Puasa dan Implikasi Sosio-kultural Medsos

Oleh : Mahyuddin, MA

Digital Civility Index (DCI) merilis sebuah hasil survei pada awal Maret lalu, menempatkan netizen Indonesia sebagai pengguna media sosial (medsos) paling tidak sopan se-Asia Tenggara.

Masyarakat kita seolah tidak mampu lagi pertahankan sistem normatif budaya bangsa yang beradab.

Mengikuti perkembangan media sosial di lini masa, tamparan survei itu memang benar adanya.

Netizen kita memang begitu enteng berkomentar kurang sopan saat berselancar di dunia maya.

Percaturan komunikasi sosial warganet di media sosial memang ada sebagian pengguna medsos yang doyan berkomentar negatif dan membully hingga menyerang akun-akun pribadi.

Kondisi sangat miris dan sulit diterima tetapi itulah kenyataannya. Sebagian netizen kita kadung senang mencemooh, mengumpat bahkan berkomentar tak senonoh di medsos.Lalu pertanyaannya apa hubungannya fenomena sosial di atas dengan aktivitas puasa kita?

Patologi Medsos dan Tantangan Kualitas Puasa

Puasa secara harfiah mempunyai arti “menahan diri” dari kehendak nafsu mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari.

Tidak saja makan dan minum, tetapi juga menahan diri melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma agama seperti melakukan dusta, berbuat zholim maupun menebar permusuhan di antara manusia.

Di sini terlihat bahwa puasa tidak saja perihal menahan lapar dan dahaga namun memiliki makna lebih luas dari itu.

Puasa sarat dengan dimensi sikap ketaatan termasuk menjauhi segala larangan. Karenanya, perlu kehati-hatian dalam bertindak. Tidak terkecuali dalam bermedia sosial.

Memasuki wilayah kebudayaan masyarakat digital, kita dihadapkan dengan berbagai tantangan realitas-realitas baru yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Transformasi media yang telah membawa masyarakat pada situasi keterbukaan dan kebebasan ternyata menggiring sebagian dari kita untuk menampilkan wajah yang absurd, meminjam istilah Idi Subandi Ibrahim.

Impresi media telah merubah tatanan sosial kita lantaran sering dimuati dengan tindakan yang kadang-kadang penuh ironi, ambigu bahkan kontradiktif.

Proses sosial di atas merupakan konsekuensi logis dari modernitas. Benar kata sosiolog posmodern Anthony Giddes, bahwa modernitas memang selalu membawa resiko sosial.

Baginya, modernitas bagai pedang bermata dua. Tidak hanya membawa pengembangan baik yang positif namun juga membawa dampak negatif tersendiri.

Dalam konteks ini, berkembangnya teknologi dalam wajah masyarakat informasi saat ini, secara tidak langsung memengaruhi dimensi sakralitas agama masyarakat.

Puasa misalnya, proses ritualitas puasa kita sedikit banyak berkelabat dalam kecepatan di dunia maya.

Sebagian waktu berpuasa kita bersentuhan dengan media baru di mana hampir setiap saat kita menjelajah dunia ontologi citra bernama media sosial.

Di sana, jika kita memberi komentar negatif, mengunggah hoax, membuat meme atau parodi yang menyinggung atau menyakiti orang lain, atau melihat hal-hal yang tidak pantas, maka hal ini pada akhirnya memengaruhi kualitas ibadah kita.

Tentu kita tidak menafikan sisi baik dari media sosial. Dengan media sosial kita juga bisa mengakses ceramah-ceramah keagaman dan hal-hal positif lainnya.

Akan tetapi, fenomena destruktif di atas merupakan bagian dari kecenderungan umum gelagat pengguna medsos di abad ini.

Di saat yang sama kita telah dikepung dan dicekcoki oleh aura budaya visual yang bisa menggerus substansi ritual keagaman kita.

Pada akhirnya kegiatan ritual keagamaan tersebut menjadi tidak bermakna apa-apa jika tidak berhati-hati dalam bermedia sosial.

Berbagai keacuhan moral yang ada dalam media sosial tempat kita berselancar, secara tidak langsung mengontaminasi nilai sakral ibadah puasa tatkala kita tenggelam dan terbawa arus olehnya.

Puasa sebagai Pertahanan Diri

Dalam konteks implikasi sosio-kultural media yang memang kadangkala sarat dengan risiko, khususnya risiko terperangkap di dalam kontradiksi-kontradiksi yang dapat merusak kualitas puasa kita.

Penting bagi kita untuk menahan diri tatkala bermedia sosial. Di sinilah pentingnya intensifikasi budaya literasi bermedia.

Kita tidak hanya berupaya untuk tetap mengokohkan kualitas ibadah saat berpuasa, tetapi juga bagaimana menjelaskan kepada umat bahwa rembesan bermedia sosial yang tidak mampu menahan diri dari hal-hal kurang bermanfaat sesungguhnya dapat menggerus nilai sakralitas ibadah kita.

Persoalan internal yang cukup krusial dari umat Islam adalah bagaimana membangun kesadaran literasi yang baik dalam bermedia.

Untuk itu, sangat perlu menyelami makna puasa dalam kerangka implikasi media sosial, yakni yang tidak kalah perlu menjadi fokus adalah memahami segala bentuk tendensi patologi media di tengah dinamisasi perubahan masyarakat.

Ya, bulan puasa merupakan momentum berharga untuk memulai menghindari ujaran kebencian di media sosial dan pada saat yang sama kita mulai mengendepankan etika dan menjaga norma serta nilai sopan santun.

Suka tidak suka. Kita harus menerima kenyataan bahwa media (khususnya media sosial) saat ini ada banyak kontradiktif bermunculan yang saling bertentangan.

Sebagaimana diungkapkan pemikir kebudayaan kontemporer Indonesia Yasraf Amir Piliang, bahwa media informasi datang membawa moral sekaligus imoral, kebaikan sekaligus kejahatan, kebenaran sekaligus kepalsuan.

Di sinilah puasa hendaknya menjadi pintu masuk untuk berproses menerapkan hakikat menahan diri yang dijiwai oleh semangat berpuasa.

Kita perlu menyadari bahwa dalam berpuasa, kita dituntut untuk memperbanyak perbuatan-perbuatan baik sekaligus juga menghindari perbuatan-perbuatan buruk di mana nilai-nilai spritualitas

Puasa hendaknya menjadi kekuatan integratif dalam memulai membangun “budaya bijak” dalam bermedia.

Pada titik ini, makna puasa perlu ditarik pada ranah bagaimana menghindarkan diri dari segala efek buruk bermedia sosial dengan mengelakkan hal-hal yang tidak etis di dunia maya.

Jika kita mampu melakukan itu. Ini juga tak lebih dari praktik berpuasa yang sesungguhnya. Tidakkah kita sadari bahwa puasa telah memberikan pegangan moral dan etik terhadap hal-hal yang unfaedah?

Nilai-nilai puasa bisa menjadi pertahanan diri di dalam menghindari dampak dari kerancuan, tumpang tindih dan benturan aneka realitas media sosial yang kita saksikan.

Dalam praksisnya, kita memang perlu bergerak mengimplementasikan makna puasa secara holistik.

Ketika interaksi sosial kita menjadi semakin luas tanpa batas, barangkali tidaklah berlebihan jika puasa juga idealnya diarahkan pada “relasional bermedia”.

Di sana perlu “menahan diri” saat berhadap-hadapan dengan realitas media yang kompleks itu.

Mengapa? Jangan sampai hanya karena hasrat ingin menjajal suguhan informasi di media sosial, lantas kita mudah tersulut emosi di segala penjuru, oleh cuitan Twitter sepele, oleh postingan yang menghasut di grup-grup media sosial, atau pun sekedar oleh meme yang bercanda.

Dengan demikian, hendaknya setiap penglihatan, lisan-lisan hinga jari jemari kita turut berpuasa.

Semoga kita semua tidak termasuk dengan apa yang pernah disabdakan Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam.

“Betapa banyak orang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga”. (*)
Penulis adalah Dosen Sosiologi Agama IAIN Parepare

__Terbit pada
3 Mei 2021
__Kategori
Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *