Nursafika

Tegar dalam Balutan Duka

Oleh : Nursafika

Anti begitu ia disapa, sosok yang ramah, baik, dan penurut. Gadis berparas cantik dan aktif diberbagai kegiatan kampus.

Keluarganya antusias menerima perjodohan yang datang menghampiri gadis ayu itu. Kehidupan yang ia jalani cukup sederhana, dari keluarga sederhana pula.

Gadis asal Kabupaten Pinrang itu, melanjutkan pendidikan ke salah satu perguruan tinggi negeri yang terletak di Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Anti perdalam ilmu pengetahuan Ekonomi Syariah. Saat itu ia persiapkan diri menghadapi pembelajaran baru. Pada semester tiga, ia tekuni memperdalam ilmu pengetahuan yang diajarkan dosen di kampus.

Sama sekali tidak pernah sedikit pun terbesit dipikirannya, maupun menyadari bahwa dalam waktu dekat akan dipersunting oleh pemuda. Pemuda yang ia kenal sebagai teman dari salah satu saudaranya.

Perjodohan yang banyak dihindari khususnya kaum perempuan, bagi mereka itu bukan lagi pada zaman Siti Nurbaya, harus menerima perjodohan meski batinnya menolak keras akan hal itu.

“Ya, Saya dijodohkan!”

Usai melontarkan satu pertanyaan, pernyataan pun spontan keluar dari bibir yang tampak melebarkan senyum, dengan mata berbinar-binar, pipi mulai memerah naik seakan menyipitkan matanya.

Menandakan dirinya tengah tersipu malu untuk mengutarakan sesuatu yang menyelip dibenak, tapi itulah kenyaatan yang dialaminya.

Ia akhirnya melangsungkan saat dirinya masih menggeluti perkuliahan semester tiga. Tak membuat dirinya pesimis ataupun mengakhiri pendidikan yang kini ia tempuh.

Anti memilih melanjutkan dan terus menuntut ilmu pengetahuan yang akan berguna untuk masa depannya kelak.

Berharap selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan layak dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Sembari tetap memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.

“Saya lanjut kuliah, supaya ke depannya menjadi seorang yang berpendidikan dan punya masa depan untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan mampu membiayai hidup,” tuturnya.

Setelah menikah, ia kembali aktif mengikuti perkuliahan.
Menyandang status sebagai seorang istri sekaligus seorang mahasiswi di perguruan tinggi, bukanlah hal yang mudah untuk menjalaninya.

Semua itu tentu butuh penyesuaian dan pengertian dari dua belah pihak. Betapa beruntungnya, ia merasa bahagia menjalani hidup bersama laki-laki yang dikenal dari hasil perjodohan.

Laki-laki yang menjadi tumpuan hidup, begitu mengerti mengenai keadaannya tanpa pernah merasa tertekan dengan kehidupan setelah menikah.

Kebersamaan yang terjalin selama delapan bulan pasangan muda itu, kini menuai hasil dari penantian yang cukup melewatkan waktu.

Hasil pemeriksan USG, ia dinyatakan hamil. Mengetahui kabar tersebut, sontak mengubah suasana dan perasaan kala itu.

Pandagan syahdu berbinar-binar mengisyaratkan rasa syukur dan bahagia atas apa yang Allah Swt. Titipkan padanya.

Akan hadir buah hati di tengah-tengah hubungan mereka, kelak akan menambah keharmonisan dalam bahtera rumah tangganya.

Saat hamil muda, rutinitas ke kampus masih ia jalankan, dengan jadwal yang setiap minggu pastinya berbeda-beda.
Bahkan, dalam sehari terdapat dua sampai tiga mata kuliah yang harus ditempuh, dengan jam yang berbeda tentunya.

Mulai mata kuliah pertama, biasanya masuk lebih awal, ia menyelesaikan pekerjaan rumah dan berangkat ke kampus saat matahari pagi mulai menampakkan sinarnya.

Pada jadwal mata kuliah selanjutnya, masuk pada siang atau sore hari. Bahkan, saat matahari sudah hampir redup dan menghilang menyisahkan gelap, ia masih berada perjalanan menuju arah rumah dengan mengendarai sepeda motor miliknya.

Rasa lelah seharian berada di tempat menuntut ilmu, terbayar oleh kasih dan perhatian penuh yang diberikan sang suami selama ini padanya.

Seiring waktu, kuliah perdana kembali digelar. Saat itu, Anti kembali aktif dalam proses pembelajaran dengan mata kuliah baru pada semester kelima.

Kini usia janin yang mengisi rahimnya sudah mencapai dua bulan, hal itu juga sangat terlihat jelas dari fisik, tampak dengan ukuran perut mulai membesar yang menyempitkan pakaian dikenakannya.

Mengetahui usia kandungan sudah beranjak dua bulan, mengisyaratkan kebahagiaan dalam hubungan rumah tangga bersama laki-laki yang ia cintai dan menjadi tumpuan hidupnya.

Kurang dari dua bulan pula, hubungan yang terikat janji suci itu mencapai satu tahun. Artinya, sudah sepuluh bulan mereka resmi menjadi pasangan muda.

Sang pencipta pun berkehendak lain, dengan menyelipkan ujian padanya, berupa penyakit yang mengerogoti tubuh suaminya.

Laki-laki yang mengasihi dan selalu ada menjadi penopang hidupnya, mendapat vonis oleh dokter menderita gangguan Paru-paru.

Setelah beberapa minggu mendapat penanganan di rumah sakit, tak sedikitpun waktu terbuang untuk merawat orang yang dikasihinya.

Saat jadwal kuliah kian padat pun, ia tetap menyesuaikan. Saat ada jam kuliah, ia harus bergegas menuju ke kampus dari arah rumah sakit tempat suaminya dirawat.

Setelah proses pembelajaran selesai, ia kembali memantau keadaan dan selalu berada di samping suaminya.

Kebahagian yang selama ini dirasakan Anti dalam menjalani hidup bersama sang suami, seketika sirna bak ikut ditelan bumi.

Melihat orang yang dicintai terbaring lemah dengan wajah lesuh pucat. Isak tangis sontak meledak mengetahui keadaan suaminya itu tak dapat lagi menghembuskan nafas.

“Saat saya masih semester lima, beliau divonis dokter penyakit paru-paru, tidak lama kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ia sempat mengetahui saya hamil dua bulan,” ujarnya.

Gejolak dalam benak begitu mengusik hingga membuatnya tak mampu berpikir jernih lagi.

Duka mendalam begitu menyelimuti jiwa Anti, kepergian sang suami yang menyisahkan kenangan serta buah hati yang belum sempat mendapatkan kasih seorang ayah.

Melihat wajah ayahnya pun tak sempat lagi. Kenyataan pahit yang harus diterimanya, meracuni pikiran dan menimbulkan banyak tanya mengenai masa depan dengan janin yang ada di dalam perutnya.

“Bagimana nasib kami ke depannya?”

Ia sadar di sela-sela ujian yang Allah Sw. tunjukkan padanya, masih menyisahkan sebuah hadiah yang ada pada janin di dalam perutnya.

Anti bersyukur masih ada yang ia nantikan untuk mengisi kehampaan yang dirasakan setelah kepergian suami yang mengisi hari-harinya.

Setelah sepuluh hari kepergian suaminya, ia pun melakukan pengabdian masyarakat, dengan mengaplikasikan ajaran yang diperoleh selama menempuh pendidikan.

Selain itu, mengembangkan potensi dan menyalurkan hasil pikiran, serta menambah pengalaman maupun wawasan selama berada di lokasi pengabdian.

Dalam keadaan masih berselimut duka, ia tetap menjalankan apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang mahasiswi yang memiliki satu tujuan untuk mencapai apa yang ia inginkan. ia tidak mau terus terpuruk rasa sedih.

Selama tiga bulan dengan kondisi hamil muda, mampu ia lalui dengan baik disertai rasa percaya diri, tanpa ada yang mengusiknya sedikitpun. Semagat yang diberikan oleh pihak keluarga, tentu membuat dirinya begitu tegar melakukan semua itu.

“Setiap ke kampus selalu disemangati oleh teman,” ungkapnya.

Cobaan yang menghampiri, itu teralihkan dengan kesibukan melaksanakan kegiatan pengabdian.

Kesibukan semakin hari semakin menyita perhatiannya. Terutama mengurus sebuah laporan, hal itulah yang diharapkan dari pihak keluarga.

Menjelang kelahiran sang buah hati, ia mendapat teguran dari orang tua atas tindakan yang bisa saja dapat mencelakakan dirinya.

Orang tua menganjurkan, saat bepergian harus ada yang mengantarnya. Bahkan, ke kampus sekalipun, ia diantar oleh adik atau kakaknya menggunakan sepeda motor.

Tahun 2019, ia melahirkan buah hatinya. Lahir menggantikan dan menemani, serta menjadi penyemangat bagi wanita tangguh yang dicintai ayahnya.

Menginjak delapan bulan, tak terhitung lelah dan keringat membasahi tubuh, mengurus dan membesarkan anaknya. Itu terbayar saat suara tawa dan riang terdengar di telinga, menyapa benak yang kaku oleh drama hidup.

Setiap malam, setelah melahirkan ia mulai membiasakan diri bangun pada puncak malam yang sunyi, mengurus bayi tengah merintih agar kebutuhannya terpenuhi.

“Usia anak sekarang sudah delapan bulan, setelah melahirkan selalu didampingi orang tua dan martua,” katanya.

“Sampai sekarang, saya yang mengurus dan mencukupi kebutuhan anak, mencari rezeki dengan jualan secara online.”

Melihat peluang besar dari pekerjaan jualan secara online, ia pun mencoba menggeluti pekerjaan tersebut.

Berbagai produk ia pasarkan melalui akun media sosial miliknya, seperti pada akun Facebook dan WhatsApp.

Berbagai produk ditampilkan, agar menyita perhatian konsumennya. Mulai dari jualan sepatu, tas, kosmetik, gorden, dan pakaian.

“Berapa penghasilan yang diperoleh dalam satu bulan dari penjualan itu?” tanya Fika.

“Penghasilan yang diperoleh, tergantung dari banyaknya pembeli. Tapi kadang dapat Rp.500.000, Rp.600.000. Bahkan sampai Rp.700.000 setiap bulan tergantung minat pembeli,” jelasnya.

Butuh waktu yang cukup lama bagi Anti, memendam kesedihan untuk bisa melakukan aktivitas kesehariannya. Memulai hidup kembali, dan bekerja untuk membiayai serta mengurus anak semata wayang.

Namun, perkulihan tetap menjadi fokus untuk segera menyelsaikan jenjang pendidikannya. Berbeda dengan mahasiswi lain, kesehariannya sibuk membelanjakan uang dengan berbagai keperluan pribadi mereka.

Mahasiswi sekaligus ibu muda ini, lebih menyisihkan uangnya untuk bisnis yang ia tekuni. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan buah hatinya.

Sesuai apa yang diajarkan dalam agama Islam, bahwa Allah tidak akan menguji hambahnya di luar batas kemampuan mereka.

Kini ia sudah mampu menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya. Meskipun masih terbesit dalam benak, akan sosok laki-laki yang juga pernah menyemangatinya kala itu.

Sekian kalinya saya mengajukan pertanyaan, tiba-tiba pelupuk melelehkan air yang hampir saja jatuh, membasahi pipi saat menyampaikan hal yang selalu ia ingat tentang mendiang suami dan itu sangat mengesankan bagi dirinya.

“Kebaikan dan keramahannya kepada semua orang, membuat saya sulit melupakan tentang dirinya,” katanya.

Bangkit dari keterpurukan, kini Supianti hidup bersama jagoan kecilnnya, fokus menata masa depan yang akan menyapanya.

Kepergian suami sudah menjadi kehendak Sang Khalik, itu ia terima dengan lapang dada, karena semua akan kembali padanya. Terlebih saat ini, masih ada tugas penelitian yang menatinya untuk menyandang gelas sarjana. (*)

Penulis adalah Mahasiswi Jurnalistik Islam IAIN Parepare

 

__Terbit pada
9 Juni 2021
__Kategori
ESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *