Menikmati Malam dan Paranggi di Kota Sutra

Saat Anda memasuki gerbang Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Anda akan disambut sebuah tulisan Selamat Datang di Kota Sutra. Seolah menggambarkan kota istimewa.

Ya, Kota Sengkang, sebuah kota kecil yang berjarak 250 kilometer dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan itu surga kerajinan sutra di Indonesia timur, siap menyambut semua pengunjung dengan ramah.

Warganya masih banyak memeliharaan ulat sutra di rumah, sebagai bahan baku kain sutra. Kain yang indah dan elegan dengan berbagai motif dan corak yang terkenal hingga mancanegara.

Saat memasuki Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo, sejumlah warung kopi, kuliner,  siap memanjakan lindah pengunjung.

Kali ini, Sabtu malam, 18 Desember 2021, Tuan guru bersama sohib  tiba di Kota Santri, sebutan lain Kota Sengkang. Suasana kota yang ramah dan hangat menyambut kami.

Tuan Guru bersama sohib menyelusuri sudut-sudut kota, selain menikmati malam panjang di Kota Sengkang juga ingin menikmati menu khas. Mata kami tertuju pada sebuah rumah makan,  Buguri.

Tempat ini, cocok bagi yang ingin menikmati akhir pekan bersama keluarga, sahabat ataupun pasangan Anda. Rumah makan dengan konsep tradisional terbuka, dilengkapi gazebo menambah suasana nyaman, dan sejuk.

Rumah makan terletak di Amessangeng, Kelurahan Maddukelleng itu, menawarkan menu ayam goreng, dan Seafood, seperti kepiting, udang, ikan segar, dan menu segar lainnya.

Tak cukup sampai di situ, Tuan Guru bersama sohib melanjutkan petualangan malam Minggu di Kompleks Masjid Raya Sengkang, tepatnya di Jalan Masjid Raya, Kecamatan Tempe, Kota Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan.

Kini menjelma menjadi Masjid Agung Ummul Quraa, menurut bahasa Arab bermakna pusat kota. Masjid Raya yang berada di jantung Kota Sengkang di bagian timur terdapat Lapangan Merdeka Kota Sengkang yang sudah tertata rapih, cocok  untuk jogging di pagi dan sore hari.

Lapangan Merdeka juga ramai dikunjungi di malam hari, menikmati sejumlah jajanan atau sekadar selfi atau swafoto dengan latar masjid megah.

Sebelah utara terdapat Ma’had Aly As’adiyah,  dan di sebelah selatan Kantor Sat Lantas Polres Wajo, dan di bagian baratnya Pasar Mini Tokampu Sengkang.

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Raya Sengkang dilakukan sang Proklamator, Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 12 Desember 1955.

Masjid yang berusia puluhan tahun ini, memiliki tampilan sejuk berbalut warna putih dengan kubah berwarna emas, dan dua menara berdiri kokoh di dalamnya.

Di malam hari, masjid dibalut cahaya penuh warna-warni, memberikan suasana cerah dan memikat pengunjung di Kota Santri, sebutan lain Kota Sengkang.

Masjid yang rampung pada tahun 1969 itu, telah direnovasi beberapa kali, seperti bentuk/model, sound system, mimbar, lantai, pagar dan menara. Tetapi tetap mempertahankan bentuk bangunan aslinya.

Selain itu, tercatat sebagai cagar budaya dan ikon Kota Sengkang. Masjid Raya tersebut dirancang oleh arsitek kenamaan yakni Friedrich Silaban.

Arsitek yang merancang Tugu Monas, Gelora Bung Karno, Masjid Istiqlal dan Gedung Bank Indonesia di Jakarta. Menurut cerita, Friedrich mendesain Masjid Raya Sengkang, setelah mendengar ide-ide Soekarno.

Saat waktu salat tiba, masjid dipenuhi jamaah berbagai latar belakang profesi, seperti pegawai Pemda, pedagang Kota Sengkang, santri, dan yang lainnya.

Masjid Ummul Quraa Sengkang dahulu ditempati para “anregurutta” untuk mengajar di masjid ini. Kini masjid ini difungsikan juga sebagai tempat kegiatan pendidikan, tempat para penghafal Alquran menyetor hafalan mereka.

Minggu, pagi 19 Desember 2021, rintik rinai membasahi Kota Sengkang, rencana menjajal jalur jogging di Lapangan Merdeka, batal. Petualangan menikmati Kota Lamadukkelleng, beralih ke warung kopi di bilangan Jalan Masjid Raya.

Penikmat kopi di Kota Sengkang menyebut warung kopi Temangnge (teman). Warkop paling jadul itu, ramai pengunjung sejak Subuh. Menyediakan menu khas Wajo, kue paranggi, teh susu, kopi hitam dengan cita rasa khas.

Menikmati kue paranggi yang berbahan dasar gula aren dan tepung terigu. kue basah bercitarasa manis ini cocok ditemani dengan segelas teh hangat.

Di beberapa daerah lain juga ada kue yang mirip dengan apang. Di daerah Kalimantan disebut apam, sedangkan di kawasan Jawa disebut apem.

Tuan Guru bersama keluarga beta duduk berlama menikmati teh susu hangat dan kue paranggi untuk menghangat tubuh di pagi yang sejuk sambil menyimak diskusi hangat ala rakyat penikmat kopi. (*)

__Terbit pada
19 Desember 2021
__Kategori
Culture, Lifestyle

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.