Festival

Cerita di Bulan Desember dan Perubahan Iklim

Saat ini, Sulawesi Selatan telah memasuki musim hujan. Warga diimbau selalu waspada dan memantau informasi perkembangan cuaca terkini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Bagi nelayan di Desa Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, bulan Desember, sudah memasuki musim barat.

Deru angin kencang disertai derasnya hujan membuat nelayan takut melaut. Nelayan memilih bertahan di rumah.

Perbaiki alat tangkap ikan, sambil menunggu cuaca kembali bersahabat.

Selama tiga hari terakhir ini, curah hujan tinggi disertai angin kencang dan ombak tinggi, membuat nelayan enggan melaut.

“Sudah masukmi musim bare‘ (musim barat), hujan lebat, angin, kencang dan ombak yang besar,” kata Ali, Nelayan di Desa Lero.

“Saat ini, kami (nelayan) tidak pergi melaut, karena kondisi cuaca sangat berbahaya,” kata Ali.

Penjual ikan bernama Anwar, bercerita, saat ini sudah memasuki masuk musim angin barat. Banyak nelayan tak melaut, sehingga pasokan dan stok ikan segar dari Lero menurun.

“Semoga cuaca segera normal kembali dan kami bisa jualan ikan di Pasar Lakessi, Kota Parepare,” kata Ali.

Musim barat menjadi cerita kurang menyenangkan bagi nelayan di Desa Lero setiap akhir tahun.

BMKG Wilayah IV Makassar telah mengeluarkan peringatan dini, selama tiga hari (05-07 Desember 2021), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang.

Peringata dini itu berpotensi terjadi di wilayah Sulawesi Selatan bagian barat, meliputi Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Kepulauan, Maros, Gowa, Makassar, dan Takalar.

Selain itu, masyarakat diimbau agar mewaspadai gelombang tinggi di perairan sekitar Sulawesi Selatan. Rough Sea ( Gel. 2.5 – 4.0 M).

Semoga cuaca segera normal kembali. Saatnya merawat dan melestarikn Bumi. Cuaca kurang bersahabat ini bukan sekadar curah hujan tinggi, tapi kemungkinan disebabkan perubahan iklim.

Atasi Perubahan Iklim
Perubahan iklim disebabkan aktivitas manusia, seperti penghancuran hutan untuk industri dan tempat tinggal baru bagi manusia.

Mencegah efek perubahan iklim, perlu gerakan bersama mereboisasi atau penanaman pohon atau menata ulang hutan-hutan yang telah rusak

Pohon yang berfungsi menyaring polusi dan menciptakan oksigen bagi manusia kian menurun.

Selain itu, pohon dengan jumlah terbatas membuat suhu Bumi naik, yang dapat menyebabkan pemanasan global.

Saat suhu Bumi naik, es di daerah kutub terus mencair. Permukaan air laut terus naik. Permukaan air laut yang meningkat bisa menyebabkan banjir rob.

Selain itu, suhu yang terus naik juga bisa mengakibatkan risiko kebakaran hutan.

Perubahan iklim memicu naiknya suhu air laut. Suhu air laut yang terus meningkat merusak ekosistem di dasar dan permukaan laut.

Saatnya, kita menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Pabrik besar sebaiknya menggunakan energi ramah lingkungan dan tidak menghasilkan emisi gas buang yang berbahaya bagi lingkungan.

Cara lain, mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil. Ini bisa mengurangi kadar emisi di udara.

Penanaman hutan secara besar-besaran harus dilakukan. Tanpa hutan dan wilayah hijau, Bumi lebih panas dan sulit menghasilkan oksigen segar untuk dihirup. (*)

Laporan : Ashar, Mahasiswa IAIN Parepare.

__Terbit pada
7 Desember 2021
__Kategori
ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.