Mahasiswi IAIN Menari Jeppeng

Suatu sore di Lumpue, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, rinai rintik di awal Juli 2021, membuat suasana kian sejuk.

Di bawah kolong rumah suara musik gambus terdengar, samar. Tuan Guru mendekat, terlihat sejumlah mahasiswi sedang belajar Tari Jeppeng, tari khas Kota Parepare.

Diiringi musik gambus, khas Timur Tengah, para mahasiwi dari Program Studi (Prodi) Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (Fuad), IAIN Parepare itu, mulai menggoyangkan kaki dan tangan, mengikuti irama musik rebana.

Mereka dibimbing Komunitas Pa’Jeppeng Kota Parepare di bawah asuhan Andi Nurhanjayani.

Aktivis perempuan itu, membuka diri melatih siapa saja yang ingin belajar tari berasal dari negeri Arab itu.

“Kita belajar mulai paling dasar dulu Nak,” katanya sambil peragakan gerakan paling dasar dan diikuti mahasiswi.

Saat Rehat, Puang Anja begitu ia disapa, bercerita mahasiswi itu belajar Jeppeng, menyelesaikan tugas dari dosennya. Tugas itu berupa kajian lintas budaya.

“Saya siap bantu mereka yang ingin belajar Tari Jeppeng, komunitas Pa’Jeppeng siap membimbing mahasiswi hingga mahir,” katanya.

“Menguasai tarian jenis ini tak butuh waktu lama, jika rutin latihan. Pemula cukup dua minggu. Tapi, jika tidak disiplin, maka bisa berbulan-bulan.”

foto bersama
Andi Nurhanjayani foto bersama mahasiswi KPI IAIN Parepare

Menjelang Magrib, ia hentikan latihan, lalu mengajak mahasiswi berswafoto. Latihan sore itu usai. “Besok sore kita lanjut lagi,” ajaknya.

Esok hari, mahasiswi itu datang lagi berlatih. Kali ini, dipersiapkan kamera dan mengenakan seragam baju Bodo (baju adat khas Bugis), desain khas Rumah Malebby.

Diiringi musik gambus mulai menggoyangkan kaki dan tangan, mengikuti irama musik rebana dipandu pelatih Jeppeng Ibu Ramlah dan Puang Zakiah.

Lalu video itu, diupload di akun Facebooknya dengan caption kalaborasi Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Parepare dan Komunitas Pa Jeppeng Kota Parepare.

Ketua Program Studi KPI IAIN, FUAD IAIN Parepare, Nurhaki, bercerita ke Tuan Guru, mahasiswanya akan produksi konten budaya. Hasil produksi itu akan dipublikasi dalam bentuk video dokumenter.

Mahasiswa KPI belajar Tari Jeppeng, Tari Padduppa, Mappaci, Lipa Sabbe, jejak dakwah Gurutta H Ambo Dalle, dan budaya lainnya.

“Hasil produksi ini kita akan buatkan film dokumenter. Kita ingin agar mahasiswi memahami dan tidak melupakan budaya kita,” katanya.

Nurhaki bercerita ingin belajar tari Jeppeng, khas Kota Parepare. Bagi dia, tarian Jeppeng, wadah mesyiarkan Islam dan budaya.

“Saya juga mau ikutan belajar, tapi saya lembur terus. Suatu saat, saya datang dan belajar tari Jeppeng,” akunya.

*****
Tari Jeppeng merupakan suatu kesenian yang berasal dari tanah Arab dan dibawa orang Yaman dan Gujarat.

Di awal abad ke-16, tari Jeppeng diperkenalkan saudagar Arab dari Hadramaut di Johor dan berkembang di kerajaan Riau. Lalu masuk ke beberapa daerah seperti Singapura, Malaysia, Indonesia dan Brunai.

Di Indonesia, Tari Jeppeng berkembang di beberapa daerah seperti Gorontalo, Parepare, Kota Mobagu Sulawesi Utara, Toli-toli dan Kota Palu dengan ciri khas masing-masing.

Zaman dahulu, tari ini diperankan keluarga bangsawan, pemuka masyarakat, atau tokoh agama. Tarian diiringi musik gambus berasal dari Timur Tengah.

Seiring dengan bekembangnya zaman tarian ini dimodifikasi sehingga terbentuk tarian Jeppeng.

Tarian Jeppeng yang didominasi wanita ini awalnya diperankan kaum adam, saat ada pesta atau hajatan.

“Penari Jeppeng diwajibkan memakai sarung. Saya mencoba melestarikan sesuai ajaran syariah,” kata Puang Anja.

Penari Jeppeng wanita menutup aurat, menggunakan lipa sabbe (sarung sutra). Laki-laki mengenakan songko to Bone dan sarung sabbe.

Tarian Jeppeng dibawah Koordinator Puang Anja, pernah merebut Rekor Muri tahun 2007, dengan peragakan tarian Jeppeng yang melibatkan semua instansi, dan elemen masyarakat, berjumlah 8.600 orang, memadati Lapangan Andi Makassau kala itu.

Selain itu, tarian Jeppeng Bacukiki, Kota Parepare, terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 01-01-2018 dengan registrasi 2018008906. (*)

__Terbit pada
3 Juli 2021
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *