Berempati

Anak menolong temannya yang terjatuh (Foto: iStock dikutip dari haibunda.com)

Kisah ini, terjadi sebelum Korona mewabah, saya edit beberapa bagian. Tulisan ini menceritakan seorang anak yang masih duduk di bangku SMP, meringis kesakitan.

Sebut saja Bunga, wajahnya pucat, sesekali memegangi perutnya, kepalanya ia baringkan di atas meja.

Tangannya memegang perut, di wajahnya jelas terlihat ia meringis kesakitan. Bunga menahan sakit setelah menjalani dua kali operasi di bagian perut.

Tetapi, Bunga tetap bersemangat mengikuti pelajaran di pagi itu. Keluh kesah Bunga membuat temannya sebayanya sebut saja Mawar, prihatin melihat temannya menahan rasa sakit.

“Maaf Pak, dia (Bunga) sakit. Kambuh lagi sakit perutnya, pernah dioperasi,” katanya menyampaikan ke guru yang mengajar pagi itu.

Guru mendekati bunga dan menanyakan kondisi kesehatan anak didiknya. “Sakit sekali perutku pak,” katanya meringis kesakitan, sambil memegang perutnya.

Guru pun meminta tolong kepada teman sejawat dan satpam sekolah agar diantar ke rumahnya. Bunga terus meringis menahan kesakitan.

“Pak minta tolong, kalau bisa diantar ke rumahnya,” kata seorang gurunya dari lantai dua gedung itu, sambil menunjuk ada anak yang sakit.

Keduanya tidak bersedia mengantar dengan berbagai alasan. Saat itu, teman sejawat sedang asyik bercengkrama dengan seorang pegawai yang sedang bekerja perbaiki tempat parkir.

Menolak permintaan teman sejawatnya, ia beralasan sedang mengajar juga.

“Saya juga mengajar pak, ” katanya sambil meninggalkan pegawai yang sedang perbaiki tempat parkir di sekolah itu.

Satpam yang mengenakan baju putih tanpa lambang itu juga menolak mengantar anak yang sedang sakit.

“Saya tak bisa,” jawabnya, sambil memainkan hp android yang berwarna putih di sebuah pos jaga.

Mendengar penjelasan itu, guru yang telah menjalankan proses belajar mengajar selama 40 menit di kelas itu meninggalkan kelas yang berisi 28 peserta didik.

Kemudian, mengantar anak didik itu ke rumahnya yang berjarak kurang lebih 1 kilometer dari sekolah.

Lima menit kemudian, tiba di rumah anak yang kesakitan, guru disambut orang tuanya.

“Kenapa, sakit lagi perutmu,” tanya orang tuanya, Bunga hanya mengangguk sambil menaiki tangga rumahnya dibantu ibunya.

Guru yang mengantar yang menyampaikan agar Bunga istirahat saja dulu. “Nanti sehat Pak baru ke sekolah.”

“Tapi, gurunya sampaikan ke kami Pak, jangan terlalu lama istirahat, nanti ketinggalan pelajaran,” katanya orang tua Bunga menanggapi pernyataan guru yang mengantar anaknya.

Cerita ini, mengajarkan kita saling membantu sesama. Semua agama menganjurkan kita agar saling tolong-menolong dengan sesama manusia.

Saling menolong memberikan keringanan pekerjaan satu sama lain akan perkuat rasa kasih sayang di antara sesama.

Menolong sesama menciptakan sikap rasa saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat di antara individu dan komunitas, serta menjaga keutuhan umat.

Rasulullah Saw telah mencontohkan kepada umatnya, seperti yang diriwayatkan Umar Bin Jabir.

“Sangat berbahagia apabila umatnya memberikan pertolongan, menolong, serta menjamin kekurangan ekonomi sesama.”

Kisah diriwayatkan ‘Umar Bin Jabir, itu suatu hari, pada waktu tengah hari Umar Bin Jabir sedang beristirahat santai bersama dengan Rasulullah, datanglah satu kaum dengan keadaan ekonomi yang lemah, teramat miskin.

Ia tak mampu memenuhi kehidupan sehari-hari di mana pekerjaan mereka adalah sebagai pemburu.

Rasulullah berempati kepada kaum tersebut dan saat itu, wajah beliau berubah. Tampak kesedihan dan menolong orang yang butuh pertolongan.

Pelajaran hari ini adalah beruntunglah kita, ketika masih ada yang meminta bantuan kepada kita, suatu saat kita juga akan minta pertolongan kepada orang lain.

Sejak lahir kita butuh bantuan orang lain mulai lahir sampai dewasa selalu dibantu dibantu orang lain. (*)

__Terbit pada
9 Mei 2021
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *