Massiara

Ramadhan berkah bagi semua. Saatnya berlebaran, melanjutkan kebaikan dengan sesama.

Bagi sebagian anak-anak, Lebaran menjadi berkah tersendiri. Mereka memiliki cara silaturahmi di hari fitrah.

Assalamualaikum, massiara, massiara, massiara. Meloka massiara (mau silaturahmi),” pekik sekelompok bocah di balik pagar.

Mendengar kata yang pelan nan ragu di balik pintu, tuan rumah bergegas buka pintu dan mengizinkan anak-anak itu masuk ke rumah.

“Mauka (mau) massiara,” kor menyampaikan tujuannya.

“Silakan masuk, mari makan Nak. Sila ambil sendiri,” pinta tuan rumah agar menikmati hidangan khas lebaran tersaji di meja makan.

Tapi ajakan tuan rumah ditolak. Anak-anak itu dengan polos, mereka jawab.”Uangmo Puang.”

Tuan rumah pun memberikan uang yang dibagi secara adil kepada anak-anak yang datang Massiara.

“Terima kasih Puang,” katanya, sambil salaman dan mencium tangan tuan rumah. Lalu pamit dengan sopan.

Bagi orang dewasa, massiara, seolah-olah sudah menjadi agenda wajib. Penyambung tali silaturrahmi dengan keluarga, tetangga, dan sahabat di hari fitrah.

Lebaran saat ini, cukup berkirim kartu lebaran dan video berisi permohonan maaf via media sosial. Warga dilarang mudik, cegah penyebaran Covid-19.

Bagi pejabat dan “orang besar”, biasanya mereka open house. Tapi suasana pandemi Covid-19 acara biasa dihadiri warga itu urung digelar.

Ramadhan telah berakhir, kita menyambut Syawal dengan fitrah. Saatnya melanjutkan kebaikan yang telah disemai dan merawat ladang pahala.

Idulfitri, waktu paling afdol meminta dan memberi maaf atas kesalahan telah diperbuat.

Semoga kita dipertemukan Ramadan berikutnya agar bisa menebar kebaikan.

****
Mari kita bercermin pada diri sendiri, sebelum ibadah kita dihisap, kelak

Jangan gadai amalan Ramadan dengan sifat ketidakjujuran. Berkata dan berbuat jujur memang sulit. Terkadang orang di sekitar kita menjadi marah.

Kejujuran memang kadang tidak memberikan dan menjajikan kemewahan, tapi selalu memberi kedamaian hati.

Sikap jujur, bukan menjadi pedoman utama sebagian umat, tapi kejujuran selalu memberi kenikmatan hidup.

Sikap jujur tak selalu berakhir indah, tapi jujur selalu diujikan dan diamalkan.

Jujur kerkadang terasa susah, tapi bisa diamalkan. Sifat jujur janganlah lekang.

Berkata benar muka belakang, jujur harus ikhlas, agar hidupmu tidak kecewa (Gus Mus).

Puasa orang beriman diterima, jika mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan.

Di hari fitrah, kita akan mendapatkan penghargaan yang luar biasa. Yakni rahmat, magfirah, dan ampunan.

Penghargaan itu diuji setelah Ramadhan, yakni meningkatnya kesalehan individu dan sosial.

Hari fitrah, tempat marajut tali silaturahmi. Selama Ramadhan, kita sukses melawan nafsu duniawi, mengerjakan yang halal.

Semoga setelah Ramadhan, hal-hal yang dilarang atau haram tidak dikerjakan.

Idulfitri sebagai ajang merefleksi diri agar mendekatkan diri kepada Allah. Mampu mengasa kepekaan sosial di tengah-tengah masyarakat.(*)

__Terbit pada
13 Mei 2021
__Kategori
Culture, Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *