Jukir

Nasihat Sang Jukir

Hari ini, Rabu, 16 Juni 2021, Tuan Guru mendapat kiriman tulisan dari Sohib. Tulisan itu, bercerita perjuangan seorang Juru Parkir atau Jukir menghidupi keluarganya dari menjual jasa parkir di jalan raya.

Bagi Sohib Tuan Guru, hidup itu penuh dengan tantangan dan hidup itu perlu pengorbanan. Sang Jukir mengais rezeki terkadang terasa berat. Beban dan tanggung jawab kepada keluarga.

Manusia di ciptakan oleh Allah SWT tentunya jalan rezekinya berbeda-beda. Rezeki tak akan tertukar, percaya bahwa rezeki  akan didapatkan sebelum kembali ke Sang Pencipta.

Ada yang hidup dengan bergelimang harta, ada pula yang kesulitan harta. Namun kesemuanya itu tetaplah haruslah kita syukuri sebagai makhluk ciptaan yang patuh dan taat pada Pencipta..

Ya, hidup di tengah kota besar, membuat Pak De, begitu ia disapa. Ia berprofesi sebagai Jukir, Pak De sudah usianya 55 tahun, menghidupi anak-anak dan istrinya dari menjual jasa parkir.

Pak De, tinggal digubuk tua dekat kanal. Ia menghidupi tujuh orang anak yang masih kecil. Memenuhi kebutuhan sehari-hari, Pak De juga bekerja sampingan sebagai pemulung.

Pendapatan dari jasa parkiran kadang kala sepi sehingga untuk menghidupi keluarganya maka saya harus bekerja keras.

Tapi, saat parkiran lagi ramai, biasanya Pak De mendapatkan kocek 50 ribu sampai 100 ribu per hari.

Pendapatan itu, belum bersih harus menyetor setoran sebesar sebagian ke pihak terkait.

“Mencari rejeki itu beban berat apalagi harus menghidupi keluarga besar kami,” kata Pak De kepada Sohib.

“Tapi ketika bertemu keluarga setelah pulang ke rumah, maka beban di pundak hilang seketika dengan canda tawa anak-anak di rumah,” cerita Pak De. (*)

(Penulis: Hadiwaratama R Jusran)

__Terbit pada
16 Juni 2021
__Kategori
Culture, ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *