitu, Bu. Anak saya yang kuliah S2 di Seoul, ingin sekali makan tempe, asli buatan sini.”

“Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan,” jawab si ibu.

“Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu,” tanya lagi.

“Lima Puluh Ribu Bu. Kalau kemahalan boleh ibu kurangi, karena memang tempenya belum jadi,” katanya penuh keraguan.

“Kalau jadi tempe harganya berapa Bu,” tanya lagi.

“Wah, kalau jadi ya bisa sampai Rp 200 ribu, Bu.”

“Ini Bu, Rp 300 ribu, yang Rp 200 ribu tempenya, yang Rp 100 ribu, tanda ucapan terimakasih saya.”

“Jika Ibu tidak ada tempe yang belum jadi, maka anak saya pasti amat kecewa, tak bisa makan tempe Indonesia,” katanya.

Ibu itu bengong, menangis dan terus baca alhamdulillaah sampe rumah.

Saudaraku, dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa dan berharap Allah SWT segera memberikan apa yang menurut kita paling cocok.

Saat doa kita tidak sesuai harapan, kita merasa doa kita tidak dikabulkan, merasa diabaikan, merasa kecewa dan merasa ditinggalkan oleh Allah SWT.

Padahal di balik itu Allah telah memiliki rencana besar yang terbaik untuk kita. Yakinlah semua rencana-NYA selalu sempurna.

Tempe setengah jadi tersebut tidak akan pernah menjadi tempe dalam waktu singkat. Janganlah melawan takdir yang telah Allah tetapkan.
Ingat ikhtiar itu wajib, tetapi hasilnya tidak wajib.

Jangan pernah berdoa tanpa ikhtiar dan jangan pernah ikhtiar tanpa berdoa. Bertawakallah kepada Allah,  sebab hasil adalah hak prerogatif Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah tidak akan membebani manusia melebihi kemampuannya. selama napas masih dikandung badan, ALLAH SWT akan  memerikan rezeki.”

Semoga kisah ini bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi kita bersama. Di bagian akhir kisah ini, tertulis
Barkahhidayat.id, menjemput keberkahan. (*)

Foto hanya ilustrasi

__Terbit pada
16 Februari 2022
__Kategori
Culture
1

One comment on “Doa Penjual Tempe”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.