Mukena Penghapus Air Mata

Oleh : Sri Radiyaningsi Salmah

Saya Annisa, berusia 11 tahun, baru saja lulus dari SD. Saat itu, saya bingung menentukan sekolah yang tepat melanjutkan pendidikan jenjang SMP.

Di tengah kebigungan itu, ayahnya meminta melanjutkan pendidikan di Pondok pesantren.

Annisa kaget, ia tidak pernah memikirkan sekolah di pondok pesantren dan meninggalkan keluarganya.

“Biayanya sekolah di pondok pesanteran kan tidak murah Pak,” kata Nis begitu ia disapa.

“Nisa akan meninggalkan ayah, ibu, kakak, dan adik-adik,” kata Nisa dengan nada sedih.

“Masalah biaya, jangan kawatir sekolah itu gratis dan Insha Allah, Nisa akan menjadi anak yang baik dan paham agama,” nasihat ayahnya.

Ayah Nisa berusaha meyakinkan putrinya agar mau melanjutkan pendidikan di pesantren. Namun, Nisa masih ragu melanjutkan sekolah pilihan ayahnya.

Ia tidak bisa membayangkan jauh dari orang tua, jauh dari teman-teman dan meninggalkan kampung kelahirannya.

Tetapi Nisa berusaha yakin, pilihan ayahnya itu yang terbaik. Nisa mulai bersiap-siap, mengemasi barang-barangnya yang akan dibawanya nanti ke sekolah baru.

Nisa dibantu ibu dan kedua kakaknya yang masih duduk di bangku SMA. Nisa tidak menyangka akan meninggalkan orang yang disayanginya, beberapa tahun ke depan.

Ia sedih, menangis sambil memeluk ibu dan kedua kakaknya. Ibunya memeluknya.

“Nak…kamu jangan khawatir ibu akan selalu mengunjungimu,” nasihat ibunya.

Nisa hanya mengangguk, sambil memeluk erat tubuh ibunya, kakak Nisa hanya berpesan agar adiknya rajin belajar di pesantren.

“Harus rajin ibadah, jangan nakal karena ibu dan ayah sangat sayang sama Nisa. Itulah kenapa Nisa dikirim di pesantren menuntut ilmu.”

“Malam ini, aku akan tidur bersama ibu dan tidak ingin sendiri di kamar. Aku ingin memeluk ibu dan menghabiskan waktu tidurku bersama ibu,” kata Nisa dengan nada yang manja.

Ibu sibuk mempersiapkan bekal yang akan dibawa ke asrama barunya. Ayah dan ibu bersiap-siap mengantarnya ke pesantren.

Setelah semuanya beres ia menunggu jemputan mobil yang akan membawanya ke pesantren nanti.

Ia menunggu jemputan mobilnya, Nisa memeluk adik dan kakaknya karena dia akan meninggalkan mereka untuk beberapa tahun menuntut ilmu di pesantren.

Tak henti-henti ia memeluk adik dan kakaknya. Akhirnya terdengar bunyi klakson, sebuah mobil minibus berwarna putih yang pertanda siap membawa Nisa menuju pesantren.

Nisa bergegas melepaskan pelukannya dari adik dan kakanya, dan mencium mereka.

Nisa pun berjalan menuju mobil bersama ayah dan ibunya, diantar adik dan kakaknya sampai masuk kedalam mobil.

Saat perjalanan, Nisa membayangkan suasana sekolah barunya itu, teman –teman baru dan tempat tidur yang baru, sesekali memeluk kedua orang tuanya sambil menatapnya.

Tak lama kemudian tibalah di sekolah impiannya, pesantren impian ayah untuk anak-anaknya. Nisa disambut pembina ibu “ustazah” yang ada di pesanteren.

Nisa melakukan registrasi ulang bagi santri baru yang akan masuk di pesantren tersebut. Setelah melakukan registrasi yang diwakili ayahnya.

Nisa bersama kedua orang tuanya dibawa keliling melihat sebagian lokasi yang ada di tempat itu. Setelah diajak keliling ibu ustadzah dan orang tua melihat kamar yang akan ditempati nantinya.

Dalam kamar itu berisi 6 orang bersama Nisa.
“Apakah Nisa suka dengan kamar barunya,” tanya ustadzah sambil tersenyum kepada.

“Insya Allah suka ustadzah dengan nada yang sopan,” jawabnya sambil tersenyum kepada ibu dan ayahnya.

Lalu ustadzah pun memberikan kunci kamar dan kunci lemari untuk Nisa. Kemudian Ustadzah meninggalkan Nisa dengan orang tuanya di kamar.

Banyak teman Nisa yang menyambutnya dengan baik, mereka mengajak Nisa berkenalan dengannya. Nisa dengan senang hati melihat teman-teman barunya itu.

Ibu dan ayah senang melihat putrinya bisa tersenyum dengan teman barunya. Sambil membereskan baju Nisa, ibu memperhatikan Nisa dengan baik.

“Dia akan meninggalkan putrinya di pesantren untuk menuntut ilmu dengan waktu yang tidak singkat,” katanya dalam hati, sambil menghapus air matanya dengan mukena yang ia kenakan.

Nisa tidak sengaja melihat ibunya menghapus air matanya, Nisa menghampiri ibunya dan memeluknya eret-erat, tangisan Nisa pun pecah saat memeluk ibunya.

“Jangan menangis, Nisa juga akan ikut sedih melihat ibu sedih,” katanya sambil menghapus air mata ibunya.

“Nisa janji sama ibu, akan rajin belajar, rajin salat dan akan selalu mendoakan ibu, ayah, kakak, dan adik-adik selalu diberi kesehatan sama Allah Swt,” kata Nisa.

Ibunya semakin sedih, saat itu ibu merasa bahwa ia yakin Nisa akan kuat menjalani kehidupan barunya di pesantren, sambil memeluk putri kecilnya itu.

Saatnya ibu dan ayah pulang ke rumah. Nisa mengantar ibunya keluar dari kamar dan memeluk ayah dan ibunya.

“Jangan lupa, sering-sering datang ke sini menjenguk Nisa karena Nisa akan selalu merindukan ibu, ayah, kakak dan adik,” pintanya dengan nada sedih.

Setelah kedua orang tuanya pulang, Nisa masuk kamar dengan menangis terseduh-seduh betapa ia masih merasakan bahwa ibu dan ayahnya masih ada disampingnya.

Tetapi teman-teman kamar berusaha menenangkan Nisa agar dia tidak sedih lagi dan membawanya ke tempat tidur untuk beristirahat.

Setelah mereka sudah berkenalan satu sama lain, terdengar suara dari salah satu aula asrama, santri bergegas mengambil alat mandi.

Yah tentu saja itu adalah peringatan untuk anak-anak asrama agar bergegas mandi dan bersiap-siap, salat Magrib berjamaah lanjut dengan kegiatan asrama selanjutnya, dengan pelajaran-pelajaran agama ataupun kegiatan ibadah lainnya.

Nisa terlambat mengikuti salah satu pelajaran kajian dari salah satu ustadzahnya. Nisa masih baru di asrama, dia pun merasakan kesedihan yang mendalam dan membuat dia beberapa saat mengurung diri di kamar.

”Emang kenapa tadi,” tanya dengan nada yang masih santai.
“Nis kamu itu pas masuk tadi, semua teman-teman memperhatikan kamu dan membicarakanmu,” katanya.

“Emang ada yang salah yah di muka aku,” ujarnya dengan nada yang malu-malu. Rahma pun memberi jawabannya, sambil

“Aku juga pernah merasakan hal yang sama kayak kamu,” katanya.

Nisa pun merasa lega setelah sahabatnya itu menceritakan pengalamannya.

Saat itu sambil menghela nafasnya. Ustadzah pun menyuruhnya perkenalkan diri.

”Silakan Nak Nisa perkenalkan dirinya agar teman-teman dari Aspura atau Aspuri yang belum mengenal Nisa,” pintanya.

“Assalamu Alaikum, perkenalkan nama saya Annisa, teman-teman bisa memanggil saya dengan sebutan Nisa. Asal saya dari Sulawesi Barat tepatnya daerah Polman,” katanya.

“Alasan saya memilih untuk bersekolah di pesantren, karena ayahku menyarankan sekolah di pesantren untuk memperdalam agama.”

“Ayah ingin melihatku tumbuh menjadi anak perempuan yang betul-betul paham agamanya sendiri. Saya harap orang tua teman-teman yang ada di sini bisa seperti harapkan kedua orang tuaku,” katanya.

Singkat cerita sudah berlalu masa-masa perkenalan dan rasa canggung terhadap teman-teman, aku pun mulai akrab dan sudah sangat dekat dengan mereka walau hanya sebagian teman di asramaku.

Aku sudah melalui masa-masa sulit di sini menuntut ilmu agama dan mengahafal berbagai ayat-ayat Alquran, hadits dan doa-doa yang lain.

Dua tahun itu berarti aku sudah kelas 2 Madrasah Tsanawiyah. Sebentar lagi aku akan mengikuti ujian akhir semester, saya mempersiapkan diri belajar.

“Ayah dan ibu setiap hari mendukungku lewat telephone asrama yang disediakan pondok pesantren. Selama menjadi santri tidak diperbolehkan menggunakan HP, gawai dan alat komunikasi lainnya.”

Selama dua tahun di asrama, aku selalu merasa nyaman dan baik, suasananya yang membuatku betah dan bertahan menuntut ilmu agama.

Mungkin kebanyakan orang atau seumuranku menganggap belajar dan tinggal di sebuah pesantren itu membuat orang terkurung.

Siapa bilang kita terkurung justru tinggal di pesantren adalah hal yang paling baik dalam hidupku dan pilihan yang tepat untukku.

Yang aku rasakan selama belajar dan menuntut ilmu di sebuah pesantren yang sudah menjadi tempat tinggalku.

Membuatku lebih memahami kebersamaan bersama teman-teman, tidur bareng, makan bersama dan melakukan banyak kebaikan bersama mereka.

Menurutku itu adalah hal yang sangat-sangat berarti bagiku, dan tidak semua orang mengalami semua itu.

Saya sangat beruntung tinggal di tempat yang seperti ini, di mana saya tidak mengenal dunia luar yang sangat kejam di luar sana.

Banyak orang, anak-anak gadis yang hidupnya tidak bisa merasakan hidup yang baik dan benar.

Hidup mandiri adalah yang menyenangkan di mana kita sudah tahu hidup sendiri tanpa membebani orang tua kita.

Beberapa minggu sudah berlalu masa ujianku kini wakunya masuk libur sekolah, tapi tidak dengan pelajaran-pelajaran asramaku di pesantren.

Lalu aku bercerita tentang rindu akan kampung halaman kami masing-masing sehingga membuat susana menjadi sedih dan hening seketika.

Aku memperhatikan sahabat-sahabatku dengan perasaan yang sedih bahwa bukan hanya aku yang selalu merindukan kampung halamanku terlebih lagi dengan orang-orang di rumah.

Setiap hari kami selalu merindukan orang tua kami, tapi yah kami selalu berusaha untuk menahannya dan kuat menghadapi kerinduan yang amat berat.

Tapi inilah kehidupan aku di asrama resiko yang siap aku tanggung bersama dengan keluarga yang menuntut ilmu denganku di pesanteren.

Saya sudah berjanji pada diriku bahwa saya akan pulang ke kampung halaman, ketika sudah sukses menjadi apa yang ayah dan ibuku inginkan.

Aku tidak ingin mengecewakan mereka karena dialah yang akan lebih menderita ketika anaknya tidak berhasil.

Selama saya kuat dan sabar menuntut ilmu di pesantren, kini tiba saatnya penerimaan raport.

Hari ini adalah hari yang menegangkan untukku karena orang tua siswa(i) semuanya hadir untuk menemani anak-anaknya mengambil raport.

Beberapa menit kemudian pengumuman hasil ujianku nilai disebut wali kelasku, aku begitu gugup mendengar pernyataan dari wali kelasku.

Saya terus memegang tangan kedua orang yang luar biasa mendukung hidupku selama ini. Aku tidak bisa membayangkan wajah mereka ketika mendengar hasil ujianku ini.

Tetapi pada saat wali kelasku menyebut namaku, saya tak mendengar sama sekali bahwa saya yang akan menjadi siswa terbaik di angkatanku dan mendapat nilai tertinggi tahun ini.

Yah tentu saja ayah dan ibu bangga mendengar itu dan terharu, mereka memelukku dan menciumku, sebelum dipanggil untuk ke depan memberi sambutan di hadapan teman-temanku, orang tua murid dan guru-guruku.

Akhir yang bahagia yang meneyenangkan buatku dan akan selalu mempertahankan prestasi yang Allah berikan kepadaku selama ini. (*)

Penulis adalah mahasiswi Jurnalistik Islam,FUAD, IAIN Parepare

__Terbit pada
7 Juli 2021
__Kategori
Cerpen, ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *