Rotasi bumi

Ini Penyebab Panjang Siang dan Malam Berbeda

Baso: Halo, Besse. Sedang apa?
Besse: Halo Baso. Saya sedang sarapan pagi. Jam berapa di sana?
Baso: Sudah jam 7 malam. Tapi di sini masih terang lho.
Besse : Wah aneh sekali. Di Indonesia, jam 6 sore sudah terasa gelap. Kok bisa ya?
Baso: Kita tanya Tuan Guru saja.

Bumi kita mengelingi Matahari. Menurut orang di Bumi, Mataharilah yang kelihatan bergerak mengelilingi Bumi. Gerak Matahari ini disebut gerak semu Matahari.

Ketika Matahari menyinari Bumi ada bagian Bumi yang terang yang kita sebut siang, ada bagian Bumi yang gelap yang kita sebut malam.

Pada suatu tempat di Bumi, lama siang hari tidak selalu sama dengan lama malam hari Penyebabnya karena sumbu rotasi Bumi kita miring 23,5° terhadap Matahari

Pada bulan Desember, Kutub Utara mengalami gelap terus (sinar Matahari tidak menyinari daerah ini) sehingga di sini malam terus selama 24 jam.

Sebaliknya, pada bulan Juni, di Kutub Utara terjadi siang terus.

“Apa yang terjadi pada bulan Desember di Kutub Selatan. Apakah siang terus atau malam terus? tanya anak didik Tuan Guru.

Di ekuator, sepanjang tahun lama siang hari hampir sama  (Matahari menyinari separuh dari keliling lingkaran ekuator).

Pada daerah yang terletak antara ekuator dan kutub, misalnya pada daerah di lingkaran 45 derajat lintang utara, pada bulan Desember, sinar Matahari menyinari kurang dari separuh keliling lingkarannya.

Akibatnya siang hari menjadi sangat singkat (hanya beberapa jam), tetapi sebaliknya pada bulan Juni hari menjadi sangat lama.

Pada 21 Desember akan menjadi hari terpanjang di tahun 2021 untuk belahan Bumi selatan karena merupakan hari pertengahan musim panas.

Sementara di belahan Bumi utara akan menjadi hari terpendek. Wilayah-wilayah di belahan Bumi selatan akan mengalami siang hari yang lebih panjang dari biasanya.

Sementara itu, wilayah-wilayah di belahan Bumi utara akan mengalami malam hari yang lebih panjang.

Peristiwa ini terjadi karena poros rotasi Bumi terhadap Matahari tidak tegak lurus, melainkan miring sekitar 23,5 derajat.

Kemiringan ini bisa menyebabkan salah satu belahan Bumi lebih condong tersinari Matahari daripada belahan Bumi lainnya.

Bumi mengorbit Matahari sekali setiap 365,242 hari dan ini adalah periode waktu di mana siklus titik balik matahari dan ekuinoks berulang dari satu tahun ke tahun berikutnya.

Pada tahun mana pun yang bukan tahun kabisat, titik balik matahari terjadi kira-kira 5 jam 48 menit, kurang dari seperempat hari, dari satu tahun ke tahun berikutnya.

Inilah sebabnya mengapa musim akan bergeser di akhir tahun jika bukan karena satu hari tambahan dimasukkan ke dalam setiap tahun keempat pada 29 Februari. (*)

Referensi
Fisika Gasing, Prof Yohanes Surya, Phd
IPA Terpadu Kurikulum 2013, Kemdikbu
Rotasi Bumi (kelaspintar.id)

__Terbit pada
5 Desember 2021
__Kategori
Sains

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *