Menguak Rahasia Angkasa

Pagi-pagi, tuan Guru mengajak didiknya bermajinasi jalan-jalan ke luar angkasa. Simak cerita Tuan Guru bersama muridnya saat menuju antariksa.

“Pak kita sedang di mana nih dan mau ke mana,” tanya muridnya.
“Ooo, kita sedang berada di antariksa. Kita akan menjelajahi ruang angkasa. Melihat benda-benda langit, mengamati bintang yang lahir dan mati,” jawabnya.

“Wah, banyak sekali bintang Pak. Tampaknya bintang-bintang ini telah membentuk kelompok-kelompok yah,” katanya.

“Betul, kelompok-kelompok bintang ini telah menjadi perhatian sejak zaman duhulu. Coba lihat ada Aries, dekat dengan planet Yupiter, di sebelahnya ada rasi bintang Pisces,” kata Tuan Guru.

Tuan Guru mencertikan, saat ini, banyak orang menghubungkan kelompok-kelompok bintang ini dengan nasib di dunia.

“Aneh ya, Pak kenapa begitu,” tanya muridnya kian penasaran.
“Begitulah. Sampai sekarang pun masih ada orang yang percaya pada perhitungan nasib melalui posisi bintang.”
“Kasihan sekali mereka,” sambung anak didiknya.

Tuang Guru menerangkan, astronomi itu cabang ilmu yang mempelajari keadaan dan sifat-sifat benda langit berdasarkan pengamatan ilmiah.

Sedangkan astrologi menghubungkan posisi benda langit dengan nasib dan sifat manusia, tanpa landasan ilmiah. Astrologi ini dimulai sejak zaman Babilonia sekira tahun 3000 sebelum masehi.

Apa Itu  Tata Surya
Sekarang kita akan menuju Tata Surya kita. “Apa itu Tata Surya,” tanya muridnya. Jadi, Tata Surya itu kumpulan benda-benda langit yang bergerak di sekitar Matahari.

“Apa saja anggota Tata Surya itu?”
“Pertama adalah planet. Planet ini bergerak mengelilingi (mengorbit) Matahari. Ada delapan planet yang dikenal, yakni Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus,” kata Tuan Guru.

“Bagaimana dengan Pluto, Pak?” “Pluto dahulu dianggap sebagai planet, sekarang ia dianggap sebagai planet kerdil bersama Ceres dan Eris. Planet terbesar itu Yupiter.”

Sekarang kita lihat planet yang di sebelah Yupiter. Itu Saturnus, Uranus dan Neptunus. “Wah Saturnus indah sekali, memiliki cincin. Pak, apa yang bergerak di dekat Yupiter,” kata anak didik Tuan Guru.

“Itu adalah satelit-satelit Yupiter, beregrak mengelilingi Yupiter. Planet lain juga memiliki satelit. Siapa yang tahu satelit Bumi,” tanya Tuan Guru.

“Bulan, Pak,” jawabnya.
“Wah, ada planet yang berwarna merah,” katanya.

“Itu adalah Mars, setelah itu Bumi, lalu Venus, dan yang ujung dekat Matahari adalah Merkurius. Nanti kita akan pelajari satu-satu,” katanya.

Selain planet, apa lagi yang ada di Tata Surya kita. Ya, ada Asteroid yaitu planet-planet kecil yang jumlahnya sangat banyak. Asteroid ini mengorbit antara Mars dan Yupiter.

Jumlah banyak sehingga membentuk sabuk Asteroid. Menurut cerita zaman dahulu, sebuah Asteroid menghantam Bumi, menyebabkan cuaca di Bumi berubah drastis dan menyebabkan dinosurus punah.

Ada juga Komet atau bintang berekor yang mengelilingi Matahari. Lalu ada Meteor, benda kecil yang berseliweran di luar angkasa. Kadang Meteor jatuh ke Bumi.

Mengapa Pluto Dihapus dari Planet
Syarat benda dikatakan planet jika, mengorbit kepada Matahari, mempunyai grafitasi yang cukup besar sehingga berbentuk bulat.

Selain itu, mempunyai kemampuan membersihkan benda-benda kecil di sekitar orbitnya dengan cara menangkap benda-benda itu melalui tarikan grafitasi atau membelokkan benda itu ketika menghantam dirinya.

Pluto tidak dikatakan planet karena kemampuan mebersihkan dirinya dari benda-benda kecil sangat lemah dibandingkan planet lain.

Pengelompokan Planet
Planet di Tata Surya kita dikelompokka dua, yakni planet Jovian atau planet luar dan planet terestrial atau planet kebumian (planet dalam).

Terestrial terdiri atas Merkurius, Venus, Bumi dan Mars. Planet ini dekat dengan Matahari, diameter dan massa kecil, massa jenisnya tinggi, penyusun utamanya unsur berat, seperti silikat, besi, dan berbagai mineral lainnya, permukaan berbatu, atmosfer tipis, dan tempratur tinggi.

Jovian terdiri atas Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus. Planet ini jahuh dengan Matahari, diameter dan massa besar, massa jenisnya rendah, penyusun utamanya gas hidrogen dan helium, tidak memiliki permukaan padat, atmosfer tebal, dan tempratur sangat rendah.

Orbit planet berbentuk, seperti lingkaran. Planet ini mengelilingi Matahari berlawanan arah dengan arah jarum jam. Setiap planet jga berotasi (berputar terhadap sumbunya) berlawanan arah dengan jarum jam, kecuali Venus dan Uranus yang berputar searah jarum jam.

Gerak benda langit yang mengelilingi benda langit lain yang lebih besar disebut gerak revolusi, seperti gerak planet mengelilingi Matahari dan gerak Bulan mengelilingi Bumi.

Sebagian besar benda langit juga berputar terhadap sumbunya sendiri. Inilha disebut gerak rotasi, seperti gerak Bumi berotasi terhadap sumbunya (mengakibatkan ada perbedaan siang dan malam).

“Sekarang kita sudah kembali ke Bumi. Asyik ya, menjelajahi Tata Surya kita. ” (*)

Referensi
Fisika Gasing, Prof Yohaner Surya, Phd
Ilustrasi benda angkasa di Tata Surya (ist)

__Terbit pada
27 November 2021
__Kategori
Sains

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.