gerak jatuh bebas

Mengapa Benda Jatuh ke Bawah?

Hai squad, pernahkah Anda berpikir mengapa benda jatuh ke bawah? Yup kita cari jawabannya, simak cerita Tuan Guru bersama muridnya.

“Icha, batu ini saya lepaskan. Apa yang terjadi,” tanya Tuan Guru. “Batunya akan jatuh Pak,” jawab Icha.

“Bagus, batu itu jatuh karena ada tarikan dari bumi. Tarikan itu disebut gravitasi bumi.”

Jadi gravitasi bumi ini menarik batu, membuat batu dipercepat ke bawah.

Besarnay percepatan batu 9,8 m/s2 atau untuk memudahkan, kita anggap 10 m/s2.

“Berarti setiap detik kecepatan batu itu bertambah 10 meter pak,” tanya Icha.

“Iya betul sekali. Gerakan batu yang saya lepaskan dinamakan gerak jatuh bebas,” jawabnya.

“Lalu bagaimana kalau batu itu, dilemparkan ke bawah dengan kecepatan awal. Apakah ini disebut gerak jatuh bebas,” tanya Icha lagi.

“Bukan, ini kita namakan gerak jatuh. Percepatan jatuh benda ini sering disebut percepatan gravitasi atau lebih tepat percepatan jatuh bebas.”

Gerak jatuh bebas adalah gerak jatuh benda yang tidak memiliki kecepatan awal (V0 = 0). Jika selama benda itu jatuh hambatan udara diabaikan, maka percepatannya konstan (tetap) dan besarnya sama dengan percepatan gravitasi bumi.

Waktu yang dibutuhkan benda saat jatuh tidak bergantung pada massanya, tapi bergantung pada ketinggiannya.

Fenomena apel jatuh tidak hanya memberitahu kita tentang teori gravitasi saja, tapi juga sebagai salah satu contoh dari gerak jatuh bebas.

Apel yang semula diam kemudian lepas sendiri dari tangkainya dan jatuh ke tanah karena adanya gaya gravitasi bumi yang bekerja pada apel.

Gerak jatuh bebas pertama kali diperkenalkan ilmuan bernama Galileo Galilei. Bagi Galileo semua benda, baik berat maupun ringan akan jatuh ke bawah dengan percepatan konstan yang sama jika tidak ada udara atau hambatan lainnya.

Pada tahun 1971, seorang astronot bernama David Scot, menguji teori itu dengan menjatuhkan sehelai bulu ayam dan sebuah palu pada ketinggian yang sama di permukaan bulan yang hampa udara. Hasilnya bulu ayam dan palu itu menyentuh permukaan bulan pada saat bersamaan. (*)

Referensi
Ilustrasi/foto quipper.com
blogruang.com
Fisika Gasing, Prof Yohones Surya.

__Terbit pada
1 September 2021
__Kategori
Sains