Bagi Rapor

Rapor itu hanya Angka, bukan Penentu Sukses

Hari ini, Jumat, 4 Juni 2021,  sohib Tuan Guru mengundang orang tua dan anak didik datang ke sekolah, selain bahas perkembangan anak didik juga bagikan hasil belajar siswa selama satu semester.

Sohib Tuan Guru datang ke sekolah sesuai jadwal dibuat manajemen sekolah, mencegah kerumunan. Maklum statistik penularan Covid-19 masih tinggi.

Sohib menyambut anak-anak di area halaman sekolah di bawah pohon sejuk. Disediakan beberapa kursi dan meja, tentu tertata rapi.

Sohib Tuan Guru duduk di kursi sambil mengecek satu per satu rapor sebelum dibagikan. Siap melayani anak didik yang datang mengambil rapor.

Pewaktu sudah menunjukkan pukul 09.00, baru beberapa orang tua datang dan anak didik memenuhi undangan Sohib.

Di atas meja sebuah hand sanitizer disediakan, setiap anak didik atau orang tua diminta bersihkan tangan setelah tanda tangan berita acara pengambilan rapor.

Diskusi kecil antara guru dan anak didik soal pencapaian selama satu semester dan nasihat agar anak didik lebih giat belajar lagi.

“Ini rapornya selamat yah, nilainya bagus-bagus. Pertahankan, tetap giat belajar. Tak usah dipasang di media sosial,” nasihatnya.

Bagi yang nailainya biasa-biasa saja, tak usah kecil hati. Orang tua tak perlu marah-marah atau mengamuk. Setiap anak memiliki bakat dan kelebihan masing-masing.

“Nilai yang di rapor itu hanya deratan angka-angka saja. Bukan penentu kesuksesan,” kata Sohib Tuan Guru.

Sohib tidak menulis peringkat anak didik dirapor agar anak-anak bisa belajar dan berdiskusi bersama, tanpa ada merasa paling pintar.

Sohib mengaku, selama ini mendidik anak-anak secara berkelompok. Pecahkan masalah bersama-sama.

“Kami tidak mendidik anak bagaimana strategi bersaing menjadi yang terbaik secara individu, tapi belajar bersama, maju dan sukses bersama,” katanya.

Anak didik dibiasakan pecahkan masalah bersama-sama, sehingga tak ada yang merasa paling hebat, semua merasa berperan dan tidak baperan.

Bagi Tuan Guru, anak didik harus diajarkan bekerja secara tim, bukan individu agar kelak bisa membentuk tim terbaik menyelesaikan persoalan bangsa ini.

Anak-anak yang berhasil di masa depan, kata Sohib Tuan Guru, adalah anak yang diajar orang tua dan guru-guru luar biasa, bukan bergantung dari sekolah besar dan terkenal.

Guru berdedikasi dalam mengajar, menolong dan menguatkan anak didiknya. Anak didik yang memiliki empati tinggi, meneladani guru dan menjadikan guru sebagai role-model.

Tuan Guru mengajak, anak didiknya selalu  bersyukur dan berterimakasih kepada mereka yang telah mendidik, membimbing, dan memberikan ilmu dan nasihat selama tiga tahun.

Lulus dari sebuah sekolah bukan akhir. Tapi awal berjuang meraih kebahagiaan di masa depan.

“Jangan lupa selalu disiplin, menghargai guru-gurumu dan orang tua. Kesuksesan Anda berkat kerja keras dan doa orang tua hebat dan keikhlasan guru guru-guru hebat,” kata Tuan Guru. (*)

__Terbit pada
4 Juni 2021
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *