Ilustrasi: firstmedia.com

Hoax

Di akhir pekan, Tuan Guru berselancar di berbagai portal berita nasional dan menjelajahi media sosial, sambil menikmati udara pegunungan yang masih segar.

Tuan Guru mengupdate informasi terkini. Maklum selama tiga terakhir ini, bergelut dengan workshop dan webinar bersama sejumlah sohib.

Di media sosial Facebook, seseorang mengupload foto, seorang anak mengenakan baju tahanan. Foto itu dilengkapi dengan narasi yang bisa menggugah empati pembaca.

Berikut narasinya, Tuan Guru, tak mengeditnya. Putusan tak umum yang diberikan Hakim kepada maling kecil. Seorang bocah berusia 15 tahun tertangkap mencuri roti di sebuah toko di Amerika.

Untuk mencoba melarikan diri, anak itu pun menghancurkan sebuah rak.
Setelah Hakim mendengar kasus ini, dia bertanya kepada anak laki-laki itu:

“Apakah kamu benar-benar mencuri sesuatu?”
“Apakah Anda mencuri roti dan keju dan menghancurkan rak?”

Anak laki-laki pemalu itu, menundukkan kepala, menjawab:
“Ya.”
Hakim: “Mengapa kamu mencuri?”
Anak: “Itu perlu.”

Hakim: “Anda tidak bisa membelinya daripada mencurinya?”
Anak laki-laki: “Aku tidak punya uang.”

Hakim: “Anda bisa saja meminta uang kepada orang tua Anda”
Anak laki-laki: “Aku hanya punya ibuku yang berjuang dan sakit-sakitan dan tidak punya pekerjaan.”

“Aku mencuri roti dan keju untuknya.”
Hakim: “Anda tidak melakukan apa-apa, Anda tidak memiliki pekerjaan?”

Anak: “Saya bekerja di pencucian mobil. Aku mengambil cuti untuk membantu ibuku dan itulah sebabnya aku dipecat.”

Hakim: “Bukankah Anda bisa mencari sesuatu yang lain untuk bekerja di tempat lain?”

Setelah percakapan dengan anak itu berakhir, Hakim mengumumkan putusan:

“Mencuri terutama mencuri roti adalah kejahatan yang sangat memalukan. Dan di sini kita semua bertanggung jawab atas kejahatan ini.”

“Semua orang di ruang sidang hari ini, termasuk saya, bertanggung jawab atas kejahatan ini.

“Dengan ini semua orang di sini akan didenda $10. Tidak ada yang akan keluar dari sini tanpa memberikan $10.”

Hakim mengeluarkan uang $10 dari sakunya. Mengambil pena dan mulai menulis:

“Juga, saya memberlakukan denda $10.000 kepada Pemilik Toko karena menyerahkan anak yang kelaparan ke Polisi. Jika denda tidak dibayar dalam satu jam, toko akan tetap ditutup.”

Semua orang di ruang sidang tersebut meminta maaf kepada anak itu dan membayar denda $10.

Hakim meninggalkan ruang sidang dengan menyembunyikan air matanya.
Setelah mendengar keputusan. Orang-orang di ruang sidang pun meneteskan air mata mereka.

“Aku ingin tahu apakah masyarakat kita, sistem kita, pengadilan kita bisa membuat keputusan seperti itu”?

Hakim menyatakan:
“Jika satu orang tertangkap mencuri roti, semua anggota komunitas, masyarakat dan negara ini harus malu.”

Terkadang hukum begitu angkuh di hadapan para pelaku kejahatan untuk bertahan hidup. Namun begitu humanis kepada kriminal besar yang berkeinginan menumpuk kekayaan untuk kesejahteraan keluarga dan kelompok mereka.

Di akhir tulisan itu, dilengkapi data, waktu dan tempat ditulis. Ya, Houston, 11 November 2021.

Sejumlah netizen, memuji keputusan hakim dan membandingkan dengan penegakan hukum di Indonesia.

Tuan Guru mencari kebenaran peristiwa itu melalui google. Ternyata foto di artikel itu, bukan kasus pencuri roti. Tapi kasus pembunuhan.
Media-media nasional pun telah mengabarkan narasi itu. Hoax.

Tuan Guru menyarankan sohibnya agar tidak langsung percaya berita atau informasi yang belum ada verifikasi dan konfirmasi dari pihak berwenang.

Berita itu, harus akurat, dan tepercaya agar tidak terpengaruh dengan informasi tidak akurat alias fake news.

Bagi Tuan Guru, hoaks itu ada tiga yakni disinformasi, misinformasi, dan malinformasi. Pertama, misinformasi berarti salah informasi. Informasinya sendiri salah, tapi orang yang menyebarkannya percaya informasi itu benar.

Kedua, disinformasi adalah informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk kepentingan tertentu.

Ketiga, malinformasi, informasinya sebetulnya benar. Biasanya informasi itu digunakan mengancam keberadaan seseorang atau sekelompok orang dengan identitas tertentu. Malinformasi bisa dikategorikan ke dalam hasutan kebencian.

“Lalu bagaimana mengenali hoaks,” tanya Sohibnya.

“Hati-hati dengan judul berita yang provokatif dan sensasional,” jawab Tuan Guru.

“Sebaiknya melusuri dulu dengan cara mencari berita yang serupa dari media resmi. Bandingkan isi keduanya. Jika bertolak belakang, maka bisa dipastikan berita itu hoax.

“Periksa fakta dari berita yang tersebar, sumbernya dari institusi resmi atau tidak.”

“Fakta merupakan peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sedangkan opini merupakan pendapat dari penulis berita sehingga bisa cenderung bersifat subjektif,” kata Tuan Guru.

Tua Guru menyarankan, sohibnya meneliti keaslian foto atau video beredar di medsos, gunakan mesin pencari Google. Caranya adalah dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images.

“Saring sebelum sharing agar kita tidak menjadi penyebar hoax,” kata sohib Tuan Guru.(*)

Ilustrasi: firstmedia.com

__Terbit pada
21 November 2021
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *