Masjid Jogokariyan, Yogyakarta

Kas Nol Rupiah, Jamaah Sejahtera

Hari ini, Rabu, 7 April 2021, Tuan Guru, menjamah media sosial dan portal berita nasional . Tuan Guru temukan postingan masjid dengan kas Rp 0. Tapi jamaah sejahtera. Waw… Luar biasa.

Masjid kas Rp 0 itu diposting akun Facebook (Fb) Sufriyantini dan dibagikan sohib Tuan Guru, akun Fb Alnaida Adam.

Tuan Guru tratapan seketika. Ya, pengelola Masjid Jogokariyan berada di Jalan Jogokaryan Nomor 36, Mantrijeron, Kota Yogyakarta itu memiliki gagasan menarik, patut diacungi jempol.

Berbeda dengan masjid lainnya. Bukan bermaksud membandingkan yang lain. Tapi bisa menjadi contoh yang baik. Tuan Guru, mengedit sebagian tulisan itu.

Setiap hari Jumat, masjid pada umumnya mengumumkan jumlah saldo jutaan, puluhan juta, bahkan ada ratusan juta.

Manajemen Masjid Jogokariyan berupaya agar setiap pengumuman saldo infak Rp 0.

Mereka beralasan infak dan sedekah ditunggu pahalanya, bukan disimpan di rekening bank.

Bagi pengelola masjid, pengumuman infak jutaan bisa melukai tetangga masjid yang tak bisa ke rumah sakit karena tak cukup biaya.

Jika pengelola masjid yang melukai jamaah merupakan tragedi dakwah. Pengumuman saldo infak Rp 0, jamaah bersemangat amanahkan hartanya.

Masjid ini sejahterakan warganya dengan fasilitas yang dimiliki, seperti wifi gratis, ruang olahraga, dan fasilitas lainnya. Saat Ramadan, 5.000 piring nasi setiap hari selama satu bulan.

Masjid juga sanggup mengover warganya yang sakit dengan membawa Kartu Sehat Mesjid ke rumah sakit dan klinik manapun di Yogyakarta.

Memberi hibah umrah bagi jamaah yang istiqomah salat subuh di masjid.

Kini, Masjid Jogokariyan jadi percontohan masjid yang makmur di seluruh Indonesia.

Masjidnya berlokasi di tanah wakaf 700 meter persegi, bangunan tiga lantai, mampu sejahterakan jamaahnya

Takmir masjid berusaha gembirakan masyarakat dan membuat mereka mau bersujud dengan berbagai cara yang syar’i.

Setelah mereka mau datang ke masjid, harus dibuat nyaman dan diisi dengan taklim-taklim ringan.

Bagi jamaah yang belum berjamaah ke masjid atau belum salat dibuat undangan, seperti pernikahan dan disediakan makanan di masjid saat acara salat jamaah.

Makanan ditawarkan pada jamaah yang mau menjadi donatur untuk mentraktir makanan.

Kas masjid tidak pernah besar bahkan targetnya adalah Rp 0 (nol) tiap akhir bulan.

Kas masjid yang besar tanda takmir tidak bisa mengelola infak dan sedekah jamaah menjadi pahala yang segera mengalir ke penginfak. Masjid ini juga menyiapkan 500 – 1000 nasi bungkus tiap Jumat , dana swadaya jamaah.

Miliki divisi usaha penyewaan kamar penginapan di lantai tiga masjid untuk membayar petugas kebersihan dan tambahan operasional masjid.

Tidak ada gaji untuk takmir kecuali petugas kebersihan. Gaji dari Allah tidak ada maksimalnya, sementara gaji manusia ada minimumnya (UMR).

Jika masjid dikelola dengan benar dan dipercaya jamaah, maka dana-dana infak dan dari donatur sangat mudah didapat, termasuk untuk donatur makanan dan lainnya.

Jika kas masjid banyak justru jamaah malas menyumbang, tapi jika sedikit mereka akan tergerak dan berlomba-lomba berinfak.

Masjid itu milik Allah (QS AlJin: 18) sehingga rezeki masjid akan dijamin oleh pemilik masjid (Allah) dan takmir hanyalah pelayan umat (jamaah)

Di akhir postingan pemilik akun mengajak netizen membagikan tulisan itu agar bisa dijadikan contoh para takmir masjid mengelola masjid. (*)

__Terbit pada
7 April 2021
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *