Learning Loss

Learning Loss dan Ancaman (Kehilangan) Earning

Foto ilustrasi peserta didik  belajar online (fusionacademy.com)

Senin, 23 Agustus 2021, Tuan Guru bersama sohib mengikuti webinar yang mengupas penggunaan aplikasi pembelajaran interaktif bernama Smart Apps Creator (SAC).

Saat itu, cerita learning loss sempat menjadi perbincangan, saat Ketua JSDI Pusat Muhammad Ramli Rahim, berikan sambutan. Maklum sudah 1,5 tahun anak didik belajar dalam jaringan (daring).

“Tak ada tatap muka dengan guru, pengawasan anak didik sepenuhnya dikendalikan orang tua, learning loss menjadi ancaman bagi dunia pendidikan kita,” katanya.

Ya, selama tiga semester, guru mengajar dari rumah, peserta didik belajar di rumah. Pendidikan kuita terancam learning loss atau kehilangan satu generasi yang tidak belajar.

Saat pandemi, pembelajaran jarak jauh di seluruh dunia kurang efektif. Tuan Guru dan sohib sadar, konektivitas pembelajaran tatap muka maya belum bisa diandalkan.

Banyak orang tua repot mengerjakan tugas sang buah hati yang terus menumpuk setiap hari.

“Orang tua sibuk lagi,” tulis orang tua di akun media sosialnya disertai postingan gambar buku pelajaran.

Pengajaran via daring diakui banyak kendala, seperti ada anak yang tidak memiliki gawai, jaringan internet sering tak stabil. Ditambah lagi dampak psikososial kepada anak didik.

Anak-anak mengalami kebosanan, jenuh dengan begitu banyaknya video conference dan tugas yang wajib diselesaikan.

Tingkat stres orang tua naik, di saat mereka sibuk mencari nafkah, mereka harus mendampingi dan membimbing sang buah hati agar mengikuti pengajaran jarak jauh dengan baik.

Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, dikutip kemendikbud.go.id, learning loss itu hilangnya kesempatan belajar.

Interaksi guru dengan peserta didik terus menurun, disertai penurunan penguasaan kompetensi peserta didik.

“Pembelajaran jarak jauh kita kalau dibiarkan terlalu lama, maka risiko yang dialami anak-anak kita, pendidikan kita, dan negeri ini akan semakin besar,” kata Jumeri Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Pauddikdasmen) Kemendikbudristek, dikutip detik.com.

Learning loss ini, berdampak pada kemampuan intelektual anak dan kecakapan dalam hidupnya di masa depan. Selain itu, berisiko terhadap earning atau pendapatan, kelak ia bekerja.

Kompetensi peserta didik juga dikhawatirkan jeblok dan tidak bisa bersaing di dunia kerja.

“Menurut kalkulasi kerugian yang terjadi secara internasional akan bisa mencapai 10 triliun dolar. Luar biasa apabila learning lost akibat pembelajaran terus dipertahankan,” paparnya.

Mencegah learning loss, sekolah, guru, dan orang tua, perlu fasilitasi anak didik menggunakan Learning Management System (LMS) sebagai platform digital di sekolah.

Bagi Tuan Guru dan sohib, LMS bisa menjadi wadah menyambung interaksi antara guru dan siswa tetap terjalin.

Manajemen sekolah bisa memadukan daring dan luring dengan menggunakan aplikasi, seperti Whatsapp (WA), Video Call WA, atau dikolaborasikan dengan tatap muka terbatas.

Cara lain, guru bisa melakukan kunjungan rumah peserta didik yang memiliki keterbatasan jaringan internet atau tidak memiliki gawai.

Tuan Guru dan sohib sering membaca nasihat Ki Hajar Dewantara, semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah.

Learning loss itu tantangan sekolah, guru, dan orang tua agar bisa lebih kreatif, inovatif, adaptif, dan kolaboratif, sehingga learning loss bisa dihindari.

Jika pandemi virus Wuhan ini terus membuat pendidik dan orang tua frustrasi, mati rasa, mati gaya, selalu apatis dan memelihara pesimis, maka learning loss bisa menjadi kenyataan. (*)

__Terbit pada
25 Agustus 2021
__Kategori
ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *