ilustrasi

Penghapus “Dahaga”, Siapa Juara Eropa

Babak final Piala Eropa atau Euro 2020 pertemukan raksasa Eropa, Gli Azzurri Italia dan The Three Lions Inggris di Stadion Wembley, London, Inggris, Senin, 12 Juli, pukul 03.00 Wita.

Pertemuan kedua timnas itu menarik disimak. Meski kejuaraan sepak bola benua biru itu tak sebiru biasanya.

Tuan Guru dan sohib tak bisa menyaksikan jagoannya berlaga di layar kaca televisi. Maklum telivisi di rumah Tuang Guru dan sohib, tak menyiarkan pertandingan Piala Eropa.

Tuan Guru terpaksa menonton bola menggunakan layar kaca laptop, memutar siaran langsung Piala Eropa di media sosial Facebook melalui video watch.

Biasanya penikmat bola rela begadang menunggu tim jagoannya beraksi di lapangan hijau.

Banyak mendatangi warung kopi (warkop) yang menyajikan acara nonton bareng (nobar) dan menyediakan layar lebar.

Momentum ini, dimanfaatkan pemilik warkop menarik minat warga yang ingin menghabiskan malam bersama kopi hangat dan menyaksikan riuhnya pertandingan sepak bola benua biru.

Biasanya, kopi khas tersaji di meja, ditemani dan sejumlah penganan khas bugis ala rakyat biasa.

Hangatnya kopi disempurnakan dengan kepulan asap dan aroma nikotin mengepul tanpa dosa menuju ujung langit.

Biasanya, mereka berkumpul melepas ketegangan dari aktivitas seharian. Mereka menjagokan tim dan pemain favoritnya sambil menikmati secangkir kopi kesukaannya.

Biasanya, perbincangan hangat membahas siapa jagoan yang tersingkir bahkan saling bercanda dengan membuat gambar lucu mendeskripsikan pemain dan tim yang tersingkir.

Warkop pun menjadi tempat silahturahmi antara rakyat dari berbagai latar belakang berbeda. Mereka berdiskusi renyah, santai tanpa sekat.

Biasanya, Event bola internasional disambut pengusaha warkop dengan senyum, rezeki bola pun menggeliat. Fase grup, knok out, delapan besar, semifinal telah usai.

Kini, memasuki partai puncak, pertemukan Inggris dan Italia. Tapi rezeki bola tak ngepul lagi. Tak ada nobar dan pengusaha teve kabel tak menyiarkan Piala Eropa.

Saat ini, statistik penularan virus asal Wuhan, Tiongkok masih tinggi. Pemerintah berlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat,untuk mencegah penyebaran Covid-19 kian meluas. Tak ada lagi nobar bola.

*****
Keberhasilan timnas negeri Ratu Elisabeth lolos final Euro 2020, membuat jargon Footballi is Coming Home bergema. Ya, selangkah lagi Inggris juara.

Meski penampilannya kurang impresif di babak penyisihan grup, The Three Lions hanya menciptakan dua gol dari tiga laga dan mengemas tujuh poin (juara grup).

Di Babak 16 besar, Inggris baru mulai tunjukkan taringnya, kala menghempaskan tim Panser Jerman dengan skor telak 2-0.

Lalu, di babak delapan besar, permalukan Ukraina dengan skor telak 4-0. Lalu, lolos semifinal dengan rekor mentereng, gawang dijaga Jordan Pickford, tetap perawan.

Di semifinal anak asuh pelatih Gareth Southgate menang atas Denmark dengan skor 2-1, setelah melalui babak ekstra time.

Performa Harry Kane dkk kian menanjak mampu mencetak delapan gol dalam tiga pertandingan dan hanya kebobolan satu gol.

Fans Inggris kian percaya diri, jagoannya mampu menggondol juara. Jika itu terwujud, maka Inggris meraih piala setelah paceklik juara selama 55 tahun. Terakhir mengangkat trophy pada Piala Dunia 1966.

“Saya sangat bangga kerja keras para pemain. Ini kesempatan yang luar biasa. Para penggemar luar biasa sepanjang malam,” kata Gareth Southgate dikutip Mirror.

Sebelumnya, Italia memastikan satu tiket di babak puncak, setelah mencukur La Furia Roja, Spanyol.

Timnas negeri Pizza itu memiliki modal besar mengangkat trophy paling bergensi di daratan Eropa. Selama 33 laga secara beruntun, belum pernah takluk.

Di babak penyisihan grup anak asuh Roberto Mancini itu mampu mencukur Turki 0-3, mengalahkan Swiss 3-0, danĀ  Wales 1-0 di penyisihan grup.

Di babak 16 besar Italia menumbangkan Austria 2-1 dan babak delapan besar, permalukan peringkat 1 FIFA, Belgia dengan skor tipis 1-2.

Perfoma Giorgio Chiellini Cs, kian moncer setelah mampu menahan imbang 1-1, favorit juara Sponyol di semifinal selama 90 menit dan tambahan waktu.

Penentuan pemenang dilakukan adu pinalti. Italia menangĀ  dramatis melalui adu tos-tosan dengan skor 4-2.

Hasil ini, pertemukan Italia dan Inggris di babak puncak. Hem… Menarik disaksikan.

Pertemuan kedua raksasa Eropa itu, telah terjadi 27 kali.Gli Azzurri menang 11 kali dan Inggris menang 8 kali, dan 8 sisanya berakhir imbang.

Di atas kertas Italia di atas angin, ia tidak pernah kalah dari Inggris di turnamen besar. Pada Piala Dunia FIFA 1990 menang Menang 2-1 dan 2014.

Italia mengalahkan Inggris tekahir di Piala Dunia 2014 pada fase grup dengan skor 1-2.

Inggris menang dari Italia terakhir kali pada 2012 silam di laga persahabatan dengan skor 2-1. Kedua timnas bertemu di ini tahun 1980. Italia menang 1-0.

Italia juga haus juara Eropa, baru sekali menjadi juara yakni di tahun 1968 dan dua kali meraih runner up. (*)

__Terbit pada
8 Juli 2021
__Kategori
Lifestyle

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.