Cek Fakta sebelum Share

Hari ini, (Kamis, 22Juli 2021), Program Studi Jurnalistik Islam , Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, IAIN Parepare, kembali meliterasi masyarakat di bidang digital.

Webinar kali ini, mengupas budaya digital, media mainstream vs media sosial, bahasa media digital.

Webinar yang digagas Prodi JI IAIN Parepare bersama TRIDEA Communication Consultan dan Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) menghadirkan praktisi media dan dosen komunikasi dari perbagai perguruan tinggi di Indonesia.

“Kita meliterasi masyarakat tentang bahaya hoax yang beredar di tengah masyarakat,” kata Penanggung Jawab Webinar A. Dian Fitriana.

Dosen IAIN Parepare itu, berharap, webinar ini bisa mencerahkan masyarakat, sehingga tak memproduksi hoax dan tidak menyebarkan.

Ketua Program Studi Jurnalistik Islam, Dr Muhammad Qadaruddin, mengatakan, webinar digital ini memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya budaya dan etika bermedia sosial.

“Kita mencoba meliterasi masyarakat agar tidak ikut-ikutan menyebar berita hoax melalui media sosial,” katanya.

Webinar kali ini, Prodi JI mengusung empat tema, yakni Digital Safety, Digital Culture, Digital Ethics, dan Digital Skill. L

Digital Safety digelar pada Jumat, 16 Juli 202, mengulas Kesadaran dan Keamanan Menjaga Privasi dalam Mengakses Konten Media Digital.

Digital Ethics, Sabtu, 17Juli 2021 menguarai, Pentingnya Etika dan Toleransi dalam Bermedia Sosial.

Digital Skill, Minggu, 18 Juli 2021 mengupas tips Miliki Kemampuan Bermedia di Era Digital.

Kemudian, Digital Culture, digelar Kamis, 22 Juli 2021, berbagi tips menghadapi berita hoax melalui Tranformasi Budaya di Era Digital.

Webinar terakhir menghadirkan nara sumber kompoten mengupas budaya digital. Yakni Fathia, M Ikom (STAIN Majene), bahas budaya di era digital.

Direktur Pijarnews.com dan Dosen IAIN Parepare, Alfiansyah Anwar, MHI mengupas bahasa media digital.

Mantan Jurnalis yang juga Dosen IAIN Parepare, Hairil M Pd, bahas media mainstream vs media sosial.

Para narasumber mengajak, masyarakat agar tidak produksi dan meyebarkan berita bohong melalui media sosial. Berita bohong itu menyesatkan masyarakat.

“Pastikan informasi atau berita yang dishare di media sosial terkonfirmasi dan terverikasi sebelum di share agar tidak menyesatkan pembaca,” kata Hairil.

Caranya bisa dilakukan dengan mengecek kebenaran informasi itu melalui cek fakta di browser Anda.

“Bijaklah bermedia sosial, saring informasi sebelum dibagi. Pastikan informasi itu terverifikasi dan terkonfirmasi.”

Webinar Budaya Digital ini diikuti peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan negeri jiran Malaysia.(*)

__Terbit pada
22 Juli 2021
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.