ilustrasi petir

Mitos atau Fakta, Pakai Baju Merah Rawan Disambar Petir?

Siang itu, di ujung timur garis horison, terlihat awan tebal, menyelimuti gugusan pegunungan Bacukiki, Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Rinai membasah bumi di sore itu.

Suhu atmosfer cukup terik di siang hari. Tapi, saat menjelang rinai turun, awan hitam mengumpul di garis cakrawala dan kilatan cahaya menyambar di langit disambut bunyi gemuruh. Itulah petir.

Tuan Guru bersama muridnya, menikmati sejuknya udara pegunungan, kilatan cahaya dan suara gemuru bertalu-talu di awan.

“Apa itu petir dan mengapa bisa terjadi,” tanya murid Tuan Guru, sesekali menutup telinga saat suara gemuruh.

Tuan Guru membuka beberapa literatur, menjelaskan proses terjadinya petir. Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya.

“Inilah proses terjadinya muatan pada awan karena dia bergerak terus menerus secara teratur. Selama pergerakannya akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah). Muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya,” kata Tuan Guru.

Menurut Tuan Guru, jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan.

“Saat proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara,” jelas Tuan Guru.

Petir itu fenomena alam yang lebih sering terjadi pada musim hujan. Saat musim hujan, udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir.

“Ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan,” jelasnya.

Menuru penelitian, kata Tuan Guru, di seluruh dunia, setiap detik terjadi petir sekira 100 kali kilatan petir. Petir di bumi mempunyai efek yang sangat mematikan.

Sebuah kilatan petir dapat mengalirkan energi yang sangat tinggi. Bayangkan satu kilatan petir mampu menghasilkan 500 juta joule energi.

“Jika dipakai untuk menyalakan lampu 100 watt, maka lampunya bisa bertahan selama delapan pekan,” ujar Tuan Guru.

Energi yang besar inilah membuat suhu kilatan petir bisa mencapai 28 ribu derajat celcius. Suhu permukaan matahari saja hanya seperlimanya. Ini membuat suhu disekeliling suatu kilatan petir memanas secara tiba-tiba.

Tips Aman Saat Petir

Tips
Ilustrasi tips aman saat petir dari bmkg diunduh via kumparan.com

Mencegah agar tidak tersambar, berikut tips bisa dilakukan saat terjadi petir.

Saat Anda di Rumah, sebaiknya menjauhlah dari jendela, keran air, pipa logam, matikan peralatan elektronik, serta tidak menelepon.

Saat Anda berada di jalan, segera masuk ke rumah, bangunan atau mobil. Jika kamu ada di dalam mobil, maka jendela harus tertutup, hindari menyentuh logam dan bagian luar mobil.

Selain itu, hindari air (jangan mendekati laut, sungai, kolam renang, dan lainnya). Hindari lapangan terbuka, saat sedang bermain bola di ruang terbuka, sebaiknya dihentikan.

Jauhi bangunan tinggi, tiang bendera, pohon tinggi, tiang listrik dan tiang telepon.

Mitos Petir
Petir bisa menyambar apa saja, termasuk manusia. Zaman dulu, banyak orang yang percaya cerita mitos seputar petir.

Pertama, petir terjadi saat Hujan. Petir memang biasa terjadi saat hujan datang, tanpa hujan pun petir bisa saja terjadi. Petir menjadi penanda bahwa sebentar lagi awan mendung datang dan menurunkan hujan.

Kedua, berlindung di bawah pohon. Saat hujan, kita pasti akan mencari tempat berteduh, seperti di bawah pohon agar tidak terlalu basah. Tapi, pohon tidak bisa melindungi kita dari sambaran petir. Pohon sering disambar petir.

Ketiga, petir menyambar benda yang paling tinggi. Sebagian orang takut berada di tempat yang tinggi saat terjadi hujan. Banyak yang percaya petir menyambar benda-benda yang paling tinggi. Benda tidak tinggi juga bisa tersambar, seperti tanah dan gedung

Keempat, tidak akan tersambar petir saat di dalam rumah. Petir tidak menyambar benda-benda yang tidak menghantar arus listrik.

Barang elektronik, seperti televisi, komputer, ponsel, dan AC masih tersambung listrik, tetap saja petir bisa menyambar.

Kelima, memakai baju merah rawan tersambar petir. Masih ada orang percaya orang yang memakai baju merah akan lebih mudah tersambar petir. Faktanya baju bukan penghantar listrik yang baik.

“Baju tidak akan membuat kita tersambar petir. Baju terbuat dari kain yang bersifat isolator atau tidak bisa menghantarkan arus listrik,” kata Tuan Guru. (*)

Referensi
Fisika Gasing, Prof Yohanes Surya, Phd
kompas.com
bobo.grid.id
Ilustrasi petir (pixabay.com)

__Terbit pada
9 November 2021
__Kategori
Sains

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *