Mattompang

Komunitas Gamacca Lestarikan Budaya Mattompang

Sabtu, malam (18, September 2021), Komunitas Gamacca, salah satu pelestari budaya di Kota Parepare, gelar ritual Mattompang atau membersihkan benda pusaka.

Pencinta benda pusaka itu duduk melingkar dan meletakkan benda pusaka di atas karpet. Lalu memotong jeruk nipis dan disimpan di atas wadah baki.

Acara Mattompang pun dimulai dengan ritual tertentu, peserta menghunus badik dan dibilas dengan menggunakan perasan jeruk yang dipotong secara khusus.

Saat badik dibersihkan, suasana hening, tidak ada yang bersuara agar pemiliknya bisa menjiwainya, sehingga ada penyatuan antara pemilik dengan badik atau keris.

Setelah dibersihkan, badik-badik itu dibilas dengan air bersih dan kembali keringkan sebelum dimasukkan kembali dalam sarungnya.

Ritual Mattompang ini digelar pelestari budaya yang tergabung dalam Komunitas Gamacca Kota Parepare peringati milad kedua Gamacca dirangkaikan dengan Tudang Sipulung dan Tompang Bersama.

Milad kedua Komunitas Gamacca digelar di Kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare, Sabtu 18 Sepetember 2021) dihadiri pengurus dan anggota komunitas.

Mattompang
Ritual Mattompang pada Milad Kedua Komunitas Gamacca

Sekretaris Komunitas Gamacca Parepare, Zulkarnain mengatakan, Tudang Sipulung dan Tompang Bersama untuk melestarikan budaya leluhur, khususnya budaya lokal Sulawesi Selatan.

Mattompang atau membersihkan pusaka berupa bilah badik atau keris agar tahan lama,” katanya.

Bagi warga Sulawesi Selatan, kata dia, badik dimaknai bukan sekadar senjata, tapi simbol kewibawaan dan keberanian lelaki.

Mattompang itu melestarikan budaya leluhur kita. Dahulu, ritual Mattompang di Sulsel, digelar di kerajaan Gowa Tallo, Bone dan Luwu. Saat itu, semua benda kerajaan dibersihkan,” ujarnya.

Ketua Komunitas Gamacca Parepare, H. Ansar Dg. Halim, menceritakan, milad kedua Komunitas Gamacca, bersilaturahmi pengurus, meski setiap hari mereka bertemu.

“Milad kedua ini kami menyampaikan informasi struktur kepengurusan Gamacca agar bisa menjadi organisasi resmi yang terdaftar dan diakui,” jelasnya.

Bagi Ansar, Komunitas Gamacca akan melestarikan budaya leluhur, seperti Tudang Sipulung, Mattompang, dan kegiatan budaya lainnya.

Tudang Sipulung dan Tompang Bersama itu, dihadiri mantan Anggota DPRD Kota Parepare, Andi Nurhanjayani selaku penasihat Komunitas Gamacca, serta pelestari budaya dan seni di Kota Parepare.

Histori Mattompang
Dikutip dari bone.go.id dan fajar.co.id, ritual mattompang dimulai sejak dulu, pada masa pemerintahan La Ummasa Raja Bone Ke-2 yang memerintah tahun 1365-1368, bergelar Petta Panre Bessie (pandai besi).

Petta Panre Bessie memerintah selama tiga tahun dan mewariskan tata cara merawat perlengkapan perang. Kebiasaan itu dilanjutkan raja-raja selanjutnya.

Ritual mattompang tersebut tidak dilakukan setiap tahun, tetapi hanya dilakukan saat kerajaan menghadapi musuh, ketika terjadi wabah penyakit, dan kemarau panjang yang pelaksanaannya dilakukan di Saoraja (istana raja).

Benda-benda pusaka yang ditompang, seperti Teddung Pulaweng (Payung emas), Sembangeng Pulaweng (selempang emas), Kelewang LaTea RiDuni, Keris La Makkawa, Tombak La Sagala, Kelewang Alameng Tata Rapeng (Senjata adat tujuh atau Ade’ Pitu)

Pencucian benda pusaka tersebut menggunakan beberapa air sumur yang berada di Kabupaten Bone, seperti Bubung Parani, Bubung Bissu, Bubung Tello’, dan Bubung Laccokkong.

Mata air ini dikumpulkan sebagai bahan pembersihan pusaka. Ritual Mattompang tersebut dilakukan dalam beberapa tahap. Dimulai dengan Mallekke Toja yaitu pengambilan air di tujuh sumur untuk pembersihan arajang.

Kemudian Matteddu Arajang atau mengeluarkan benda-benda pusaka dari tempatnya yang kemudian dibawa ke tempat Mattompang oleh para bissu.

Lalu, memmang to rilangi atau kata-kata yang diucapkan bissu yang berisi permohonan izin untuk membersihkan arajang.

Mattompang Arajang bermakna mencuci benda-benda pusaka yang dilakukan empat orang panre bessi (pandai besi kerajaan).

Mattompang diiringi sere alusu atau gerakan-gerakan yang dilakukan  bissu masing-masing Bali sumange, Ana Beccing, dan Kancing diiringi musik genderang. (*)

__Terbit pada
19 September 2021
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *