“Dari Ngojek hingga Jual Bolu”

Oleh : Nurul Mutmainnah

Kicau burung begitu merdu. Menari menikmati pagi itu, seakan sedang bernostalgia menyambut hangatnya sang surya.

Suaranya menyapa, memberikan semangat baru untuk menikmati keindahan alam Nusantara dan segala panorama. Di mana kaki berpijak di bumi dengan segala isinya.

Sebelum tapak kakiku menyentuh tanah di Kota Pendidikan, masih terngiang dan melekat sekelumit pesan orang tua yang titipkan kepadaku.

“belajarlah dengan niat belajar,” nasihat orang tua.

Pesan itu, dikutip dari baginda Rasul “Utlubul Ilma Minal Mahdi Ilal Lahdi.”

Maka sampai detik ini pun selalu bersungguh-sungguh belajar. Sadar ataupun tidak sadar, saat ini aku adalah mahasiswi.

Mahasiswi itu, mencari dan menemukannya, meski yang dicari berada di lingkungan bebas. Tetap dicari, aku memikul tanggung jawab terhadap diri sendiri, orang tua, sosial dan yang paling besar adalah tanggung jawab terhadap pemilik diri.

Orang tua hanyalah tahu dan bangga akan anaknya sebagai mahasiswa. Di awal perkuliahan belum berorganisasi selain kuliah, rumah serta jadi kurir.

Saat itu, sangatlah membosankan, dan waktu itu juga aku berikhtiar memilih satu organisasi di kampus menjadi ruang mengembangkan diri.

Banyak ilmu yang aku dapat di luar bangku kuliah, sebagaimana mahasiswa itu sebagai agent of control, agent of change, dan agent of social.

Di sini saya memulai melukis kegiatanku walau terkadang merasa kelelahan, letih, lesu dan lemas. Tapi inilah jalan yang harus dihadapi dengan niat yang baik.

“Saatnya kuliah,“ terikku lantang menembus dinding tembok yang kokoh.

Saya segera menunggangi motor bututku menujukampus. Temanku biasa menyebut kampus Hijau Tosca, kampus yang ramah dengan lingkungan.

Dahulu tak pernah terlukiskan di benakku bagaimana indahnya kampus sebagai rumah sendiri, tempat berteduh kaum-kaum intelektual, ruang diskusi tanpa dibatasi waktu tapi itu dulu.

Hari ini, berbeda dari apa yang aku dengar dari senior.
Pewaktu menunjukkan pukul 12.10 Wita, menandakan jam pertama sudah selesai, saya keluar meninggalkan kelas menuju ke parkiran kampus hingga menunggangi motor bututku menuju ke kota untuk menjemput anak sekolah dasar.

Saya membawa anak SD itu pulang, lalu saya kembali ke kampus untuk mengikuti mata kuliah yang kedua hari itu. Jeda hanya 30 menit.

Begitu masuk di kelas saya duduk menerima materi dari dosen hingga waktunya selesai. Saat semua kuliahku selesai saya pergi ke kantor redaksi. Ya, koran kampus di mana dipenuhi dengan canda tawa.

Saat berkumpul semua masalah terlupakan karena ketika bersama, bak anak TK ketika kumpul di kantor redaksi hingga lupa waktu bahkan tak sadar waktu sudah Magrib.

Waktu terlalu begitu cepat saya keluar dari kantor redaksi menuju parkiran dan menunggangi motor bututku, saya menuju rumah.

Saat tiba di rumah, saya ganti pakaian, salat lalu, makan malam serta istirahat sejenak. Jarum jam menunjukkan pukul 20.00 Wita, saya segera bersiap-siap menuju kost teman.

Lalu kami bersiap menuju Lapangan Andi Makkasau dan beberapa titik yang biasa selalu ramai di Kota Parepare untuk penggalangan dana.

Saya bersama teman organisasi segera berangkat. Saya dan teman-teman berpisah untuk menjual bolu yang sudah di sediakan di kost.

Sudah larut malam jualan belum habis, saya beserta teman-teman tak putus semangat, saya pindah tempat untuk menjual bolu tersebut hingga habis.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.00 Wita, jualan sudah habis saya beserta teman-teman menuju kost. Saya harus bermalam di kost teman karena rumah jauh dari kampus.

Bukannya kami langsung tidur, saya serta teman-teman malah cerita, bercanda hingga tertawa lepas. Mungkin sudah lelah, ketawa menjadi pengantar tidur.(*)
Penulis adalah Mahasiswi Jurnalistik Islam IAIN Parepare

__Terbit pada
10 Juni 2021
__Kategori
ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *