Matahari

Mengungkap Rahasia Terjadi di Matahari

Pagi-pagi, Tuan Guru mengajak anak didiknya bermajinasi, jalan-jalan ke luar angkasa. Kali ini, ia menuju Matahari, menggunakan mesin virtual.

“Pak, kita sudah berada di permukaan Matahari. Dari mana asal cahaya Matahari itu,” tanya muridnya.

“Pertanyaan yang bagus, cahaya ini berasal dari pusat Matahari,” jawab Tuan Guru.

Di pusat Matahari, kata Tuan Guru, suhunya sangat tinggi (sekitar 15,5 juta Kelvin) dan tekanannya sangat tinggi (sekitar 340 miliar kali tekanan udara di Bumi).

“Jika ada benda mendekat bisa hangus sekecap, tapi tenang kita aman berada dalam mesin virtual,” kata Tuan Guru.

Suhu dan tekanan yang tinggi ini, kata Tuan Guru, membuat inti-inti atom hidrogen bergabung menjadi inti atom helium.

Penggabungan ini, dihasilkan energi yang sangat besar. Energi inilah yang dipakai agar Matahari tetap bersinar. Reaksi penggabungan inti atom hidrogen menjadi inti atom helium ini dinamakan reaksi fusi.

“Pak berapa besar energi yang dihasilkan dari reaksi fusi nuklir di Matahari,” tanya anak didiknya.

Tuang Guru menceritakan, menurut perhitungan Albert Einstein, energi yang dipancarkan tiap detik sekitar 380 miliar-miliar megawatt.

“Woow, luar biasa besar,” ujar muridnya.

Meski begitu, kata dia, Matahari bukanlah bintang terbesar di antara milyaran bintang dalam Galaksi Bimasakti. Matahari juga bukan bintang yang paling terang di antara bintang-bintang lain.

“Lalu mengapa Matahari kelihatan paling terang di antara bintang-bintang lain?”

Jarak matahari dari bumi kita sekitar 150 juta kilometer. Jarak ini disepakati sebagai 1 SA (Satuan Astrononmi).

Matahari merupakan bintang yang paling dekat dibandingkan bintang lainnya. Bintang terdekat kedua setelah matahari adalah Alpha Centauri, jaraknya lebih dari 200.000 SA.

Jarak matahari hanyalah 1/546.000 kali jarak Sirrius ke Bumi. Sirrius merupakan bintang yang paling terang. Jika dilihat dari ukurannya, maka matahari tergolong bintang ukuran sedang.

Diameter Matahari sekitar 1.380.000 km. Jika dibandingkan diameter bumi, maka diameter matahari 109 diameter bumi.

“Seandainya matahari berongga, kamu dapat memasukkan lebih dari satu juta bumi ke dalamnya,” kata Tuan Guru.

Tetapi kerapatan Matahari lebih kecil dibandingkan kerapatan bumi, sehingga massa matahari hanya sekitar 340 ribu kali massa bumi.

Matahari merupakan bola gas raksasa, dengan lapisan-lapisan tertentu. Sekarang kita sudah berada di inti (core) suhunya sekitar 14 juta Kelvin, tempat terjadinya reaksi nuklir yang menghasilkan energi sangat besar.

Di Fotosfer suhunya sekitar 6.000 Kelvin, dengan ketebalan sekitar 300 kilometer, merupakan bagian matahari yang dapat kita lihat.

“Namun, janganlah kamu menatap Matahari secara langsung, karena dapat menyebabkan kerusakan pada mata,” kata Tuan Guru.

Di Kromosfer, atmosfer Matahari, bersuhu sekitar 4.500 Kelvin dan ketebalannya 2.000 kilometer. Di Korona, atmosfer luar Matahari, bersuhu sekitar 1 juta Kelvin dan ketebalannya sekitar 700.000 kilometer.

Di antara inti dan fotosfer terdapat daerah radiasi dan daerah konveksi. Di daerah tersebut energi berpindah secara radiasi dan konveksi.

Di permukaan matahari terdapat berbagai aktivitas, antara lain sunspot (bintik hitam), flare (letupan cahaya yang menyembarkan partikel-partikel bermuatan listrik).

Protuberans (ledakan mendadak dan segera lenyap), serta yang terbesar adalah prominensa (kilauan gas yang mengalami kondensasi kemudian jatuh kembali ke permukaan matahari).

Ya, tetapi sebenarnya Matahari tidak mempunyai permukaan. Matahari adalah bola gas Sangat panas. Yang sering diartikan orang dengan permukaan Matahari adalah lapisan Matahari yang memancarkan cahaya. Lapisan ini dinamakan lapisan photosphere (fotosfer). (*)

Referensi
IPA Kurikulum 2013, Kemdikbud
Fisika Gasing, Prof Yohanes Surya Phd

__Terbit pada
29 November 2021
__Kategori
Sains

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.